Senja di ufuk barat mulai menampakkan warna
indahnya,gelak tawa anak – anak yang mau bersiap ke musholla pun mulai
terdengar seperti nyanyian malam, orang – orang mulai menutup pintu dan
jendelanya agar sang angin malam yang dingin tidak sampai ikut menyapa. Adit
mulai menyeka peluh yang ada dikeningnya, sambil tersenyum kecut dia membuka
laci kecil yang ada digerobak bakso dorongnya.
“Alhamdulillah untuk hari ini lumayan” gumamnya di dalam hati.
Adzan
magrib pun mulai berkumandang, sambil memasukkan uang hasil jualan bakso hari
ini ke dalam kantongnya bergegaslah Adit dengan gerobaknya menuju sebuah
musholla yang ada di kampung tersebut. Sesampainya disana, Adit langsung
mengambil air wudhu dan ikut shalat magrib berjamaah.
Setelah
selesai shalat. wirid dan doa lalu shalat sunat ba’diyah magrib, Adit tidak
langsung pulang dia kemudian memperbanyak dzikirnya, karna dengan mengingat
Allah-lah maka hati kita akan menjadi tenang, begitulah salah satu arti ayat
yang terdapat di dalam kitab suci Al-Qur’an (Ar-Ra’d : 28).
Setelah
hampir 20 menit Adit hanyut ke dalam kekhusyuan dzikirnya kepada Allah, lalu
orang – orang mulai kembali berdatangan menuju musholla itu untuk bersiap
melaksanakan shalat isya berjamaah.
Adzan
untuk shalat isya pun dikumandangkan, yang menandakan bahwa waktu untuk shalat
isya telah masuk. Adit kembali berdiri lalu bergegas mengambil air wudhu lalu
melaksanakan shalat sunat qabliyah isya 2 rakaat dan kembali dzikir sembari
menunggu iqamah dikumandangkan.
Shalat
isya pun sudah ditunaikannya, wirid, doa dan shalat sunat ba’diyah isya pun
begitu juga, namun Adit masih betah untuk menyendiri dipojok musholla tersebut
untuk kembali melanjutkan dzikirnya. Tidak berapa lama berdzikir, ada sebuah
sms masuk ke handphone Adit.
“Sayang
kamu dimana ? masih jalan kah ?” bunyi sms tersebut, ternyata itu dari Rini,
istrinya Adit yang selama ini dengan setia menemani kehidupan Adit baik suka
maupun duka.
“Lagi di
musholla di kampung sebelah sayang tadi habis shalat isya, sebentar lagi aku
pulang” balas Adit untuk menenangkan hati istrinya yang mulai khawatir.
“Baiklah
sayang, anak – anak sudah menunggumu sayang dan makan malam sudah aku siapkan” balas istrinya dari seberang.
Adit
pun segera bangkit dan bergegas menuju gerobak dorongnya, tak sedikitpun lelah
tersisa diwajahnya setelah melaksanakan shalat magrib dan isya lalu ditunggu
oleh keluarganya dirumah. Adit pun mendorong dan membawa pulang gerobak
baksonya yang hari ini terjual habis sebagaimana hari – hari biasanya, Adit
membatasi penjualan baksonya hingga sampai menjelang magrib saja, habis ataupun
tidak dia akan langsung pulang ke rumah, walau bagaimanapun Adit tidak ingin
kehilangan momen – momen terindah bercengkrama bersama istri dan kedua buah
hatinya saat malam menyapa. Dia tidak ingin kesibukannya sebagai penjual bakso
keliling membuat dirinya melupakan bercengkrama dengan keluarganya, seperti
yang pernah dialami oleh kehidupan Adit dahulu ketika kedua orangtuanya sibuk
bekerja dari pagi sampai malam hari sehingga tidak sempat melihat bagaimana
perkembangan Adit dan adik – adiknya.
Setelah
shalat dzuhur Adit biasanya mulai berjalan mendorong gerobak baksonya untuk
menjajakan dari satu kampung – ke kampung lainnya, sudah hampir 5 tahun
pekerjaan ini dia lakoni dan Alhamdulillah banyak warga kampung yang menjadi
langganan tetapnya setiap hari, karena selain racikan bumbu dan bakso buatan
sang istri yang sungguh tiada duanya, Adit juga dikenal sebagai orang yang
ramah kepada setiap pembelinya, tidak jarang kadang pembeli memberi uang tip
lebih kepada Adit hanya karena makan sambil ditemani ngobrol oleh Adit.
Langkah
Adit tidak terasa sudah mengantarkan dia dan gerobak kebanggaannya di depan
rumahnya, rumah minimalis bertype 36 ini dibeli Adit atas hasil kerja kerasnya
selama ini berjualan bakso keliling, kecil memang tapi di dalamnya terpancar cahaya
kesyukuran dan kebahagian yang komplit sangat berbeda jauh ketika Adit dahulu
masih kecil rumah besar yang mewah namun tidak tergambar kebahagiaan di
dalamnya. Setelah memarkirkan gerobak dan mengikatnya ditiang di depan
rumahnya, Adit pun langsung masuk ke rumah.
“Assalamualaikum”
“Wa’alaikumsalam” sahutan dari dalam rumah.
“Ayaahhhhh” Kedua anak Adit langsung memeluknya dengan
erat.
Adit
pun langsung memeluk mereka berdua dengan erat pula dan terus menciuminya satu
persatu. Sungguh kebahagiaan yang luar biasa didapat Adit ketika dia pulang
lalu disambut pelukan hangat dari kedua buah hatinya.Kedua anak Adit tersebut
masing – masing bernama Maya yang besar dan berumur sekitar 4 tahun dan Intan
yang paling kecil berumur 2 tahun, Adit sangat menyayangi keduanya, sebelum
berangkat biasanya Adit menciumi anaknya satu – satu dengan penuh kehangatan.
Kedua anaknya inilah penghapus lelah dan letihnya setelah berjualan bakso
keliling.
“Eh ayah sudah pulang, makan malam sudah aku
siapkan ayo kita makan sama - sama” ajak istrinya dari dalam.
Adit
pun langsung menggendong kedua anaknya sambil menuju meja makan. Saat – saat
seperti inilah yang menjadikan hidup Adit menjadi lebih hidup. Namun di atas
semua itu pula, perasaan pilu juga terus menghampiri hati Adit, dia memikirkan
bagaimana nasib – nasib ibu dan adik – adiknya sepeninggal ayahnya yang sekarang
masih berada dibalik jeruji besi akibat tersangkut kasus korupsi.
Setelah
selesai makan malam, sambil mengistirahatkan perut Adit menyandarkan pundaknya
pada sebuah bantal yang ditempelkan ke dinding, dengan mata berkaca – kaca dia
lihat kedua anaknya yang sedang mau ditidurkan oleh istrinya, kenangan tentang
kehidupan masa lalunya pun kembali membuncah difikirannya.
***
7
Tahun kebelakang, kehidupan Adit tidaklah sesederhana ini, sebagai anak dari
seorang anggota DPR dan pengusaha yang terkenal di daerahnya Adit memiliki
kehidupan yang serba berlebihan, apapun yang dia dan adik - adiknya minta pada
ayahnya dengan senang hati dikabulkan.
Adit
adalah anak tertua dari 3 bersaudara, kedua adiknya perempuan yang pertama
bernama Amelia dan yang bungsu bernama Ratna. Ayah mereka Abdulghafur Salim
adalah seorang anggota DPR dan pengusaha pertambangan batubara dan perkebunan
sawit kondang yang terkenal di daerahnya dahulu, setiap jengkal tanah yang ada
di daerahnya dulu tidak ada yang tidak dimiliki ayahnya.Sedangkan ibunya, Sri
Handayani adalah seorang sosialita dan pimpinan cabang sebuah bank swasta
terkenal pula di daerahnya.
Mereka
hidup dalam keberlimpahan harta yang melimpah ruah, rumah mereka pun dibangun
bak istana dongeng yang di dalamnya terdapat kolam renang,taman bermain mini,
dan ada lapangan untuk bermain bulutangkis. Di halaman depannya ditumbuhi
berbagai macam jenis pepohonan yang rindang sangat asri bila terlihat dari
luar. Pagar setinggi 2 meterpun menjadi benteng utama rumah tersebut dengan
balutan hiasan khas timur tengah dengan berbagai lampu warna warni yang
menghiasinya.
Dari
kecil sampai beranjak remaja, Adit dan adik – adiknya sangat dimanjakan oleh
orang tuanya yang memang memiliki kelebihan uang. 7 tahun lalu Adit baru lulus
sekolah SMA dan berencana ingin melanjutkan kuliahnya di negera kanguru,
Australia, karna itu sudah menjadi impiannya sejak lama.
Impian
Adit untuk bisa bersekolah diluar negeri itu bukanlah perkara sulit untuk
dikabulkan oleh orangtuanya, tak perlu harus mencari beasiswa untuk sampai
kesana hanya perlu berbicara dan meyakinkan ayahnya sudah cukup untuk
memberangkatkan Adit ke negara mana yang ingin ditujunya.
Suatu malam,Adit menyampaikan keinginannya
untuk bisa kuliah diluar negeri.
“Adit, Kenapa kamu belum tidur nak ?” tanya ayah Adit yang baru
pulang dari kantornya dan melihat Adit yang lagi selonjoran diruang santai
sambil menonton televisi.
“Iya ayah,Adit sengaja nungguin ayah. Ada yang
mau Adit bicarakan dengan ayah” kata Adit membuka pembicaraan, kebetulan dia
bela – belain menunggu ayahnya pulang hampir jam 01.00 dinihari.
“Kamu mau membicarakan masalah apa nak ?” tanya ayahnya.
“Mengenai keinginan Adit yang kemarin”jawab Adit penuh tanda tanya.
“Jadi kamu yakin mau berangkat kesana nak ?”tanya ayahnya lagi.
“Insya Allah yakin yah, inilah impian Adit
selama ini, Adit ingin belajar hidup lebih mandiri lagi ayah, Adit ingin lebih
berkembang lagi.” jawab Adit dengan penuh semangat.
“Apakah kampus – kampus di dalam negeri tidak
ada yang menarik perhatianmu nak ?” ayah Adit mencoba meyakinkan Adit kembali.
“Untuk saat ini tidak ada ayah, Adit sudah
browsing di internet mengenai kampus – kampus yang ada di negeri kita ayah, dan
tidak ada satu pun yang bisa menarik perhatian Adit”
“Ya sudah kalau begitu kapan kamu mau berangkat
untuk mendaftar ?”
Ayah Adit tanpa basa basi langsung menanyakan
perihal keberangkatannya.
“Rencananya besok lusa ayah” jawab Adit mantap.
“Ya sudah, sekarang kamu tidur sana, besok kamu
langsung pesan tiket buat kesana yah, nanti uangnya ayah transfer ke rekening
kamu”kata
ayah Adit lagi.
***
Sudah
hampir 6 bulan Adit berada di Australia untuk kuliah menimba ilmu, meskipun
dipisahkan jarak yang jauh namun orangtua Adit tetap memastikan agar anaknya
bisa mendapatkan sesuatu yang terbaik baik itu fasilitas maupun kebutuhan
lainnya.
Di
Australia Adit dibelikan sebuah apartemen yang dia tempati sendiri, lalu untuk
sarana transportasi Adit dikirimkan sebuah mobil sport merk BMW keluaran
terbaru.Setiap 1 atau 2 bulan Adit pasti mendapat kunjungan dari orangtua dan
adik - adiknya baik untuk sekedar menengok Adit, jalan – jalan, maupun urusan
bisnis, tapi kedua orangtuanya tidak sampai lebih dari 1 minggu berada disana
dan merekapun harus cepat balik lagi ke Indonesia karna tugas – tugas yang
harus dijalankan oleh keduanya.
Kesepian
yang melanda hati Adit setiap kali keluarganya pulang kembali ke Indonesia
membuat Adit mencari pelampiasan, sehabis pulang kuliah, malamnya Adit berpesta
di klub – klub malam dengan teman – teman bulenya, Adit yang dulu anak baik dan
manja perlahan - lahan sekarang mulai berubah 180 derajat ditambah dengan
kehidupan yang jauh dari pantauan keluarga membuat Adit merasa menjadi manusia
yang paling bebas dimuka bumi, kadang dia berdugem ria sampai subuh dan tidak
jarang pula harus tidur dirumah temannya dan akhirnya tidak kuliah karna
ketiduran disana.
Hampir
6 bulan kehidupannya dihabiskan dengan berpesta dari tempat satu ke tempat
lainnya. Sampai pada suatu hari, ada sebuah kabar mengejutkan dari keluarganya
di Indonesia yang membuat Adit tersentak bak disambar petir disiang bolong.
Pertama sms masuk dari adiknya Amelia yang
berbunyi :
“Bang
Adit cepat pulang !!! ayah kena kasus bang”
Adit
yang menerima sms tersebut sontak merasa bingung kasus apa yang menimpa ayahnya
sehingga harus memintanya pulang ke tanah air. Tanpa pikir panjang Adit pun
segera menelpon balik ke handphone adiknya yang berada di Indonesia.
“Halo
amel, kenapa kamu sms abang seperti itu ? apa yang sebenarnya terjadi” tanya Adit kebingungan kepada
adiknya.
“Maafkan
amel bang, tapi ini berita penting” jawab amel diseberang telepon.
“Berita
penting apa ? ayah kena kasus apa mel ?” Adit mulai penasaran.
“Tadi
siang ayah dijemput KPK bang, katanya ayah kena kasus penyuapan sengketa lahan,
sekarang ayah ditemani ibu ada dikantor KPK” jawab Amelia dengan nada suara yang terbata –
bata.
“Apa ???
dijemput KPK ???” Adit mulai tak percaya.
“Iya
bang, ini sudah ramai diberitakan di tv, bang cepat pulang bang Amel takut” Amelia mulai menangis.
Adit mulai termenung lalu tanpa disadarinya air
mata membasahi pipinya.
“Iya
mel, tungguin abang langsung pulang nih, paling lambat besok abang sudah di
Indonesia”
“Amel
baik – baik disana yah, suruh mang diman jangan bukain pagar kalau ada wartawan
yang datang, Amel di rumah aja sama Ratna jangan kemana – mana. Tunggu abang !”
Adit
mencoba menenangkan hati adiknya.
“Iya
bang, amel tunggu yah, Assalamualaikum” Amel langsung menutup telponnya.
“Wa’alaikumsalam”
jawab
Adit.
Airmata
Adit pun keluar semakin deras, di dalam kepalanya mulai membayangkan hal – hal
yang memalukan yang akan diterima keluarganya, cercaan, makian dan hujatan dari
berbagai kalangan bakal siap singgah menghampiri kehidupan keluarganya,
dibayangkan Adit pula Amelia adiknya yang duduk dikelas 3 SMU dan sebentar lagi
akan menghadapi UN lalu adiknya yang bungsu Ratna yang baru kelas 2 SMP
bagaimana mereka harus menanggung malu dihadapan teman – teman satu sekolahnya.
Cobaan
ini memang terasa menyesakkan dadanya,dia tidak percaya kalau ayahnya yang
selama ini dia banggakan sebagai seorang pengusaha kaya dan anggota DPR pula
bisa berbuat sehina itu.
Akhirnya
dengan sedikit tergopoh – gopoh Adit pun pergi mencari sebuah café yang
menyediakan layanan internet gratis dan membuka beberapa situs pemberitaan di
tanah air, dan ternyata benar, rata – rata memberitakan tentang ayahnya yang
seorang pengusaha sukses dan anggota DPR ditangkap oleh KPK.
Adit
pun menghela nafas panjang ketika membaca pemberitaan tersebut,semakin lama dia
membaca berita – berita tersebut semakin bertambah depresi Adit, namun emosi
Adit bisa tetap terkendali. Akhirnya dia membuka situs sebuah maskapai
penerbangan dan memesan 1 tiket secara online untuk pulang ke tanah air besok
pagi.
***
Sesampainya
di rumah Adit disambut dengan tangisan kesedihan kedua adiknya, mereka tidak
mau masuk sekolah dan tidak mau keluar rumah lagi, karna teman – teman mereka
mulai menanyakan perihal kasus ayah mereka.
Inilah yang membuat hati Adit semakin bertambah
pilu dan fikirannya semakin bingung. Di usia seperti sekarang mereka harus
menanggung aib keluarga yang sangat berat akibat kesalahan sang ayah tercinta.
Rumah
besar bak istana itupun sekarang mulai diselimuti awan mendung, lampu – lampu
yang dulu menghiasi pagarnya tidak dinyalakan lagi, aset – aset keluarga mereka
satu per satu mulai disita KPK, mulai dari mobil – mobil mewah, tanah – tanah
milik ayahnya, perusahaan – perusahaan, lalu terakhir rumah istana mereka pun
ikut disegel oleh KPK.
Adit
pun semakin stres dengan keadaan yang demikian, begitu pula dengan kedua
adiknya yang akhirnya memutuskan untuk sementara berhenti sekolah karena tidak
tahan menanggung malu. Adit akhirnya memutuskan untuk berhenti kuliah dan tidak
kembali lagi ke Australia dia tidak mau tahu lagi tentang keadaan aset –
asetnya yang tertinggal disana yaitu sebuah apatemen dan mobil sport pemberian
ayahnya.Meskipun ibunya tetap memaksa agar dia tetap menyelesaikan
pendidikannya disana karna Gaji ibunya sebagai pimpinan cabang bank masih bisa
mencukupi keluarganya, namun Adit sudah terlanjur sakit hati akibat perbuatan
sang ayah yang menjadi aib keluarga.
Dalam
sebuah perenungan yang panjang pada suatu malam, Adit mulai berfikir untuk
pergi sejauh – jauhnya dan tak ingin kembali lagi. Akhirnya dengan menguatkan
hati, Adit meminta maaf kepada ibunya dan Adik – adiknya dan meminta izin untuk
menyepi sebentar di sebuah kampung, yang sebenarnya Adit juga tidak tahu harus
kemana. Sampai pada suatu ketika Adit berteguh hati untuk tetap meninggalkan
rumah meskipun ditentang keras oleh ibunya, niat Adit cuma satu ingin berusaha
lagi dari nol dan tidak ingin menjadi beban bagi ibu dan adik – adiknya.
“Mungkin suatu saat nanti kalau aku sukses akan
aku jemput ibu, Amelia, dan Ratna” fikirnya di dalam hati.
Sekarang
mereka tinggal disebuah rumah kontrakkan kecil yang agak jauh dari perkotaan
agar wartawan yang masih mencari – cari tidak mengetahui keberadaan mereka
dimana.
“Kamu mau menyepi kemana nak ?” tanya ibunya dengan sedih.
“Adit mau mencari ketenangan dulu bu, Adit
tidak tahan lagi tinggal dikota ini, Adit malu bu” sambil meneteskan airmata.
“Sudahlah nak, ibu ridhoi kalau kamu mau pergi
asal kamu jaga diri baik – baik yah dimanapun kamu berada, maafkan ibu kalau
tidak bisa berbuat yang terbaik buat kalian” kata ibunya sambil memeluk tubuh Adit.
Adit
tidak bisa berkata – kata lagi airmatanya terus membasahi pipinya, lalu dia
pamit mencium tangan ibunya dan mememluk kedua adiknya yang juga menangisi
kepergiannya.
Dengan
membawa satu tas dan beberapa baju saja dan bekal uang seadanya, Adit pun
bertekad untuk memulai kehidupan barunya yang sudah berubah 180 derajat.
“Adit berangkat dulu bu, doakan Adit” lalu Adit pun memulai langkah
pertamanya sebagai Adit yang bukan siapa – siapa lagi.
***
Hampir
2 minggu Adit terus berjalan tanpa tujuan yang pasti, dia tidur dari mesjid ke
mesjid, pos ke pos, bahkan di pelataran rumah orang.
Sampai
suatu ketika, tibalah disuatu kampung kecil yang masih tidak terlalu banyak
penghuninya Adit merasakan kehausan yang luar biasa tibalah dia disuatu rumah
yang agak lumayan besar dikampung itu dan di depan rumah tersebut ada seorang
gadis manis yang sedang menjemur pakaiannya.
“Maaf mba, boleh saya minta air saya kehausan” tanya Adit dengan tubuh yang
mulai agak loyo.
Gadis
tersebut sebenarnya agak ketakutan dengan kedatangan seseorang yang asing
dikampung tersebut. Setelah beberapa saat gadis tersebut pun masuk ke dalam
rumahnya dan mengambilkan air untuk Adit sekaligus memanggil ayahnya yang
seorang juragan bakso dikampung itu.
“Ini mas airnya” gadis itu menyerahkan segelas
air putih bercampur es.
“Terima kasih mba” sambil tersenyum.
Tanpa basa basi lagi air es yang telah
diberikan langsung diminum Adit dengan sekali tegukan.
“Kamu dari mana nak, sepertinya tidak dari
kampung sini ?” tanya seorang bapak yang ada dibelakang gadis tersebut. Itu tidak
lain adalah ayah sang gadis beliau bernama H.Baskara, juragan bakso dikampung
tersebut beliau adalah seorang ahli pembuat bakso yang pernah bekerja menjadi
TKI di Arab Saudi.
“Saya dari Banjarmasin pak”jawab Adit singkat.
“Lalu
tujuanmu mau kemana nak ? apakah gerangan yang membawamu sampai ke tempat yang
jauh ini ?” tanya bapak itu lagi penuh
dengan penasaran.
Dengan mata berkaca – kaca Adit pun
akhirnya menceritakan kejadian yang telah dialami oleh keluarganya, tidak ada
yang ditutup – tutupi semua dibukanya dihadapan H.Baskara dan anak gadis beliau.
Karena dia tidak tahu lagi harus mengadu dengan siapa.
Cerita Adit tentang kejadian yang dialami
oleh keluarganya membuat H. Baskara menjadi iba dan kasian kepadanya, lalu
beliau menawarkan kepada Adit untuk tinggal beberapa waktu dirumahnya dan kalau
Adit bersedia bisa ikut bekerja membantu pak H.Baskara mengolah bakso dirumah
beliau.
Adit pun menerima dengan senang hati
tawaran dari H.Baskara tersebut karna selama ini dia tidak memiliki tujuan
pasti, sehingga ada baiknya dia tinggal dan ikut bekerja dengan H.Baskara, di
rumah tersebut H.Baskara tinggal bersama istri dan 2 anaknya, yaitu yang
pertama bernama Aryo yang sekarang sudah bekerja disebuah perusahaan tambang
batubara di daerah tersebut dan Rini adiknya yang baru saja lulus SMU dan 4
orang pegawai yang biasa membantu produksi bakso H.Baskara.
Selama hampir 1 tahun tinggal dan bekerja
disana, Adit dikenal sebagai pegawai yang rajin dan cerdas karna dia memang
pernah bersekolah di luar negeri meskipun tidak sampai lulus, berkat dari bantuan
Adit, penjualan bakso H.Baskara mengalami peningkatan yang cukup drastis, kalau
dahulu H.Baskara hanya bisa membuka 1 buah warung bakso di depan rumahnya,
sekarang beliau sudah bisa membuka 2 cabang lagi ditempat lainnya berkat dari tangan
dingin Adit yang memanajemennya. H.Baskara semakin sayang dengan Adit yang
sudah dianggap seperti anak sendiri dan berkat kontribusinya terhadap usaha
beliau menjadi semakin maju.
Sampai suatu ketika H. Baskara berniat
ingin menjodohkan putrinya dengan Adit,dan tanpa fikir panjang Adit menyetujui
perjodohan tersebut karna Rini selain gadis manis dia juga gadis yang shalehah.
Merekapun
akhirnya dinikahkan dihadapan keluarga besar H.Baskara dengan perayaan yang
sederhana, karna Adit memintanya, agar perayaan tersebut tidak menarik
perhatian dari banyak orang. Adit takut ada seorang yang mengetahui tentang
asal usul dirinya apabila pesta tersebut dirayakan dengan meriah dan Adit masih
merasa bahwa wartawan pasti masih mencari – cari tahu tentang dirinya yang tiba
– tiba menghilang setelah kasus ayahnya. Menurut gosip yang beredar di kota,
setelah ayahnya dimasukkan ke dalam penjara, Adit “sang pangeran” H. Abdulgafar
salim, yang digadang – gadang akan menggantikan posisi ayahnya diperusahaan
yang didirikan ayahnya diberitakan telah pergi keluar negeri. Berita yang
membuat Adit sedikit geli ketika mengetahuinya.
***
Setelah
menikahi Rini, Adit meminta izin kepada H.Baskara untuk mencari penghidupan
yang lebih baik bersama Rini dengan mencoba peruntungan dikampung lain dengan
berjualan bakso pula. Meskipun dengan berat hati H.Baskara tetap mengizinkan
mereka, karna beliau sudah sangat percaya kepada Adit yang bisa
bertanggungjawab kepada Rini anak yang dititipkannya dan mereka berduapun
akhirnya berangkat sebagai pasangan suami istri baru yang akan memulai
petualangan baru di tanah yang baru.
Itulah
sedikit penggalan cerita dari kehidupan masa lalu Adit yang dahulu adalah
seorang anak pengusaha kaya dan pejabat negeri ini. Cerita akhir yang bagaikan
mimpi bagi Adit, sebenarnya kalau Tuhan ingin berkehendak maka terjadilah.
Setelah
beberapa saat mengingat dan merenungi kehidupan masa lalunya, Adit merasa
mengantuk dan ingin segera tidur untuk menutup lembaran kehidupannya hari ini
dan memulai kembali lembaran kehidupannya besok hari masih sebagai penjual
bakso keliling.
“Sayang anak – anak sudah tidur, kamu mau aku
buatkan kopi ?” tiba – tiba Rini membuyarkan lamunan tentang masa lalunya.
“Tidak usah sayang, aku sudah ngantuk kita
tidur yuk”pinta
Adit kepada istrinya sambil menggandeng Rini dan menciumnya dengan mesra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar