Kamis, 27 Februari 2014

Nelangsa Sebuah Keluarga





            Pagi itu tidak ada yang berbeda dari pagi – pagi biasanya, meski pagi ini dihiasi dengan gerimis hujan yang turun dan bercampur dengan udara yang agak dingin namun tetap terasa sejuk bagi Rano, seperti biasa sehabis mandi dan shalat subuh dia duduk santai sambil ditemani Koran hari ini, secangkir kopi susu hangat, kue atau ubi goreng dengan petis buatan sang istri Aisyah yang tak pernah absen menemani paginya sambil menunggu sarapan pagi dihidangkan.

“Papah, gimana aku mau berangkat sekolah kalau harinya masih hujan ? papah antar Anita pakai mobil yah ?” Rengekan Anita, anak semata wayang Rano buah cintanya dengan Aisyah.

Karna Anita anak satu – satunya, maka Rano sangat menyayangi dan memanjakan Anita, apapun yang diminta pasti akan langsung dikabulkan tanpa terkecuali termasuk permintaan Anita yang minta antar ke sekolah naik mobil meskipun jarak antara rumah dan sekolah Anita tidak begitu jauh.

“Iya sayang, nanti papah antar kamu pakai mobil” jawab Rano.

“Asyiiiik !!!” seru Anita

“Ayo sekarang kamu mandi dulu sana, biar kita bisa sarapan bersama ” pinta Rano kepada anak kesayangannya.

Setelah mengabulkan permintaan anak tersayangnya Rano langsung mendapat satu kecupan sayang dari Anita yang langsung bergegas menuju kamar mandi.

Rano merasa hidupnya sekarang sudah sangat sempurna, menjadi salah satu pimpinan cabang termuda di sebuah bank swasta yang ada di Banjarmasin, lalu bisa menikahi Aisyah, gadis cantik anak kepala desa yang juga saudagar kaya dikampungnya dulu, dan dikaruniai seorang anak yang cantik jelita.

Sekitar 15 menit setelah itu, suara dari dapur memanggilnya.

“Ayah, sarapannya sudah siap ini” ternyata dari Aisyah, istri Rano yang memanggil.

”Alhamdulillah, iya tunggu ayah kesana” sahut Rano sambil bergegas.

Sesampainya di depan meja makan, Rano disambut senyum manis Aisyah yang sambil mengasihkan piring yang sudah berisi nasi dan lauknya, disebelahnya sudah duduk Anita yang juga mengirimkan senyuman yang tidak kalah manisnya kepada Rano.

Saat – saat seperti inilah yang membuat hidup Rano semakin indah dan menjadi pemicu semangatnya dalam bekerja untuk menghidupi keluarga kecilnya.

Setelah mereka selesai sarapan, jam dindingpun menunjukkan pukul 07.00 yang artinya waktu untuk bersiap mengantar Anita ke sekolahnya, Rano pun menuju mobil kesayangannya jenis sedan BMW keluaran terbaru lalu mulai memanaskan mesinnya sembari menunggu Anita berpakaian seragam sekolahnya.

            Tidak berapa lama, Aisyah datang mendekati Rano, dengan bicara setengah manja.

“Ayah sayang, hari ini kan hari sabtu, kamukan libur kerja. Temenin aku ke mall dong sayang” dengan suara penuh kemanjaan khas seorang perempuan.

Rano pun tertegun sejenak dan berfikir lalu tersenyum.
“Iya sayang, buat kamu apa sih yang tidak ? tapi kita ke mall nya setelah Anita pulang sekolah yah jadi sekalian kita jemput dia di sekolah. Gimana sayang ?” sahut Rano.

“Oke sayang, maksud aku juga begitu. Kita ke mall nya sekalian sama Anita”

Senyuman manis Aisyah mengembang lalu ciuman dipipi Rano kembali mendarat dengan sukses dan Aisyah pun kembali masuk rumah.

Tidak berapa lama Anita keluar sudah siap dengan seragam sekolah dan tas besarnya khas anak sekolahan zaman sekarang.

”Papah ayo kita berangkat, Anita sudah siap”

“Ayo sayang, cepat naik mobil nanti seragam kamu basah”

            Aisyah pun bergegas keluar untuk mengantarkan mereka berangkat, lalu Anita bersalaman mencium tangan dan mengecup pipi ibunya. Lalu Aisyah mencium tangan Rano dan Rano pun membalasnya dengan sebuah kecupan mesra di kening Aisyah. Suasana yang penuh dengan rasa cinta dan kehangatan di keluarga kecil mereka.

“Assalamu’alaikum mamah Anita berangkat dulu yah, mwaah” Anita dari dalam mobil memberi salam kepada Aisyah yang ikut mengantarnya meski sampai di depan rumah saja.

“Wa’alaikumsalam, hati – hati dijalan sayang” sahut Aisyah sambil melambaikan tangannya.

            Sebagaimana hari – hari sebelumnya kegiatan Rano tidak pernah berubah, selalu saja begitu kegiatan yang tidak pernah membuatnya bosan bahkan membuat dirinya semakin semangat setiap harinya.

            Membaca Koran, minum kopi susu hangat, kue atau ubi goreng dengan petis, sarapan bersama – sama, memanaskan mobil, lalu mengantar Anita ke sekolah dan sesekali menemani istrinya belanja ke pasar atau mall. Kegiatan ini seolah – olah menjadi sesuatu hal yang wajib dilakukan oleh Rano setiap hari kecuali hari minggu tentunya. Seandainya salah satu hal tersebut tidak dilakukan maka Rano merasa ada yang kurang dengan kehidupannya.

            Tidak ada yang istimewa memang, bukankah itu memang tugas seorang ayah dan sebagai kepala keluarga dia memang seharusnya memenuhi semua kebutuhan keluarganya.

            Pukul 12.15 siang, handphone Rano berbunyi, ternyata itu sms dari Anita yang minta jemput dari sekolahnya. Rano pun bergegas meminta Aisyah untuk bersiap – siap agar mereka bisa segera berangkat untuk menjemput Anita dan sekaligus membawa mereka jalan - jalan ke mall sesuai dengan permintaan Aisyah tadi pagi.

“Mah, ayo cepat dandan Anita sudah mau pulang nih, sekalian mamah mau ke mall kan ? ” pinta Rano kepada istri tercintanya.

“Iya pah, tunggu sebentar mamah mau siap – siap nih” Jawab istrinya dari dalam kamar.
Seperti yang kita ketahui, “sebentarnya” perempuan sama dengan satu babak permainan sepak bola.

            Sembari menunggu istrinya selesai berdandan Rano melaksanakan shalat dzuhur dulu sebelum nanti berangkat untuk menjemput Anita dan langsung membawa mereka jalan – jalan ke mall.

            Setelah hampir 30 menit di dalam kamar akhirnya istrinya keluar dengan dandanan yang sangat cantik, jilbab warna pink dipadukan dengan baju lengan panjang berwarna pink pula dan bawahannya memakai rok panjang berjenis jeans. Sungguh menawan, membuat hati Rano berdegup kencang setiap kali melihat istrinya keluar dari kamar selesai berdandan, sungguh jauh berbeda 180 derajat ketika Aisyah tidak kemana – mana dan berdiam di rumah saja. Inilah salah satu kelebihan dari Aisyah sangat pandai menyenangkan hati suaminya, itu pula yang membuat Rano semakin sayang kepada istrinya ini, sudah cantik pintar dandan pula.

            Selang beberapa saat setelah selesai shalat, tidak lama kemudian handphone Rano berbunyi lagi, sekarang telepon dari Anita yang masuk.

“Halo Assalamualaikum, papah sudah dimana ? Anita sudah lama menunggu nih” suara Anita di seberang sana.

“Wa’alaikumsalam, iya tunggu sebentar sayang ini papah sama mamah sudah mau berangkat jemput kamu, kita sekalian jalan – jalan ke mall yah ?” jawab Rano untuk menenangkan hati anaknya yang mulai gelisah akibat kelamaan menunggu jemputan dari Rano.

“ Benaran pah ? Oke pah, siapp !!” suara Anita terdengar kegirangan karna akan diajak jalan – jalan ke mall.

Tidak beberapa lama kemudian, sampailah Rano di depan sekolah Anita, Antia pun langsung menuju mobil dan masuk ke dalamnya.

“Papah kita jadikan jalan ke mall  ?” tanya Anita tanpa basa basi lagi.

“Iya sayang jadi dong” jawab Rano.

“Hore !!!” seru Anita girang sambil menciumi pipi Rano dan Aisyah.

Melihat anaknya kegirangan seperti ini semakin menambah gairah hidup Rano, sungguh tak ada yang lebih berharga dimuka bumi ini selain melihat keluarganya berbahagia. Seolah – olah Rano ingin terus hidup untuk selama – lamanya bersama keluarga kecilnya ini.

            Hampir 4 jam mereka di mall, belanjaan mereka pun sudah sangat banyak, Aisyah membeli beberapa jilbab, busana wanita, dan tas yang bermerk begitupun Anita seolah – olah tidak ingin kalah dengan mamahnya, dia membeli beberapa pakaian, tas sekolah, dan boneka teddy bear besar yang sudah lama diinginkannya.

            Bagi Rano yang merupakan seorang pimpinan cabang di salah satu bank swasta terkenal di Banjarmasin, semua keinginan dan kebutuhan Istri dan anaknya itu bukanlah hal yang sulit untuk dikabulkan, apapun yang mereka mau mereka bisa langsung dapatkan ketika mereka bilang kepada Rano.

            Setelah puas berbelanja dan makan, mereka bertiga pun akhirnya memutuskan untuk langsung pulang ke rumah karena sudah merasakan lelah yang sangat, ketika berbelanja di mall tadi.

            Hari sudah hampir mulai senja ketika mobil mereka mulai meninggalkan mall, berhubung waktu magrib sudah hampir sampai Rano pun mulai mengemudikan mobilnya agak kencang karna untuk menyempatkan shalat ashar yang belum dikerjakannya karna terlalu asyik menemani keluarganya berbelanja.

            Mobil merekapun semakin kencang dikemudikan Rano, di depan mereka ada lampu lalu lintas perempatan jalan arah menuju kayutangi, di sana lampu hijau menyala namun sudah hampir berganti warna kuning lalu merah, akan tetapi Rano tidak sedikitpun memperlambat laju mobilnya.

            Desakan dari istrinya agar berhati – hati dan memperlambat laju mobilnya tidak dihiraukan lagi oleh Rano. Malah Rano semakin menginjak gas mobilnya semakin dalam untuk menyempatkan bisa melewati lampu lalu lintas yang sudah hampir menyalakan lampu merah tersebut.

            Lampu lalu lintas pun akhirnya berganti merah yang artinya seluruh kendaraan harus berhenti, namun mobil Rano tetap melaju kencang bahkan semakin kencang, dan akhirnya tiba – tiba dari arah kiri mobil mereka sebuah truk besar yang membawa sebuah kontainer dibelakanngnya melaju cukup kencang dan akhirnya BBBBRRRRKKKK DUUUUMMMM !!!!!!!!!!!
Mobil truk berisi kontainer tersebut menyambar mobilnya Rano, seketika mobil Rano terpental dan terbalik beberapa kali dan akhirnya terbakar.

***

Teeeeeetttttt . . . teeeeeeeetttt . . . teeeeettttttt . . .

Bunyi bel di salah satu rumah sakit jiwa di kota ini dibunyikan tanda bahwa makan siang akan segera disiapkan dan bagi yang menempati kamar isolasi makanan akan langsung diantar ke kamar masing - masing oleh beberapa orang perawat.

Di dalam sebuah kamar isolasi berukuran 2 x 2 m2 agak gelap, pengap dan mengeluarkan bau yang kurang sedap. Didalamnya terdapat sebuah tempat tidur besi yang langsung menempel ke dinding dan sebuah kloset duduk, hanya ada satu jendela kecil berteralis besi disana dan beberapa lubang kecil yang terdapat disekitar dindingnya untuk sekedar memasukkan cahaya matahari dan sekaligus pergantian udara.

Seonggok tubuh lelaki tinggal tulang yang dilapisi sedikit daging dan kulit, berdiri menghadap ke arah jendela kecil berteralis dan membelakangi pintu masuk kamar tersebut, wajah lelaki itu dipenuhi dengan jenggot yang sudah mulai memutih karna usia. Di dalam kamar tersebut, setiap hari mulai dari pagi sampai agak siang lelaki tersebut selalu mempraktekkan sesuatu hal yang tidak lazim, dimulai dari pagi – pagi sekali dia bangun tidur lalu dia langsung duduk di atas kloset duduknnya dan mempraktekkan gaya seorang lelaki yang sedang duduk dan membaca Koran sambil minum kopi, setelah beberapa saat dia berbicara sendiri seolah – olah ada yang mengobrol dengannya setelah ritual membaca koran dan minum kopi selesai dilakukan, dia duduk sejenak sambil sedikit berolahraga sembari menunggu petugas rumah sakit mengantar makanannya, setelah makanan diantar dia kembali berbicara sendiri seolah – olah ada orang dihadapannya, hingga selesai sarapan pagi lagi – lagi lelaki itu bertindak diluar kebiasaan manusia normal, dia lalu duduk di atas ranjang besinya kemudian mempraktekkan seolah - olah orang yang sedang menyetir mobil sambil diiringi dengan obrolannya sendiri dan terkadang diselingi dengan tawa candanya sendiri pula. Itulah ritual yang dilakukannya rutin setiap hari tanpa henti oleh lelaki tersebut sejak 20 tahun yang lalu ketika dia pertama kali masuk dan menjadi pasien rumah sakit jiwa tersebut.

Ya, dia adalah Rano, seorang mantan pimpinan cabang termuda di salah satu bank swasta terkenal di kota Banjarmasin, seorang suami yang sangat mencintai istrinya, seorang ayah yang sangat menyayangi anaknya.

Ya, dia adalah Rano yang setiap pagi ritual yang pasti dilakukannya adalah membaca koran ditemani secangkir kopi susu hangat, dan kue atau ubi goreng dengan petis buatan istrinya. Sekarang ritual itupun masih tetap dilakukannya meskipun dalam keadaan yang berbeda 180 derajat.

            Koran, kopi susu hangat, kue dan ubi goreng petis, istri yang cantik, anak yang jelita dan mobil sedan BMW sekarang hanyalah menjadi sesuatu yang tidak nyata lagi, namun di alam bawah sadarnya semua hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat nyata yang biasa dia lakukan setiap hari sebelum berangkat bekerja.

            Kecelakaan tragis 20 tahun lalu yang merenggut nyawa anak dan istrinya, namun beruntung bagi Rano dia masih bisa hidup dan selamat akan tetapi mengalami cedera kepala yang sangat parah, yang membuat dia menderita amnesia untuk beberapa waktu dan akhirnya sering berhalusinasi sendiri bahkan bisa mengamuk tidak jelas seperti orang gila, sampai pada akhirnya pihak keluarga pun bersepakat untuk mengirim Rano ke rumah sakit jiwa untuk menjalani rehabilitasi. Keinginan hati keluarganya agar Rano bisa disembuhkan lewat jalan rehabilitasi kejiwaan tidak juga menuai hasil yang positif, sebaliknya semenjak Rano dirawat di rumah sakit jiwa ini kelakuan – kelakuan aneh Rano semakin menjadi – jadi sampai pada akhirnya, Rano harus dimasukkan ke dalam ruangan isolasi, ruangan khusus untuk kategori penderita sakit jiwa yang berat dan disanalah dia menghabiskan sebahagian masa hidupnya sebagai seorang pasien penderita sakit jiwa yang tidak bisa dijamin kesembuhannya.

            Ketika awal – awal masuk rumah sakit jiwa ini, Rano juga mulai menderita paranoid yang berlebihan terhadap lampu - lampu terlebih yang berwarna hijau, kuning, dan merah ditambah pula suasana rumah sakit jiwa yang kurang baik dan bersahabat. Karena kecelekaan yang menimpa dia dan keluarga kecilnya akan semakin jelas dirasakan ketika dia menemui lampu dengan warna tersebut.

            Suatu malam ketika lampu – lampu rumah sakit tersebut mulai dinyalakan untuk menerangi kamar – kamar dan lorong – lorong kecil yang ada disana, tiba – tiba saja Rano mengamuk dan mulai memecahkan lampu – lampu yang ada disana, sampai – sampai membuat para penghuni yang lain menjadi ketakutan karna ulahnya. Untung saja para perawat bertindak sigap menangkap dan langsung membius Rano dengan suntikan penenang, meskipun 5 orang perawat laki – laki yang mengehentikannya cukup kewalahan.

            Setelah beberapa malam, kejadian tersebut terus terulang dan hampir semua bola lampu yang ada di rumah sakit jiwa tersebut pecah karna ulah Rano, akhirnya pihak rumah sakit bersepakat untuk mengirim dan menempatkan Rano ke ruang isolasi, ruang isolasi Rano itu berukuran 2 x 2 m2 tanpa lampu, dan untuk penerangannya pihak rumah sakit terpaksa memberi lubang tambahan pada dinding kamar tersebut agar ruangan kecil  tersebut bisa tetap dapat terkena pancaran cahaya dari ruangan isolasi disebelahnya.

            Itulah dimana Rano melihat dunia luar untuk terakhir kalinya sebelum ditempatkan disebuah ruangan yang gelap dan pengap selama hampir 20 tahun, pihak rumah sakit bukan tanpa alasan tetap menempatkan Rano di ruang isolasi tersebut. Sudah beberapa kali Rano dikeluarkan dari tempat tersebut namun beberapa kali pula Rano kembali berulah sehingga ruangan tersebut seolah menjadi satu – satunya tempat yang bisa membuat Rano menjadi tenang.

            Sekarang sudah hampir 20 tahun sejak pertama kali Rano masuk ke sana, kepala rumah sakit jiwa tersebut pun sudah berganti sampai 5 kali dan banyak para perawat yang dahulu ikut menangani Rano pun silih berganti ada yang pindah bekerja maupun yang telah memasuki masa pensiun, begitu pula dengan pasien di rumah sakit tersebut sudah banyak yang keluar baik karena dinyatakan sembuh maupun yang meninggal dunia. Kini Rano telah menjadi legenda di rumah sakit tersebut, siapa pun baik perawat maupun keluarga dari para pasien yang sering berkunjung sedikit banyak pasti mengetahui tentang kisah tragis yang dialami oleh Rano dan keluarga yang sangat dicintainya yang menyebabkan Rano mengalami sakit jiwa yang parah.