Zafran Sang
Pengusaha
Hari ini tanggal 4 Januari 2010, merupakan hari dimana Zafran
dinyatakan bebas setelah menjalani 10 tahun masa hukuman dibalik jeruji besi
akibat perampokan sebuah bank yang dilakukan oleh kelompoknya sekitar 11 tahun
yang lalu.
Hari itu suasana dipenjara yang berada di daerah teluk dalam kota
Banjarmasin terlihat lengang, tidak banyak aktivitas yang terlihat dari para
penghuninya, hanya satu dua orang sipir yang terlihat sedang sibuk mengurusi
sesuatu.
Di dalam sebuah sel, Zafran mulai memeluki teman satu selnya satu
persatu, keharuanpun tiba – tiba menyeruak di dalam sel tersebut, merekalah
yang selama ini menjadi keluarga kedua bagi Zafran, teman berbagi suka maupun
duka selama menjalani masa hukuman yang panjang, tidak terasa sudah 10 tahun
Zafran menjadi penghuni Lapas tersebut dan hari ini adalah hari dimana dia bisa
menghirup udara bebas.
Setelah selesai berpamitan, Zafran lalu dibawa oleh seorang sipir
ke sebuah ruangan kecil untuk mengurus surat pembebasan, disana Zafran menandatangani
beberapa surat dan dokumen tentang proses kebebasannya.
“Zafran, bagaimana keadaan kamu hari ini ?” tanya seorang sipir yang mengurusi surat kebebasannya.
“Alhamdulillah baik pak, bahagia selalu” jawab Zafran setengah bercanda dengan sipir tersebut.
Zafran menganggap semua sama baik sipir maupun para napi tidak jarang dia ikut bercengkrama bersama para sipir ketika mereka sedang istirahat begitupun sebaliknya.
“Ini silakan tanda tangan dulu disini” pinta sipir tersebut sembari tersenyum.
“Baik pak”
Setelah selesai menandatangani, Zafran pun berpamitan dengan
beberapa sipir yang ada diruangan tersebut.
“Nah, saudara Zafran sekarang kamu dinyatakan telah bebas” kata sipir tersebut sambil menyalami Zafran.
Zafran pun tersenyum dan balas menyalami sipir tersebut lalu tanpa
bisa mengontrol emosinya Zafran langsung memeluk sipir tersebut dengan erat
tanda sangat bahagis telah bebas.
“Terima kasih pak” Airmatanya
pun tak bisa terbendung lagi membasahi seluruh pipinya.
“Iya sama – sama Zaf, saya sangat berharap kamu tidak pernah lagi
balik kesini yah. Ingat setelah keluar dari sini jadilah manusia yang lebih
baik, carilah pekerjaan yang halal, ingat anak istrimu yang menunggu kamu
dirumah, jangan lagi kamu beri makan yang tidak halal untuk mereka” nasehat pak sipir tersebut.
“Insya Allah pak, doakan saya pak” jawab Zafran penuh haru.
Zafran pun akhirnya diantarkan oleh seorang sipir menuju pintu
keluar Lapas.
Sesampainya diluar Lapas, Zafran berhenti sejenak dia lalu memalingkan
mukanya ke arah Lapas dan kembali meneteskan airmata, karena Lapas inilah yang
selama ini menjadikan tempat dimana dia ditempa dari seorang penjahat menjadi
seorang yang lebih baik, banyak kenangan yang dia alami di lapas ini.
Setelah beberapa saat terdiam Zafran pun meninggalkan lapas
tersebut.
***
Setelah meninggalkan
komplek lapas tersebut, Zafran mengalami kebingungan yang luar biasa, setelah
10 tahun banyak yang berubah dengan kota ini seperti banyaknya ruko – ruko yang
dibangun disepanjang jalan sutoyo s. ini.
Zafran pulang menggunakan sebuah angkutan umum yang dia hentikan
dipinggir jalan, dengan maksud pulang menuju ke rumahnya dahulu di daerah jalan
veteran, namun dia tidak langsung kesana, dia ingin sekali menjenguk kedua
orang tuanya terlebih dahulu yang berada di daerah kayutangi lalu selanjutnya
langsung menuju rumahnya di jalan veteran.
“Aku sangat rindu emak dan abah” gumam Zafran dalam hati.
Setelah menumpang angkutan umum lalu diteruskan dengan memakai
jasa tukang ojek, sampailah Zafran di rumah orangtuanya, rumah sederhana bercat
warna biru tua yang sudah mulai kusam karna termakan usia.
“Assalamualaikum” kata Zafran
sambil mengetuk pintu rumah tersebut.
Setelah beberapa saat menunggu, jawaban akhirnya datang dari
dalam.
“Wa’alaikumsalam” sahutan
dari dalam, sesosok perempuan tua mulai membuka pintu rumah tersebut.
“Emmmaaaak” seketika itu Zafran langsung
memeluk perempuan tua tersebut.
Perempuan tua tersebut pun sontak terkejut dan merasa kebingungan
ketika tiba – tiba saja dipeluk oleh seseorang yang memanggilnya “emak”
panggilan sayang yang biasanya diucapkan oleh anak – anaknya.
“Emak ini Zafran mak” sambil
memeluk erat tubuh ibunya.
“Zafran kau kah ini nak ?” jawab emaknya
setengah lirih.
“Iya mak, ini Zafran. Zafran baru saja bebas mak” tangis Zafran kembali membuncah.
“Zafraaan anakku” beberapa
saat kemudian pecahlah pula tangis ibunya.
Setelah beberapa saat mereka berpelukan untuk melepas rindu.
Akhirnya ibu Zafran mempersilakan Zafran untuk masuk.
“Ayo kita masuk zaf” ajak
ibunya.
“Iya mak, mari kita masuk” jawab
Zafran.
Setelah itu mereka berdua duduk dibangku tua dirumah tersebut.
“Bagaimana kabar emak ? kok sepi mak ? abah kemana sama Rita” tanya Zafran heran karna hanya melihat emaknya sendirian ada
dirumah tersebut.
Ibunya terdiam sejenak dan matanya mulai berkaca - kaca.
“Abahmu sudah hampir 7 tahun meninggal zaf, kalau Rita sekarang
dia ikut suaminya bekerja di Balikpapan. Sekarang emak tinggal sendiri disini”
Jawaban dari ibunya sontak membuat terkejut dan perlahan - lahan
airmata Zafran kembali mengucur dengan derasnya, setelah mengetahui bahwa
abahnya sudah meninggal dunia dan yang lebih dia sesali lagi dia tidak pernah
tahu tentang kejadian tersebut. Sungguh memilukan, ketika abahnya menghembuskan
nafas terakhir Zafran tidak bisa mendampingi beliau bahkan berada dibalik
jeruji besi karna ulahnya sendiri. Zafran merasa sangat berdosa terhadap abah
dan ibunya.
Zafran hanya terdiam membisu beberapa saat, mengingat abahnya yang
ternyata sudah tiada.
“Kenapa tidak ada yang memberitahu Zafran mak ?” tanya Zafran dengan penuh kesedihan.
Dengan bercucuran airmata ibunya pun menceritakan kenapa kabar
duka ini tidak pernah disampaikan kepada Zafran yang waktu itu ada di penjara.
“Ketika kamu masuk penjara, abahmu tidak bisa menanggung malu
kepada teman – temannya, siang malam beliau hanya memikirkan tentang kamu
disana nak. Dan akhirnya beliau sakit. Meski sempat sembuh namun akhirnya
penyakit abahmu semakin parah”
Ibu Zafran terhenti sejenak, untuk menyeka airmatanya yang keluar,
beliau mencoba tegar untuk menceritakan kejadian pahit ini. Terpancar dari
wajahnya yang mulai keriput ketegaran seorang ibu.
“Ketika beliau masih sakit, beliau sempat berpesan kepada emak dan
Rita kalau beliau meninggal dunia jangan pernah memberitahukan hal ini kepada
kamu nak, kecuali kamu sudah bebas” sambung Ibu
Zafran.
“Emak juga tidak pernah tahu dan tidak pernah menanyakan kenapa
beliau beramanat seperti itu, emak menurut saja apa kata beliau untuk
menyenangkan hatinya. Setelah bapak meninggal emak sama Rita bersepakat untuk
tidak memberitahukan ini kepadamu nak”
“Maafkan emak nak, mungkin abahmu tidak ingin menambah beban
fikiranmu ketika beliau meninggalkan kita semua” suara Ibu mulai menghilang diringi dengan tangisan yang ditahan
dengan kedua tangannya.
“Ampuni Zafran mak”
Zafran pun memeluk emak tercintanya dengan erat. Terlihatlah
sebuah pemandangan yang memilukan antara ibu dan anak ini.
***
Setelah hampir
setengah hari berada di rumah orangtuannya untuk melepas rindu kepada Ibunya,
Zafran minta izin untuk pulang ke rumahnya yang berada di jalan veteran, Zafran
sangat rindu dengan Rania anak semata wayangnya dengan Risma istrinya, pasti
mereka sudah sangat menantikan kebebasan Zafran ini.
Zafran sengaja tidak memberitahu mereka karena ingin membuat
kejutan kepada mereka.
“Emak, Zafran mau pulang ke rumah dulu mak, Zafran sudah sangat
rindu sama Risma dan Rania. Mereka pasti menunggu Zafran” kata Zafran.
“Nak sebaiknya kamu tinggal disini dulu temani emak, dan tidak
usah kesana”
Anjuran dari Ibunya ini kembali membuat Zafran mulai dilanda
penasaran.
“Kenapa mak ? emak masih rindu sama Zafran yah ? atau kita sama –
sama kesana aja mak, biar Emak malam ini tidur dirumah Zafran. Buat merayakan
kebebasan Zafran mak” jawab Zafran.
Lagi – lagi untuk kesekian kalinya emak Zafran meneteskan
airmatanya.
“Emak, kenapa menagis lagi ?” tanya
Zafran yang mulai kebingungan.
Sambil meraih tangan Zafran, Ibunya lalu menggandengnya dan
membelai kepala anaknya. Sambil terisak Ibu Zafran kembali ingin menceritakan
sesuatu.
“Sebenarnya emak berniat menceritakan hal ini besok kepadamu nak,
biar kamu tenang dulu setelah kebebasanmu ini” emak mulai membuka pembicaraan dengan Zafran.
“Memangnya ada masalah apa lagi mak ? kenapa harus menunggu besok
menceritakannya ?” tanya Zafran.
Zafran mulai merasakan ada yang tidak beres dengan anak dan
istrinya. Akan tetapi Zafran mencoba untuk tetap tenang mendengarkan cerita
emaknya.
“10 tahun dipenjara, merupakan sesuatu yang sangat lama nak, Emak
dan adikmu Rita sangat merasakan betul bagaimana rasanya menantikan
kebebasanmu. Begitu pula dengan Risma istrimu, setelah kamu menjalani masa
hukuman sekitar 2 tahun dia datang membawa anakmu Rania yang masih kecil pada waktu
itu. Dia bercerita sama emak dan abahmu yang waktu itu masih hidup, bahwa dia
tidak bisa lagi untuk menunggumu dan menghidupi Rania seorang diri, Emak dan
abah sempat menawarkan agar dia bersama Rania tinggal disini, namun dia
menolak. Dia berencana untuk balik ke kampungnya di Hulu sungai. Namun ternyata
itu tidak benar setelah beberapa minggu kemudian menurut kabar yang datang,
Risma istrimu telah dipinang oleh seseorang” cerita
Ibunya kepada Zafran.
“Apaaaaaaa ???” suara
Zafran agak meninggi.
Badan Zafran seketika mulai lemas, kakinya terasa sangat lemah dan
tidak bisa menahan beban tubunhnya, dan akhirnya Zafran terduduk dilantai
sambil menangis memeluk erat kaki Ibunya.
“Sabar ya nak” hanya itu
kata – kata dari Ibu Zafran sambil membelai kepala anaknya. Beliau ikut
menangisi kejadian yang dialami oleh Zafran, bagaimana perasaan Zafran saat itu
ketika mengetahui keadaan keluarganya yang sebenarnya setelah beliau ceritakan.
“Ya Allah mungkin ini balasan yang engkau timpakan kepadaku,
ampuni semua dosa – dosaku yang dahulu Ya Allah” Zafran berdoa di dalam hatinya.
Malam itupun akhirnya Zafran tidur dirumah orangtuanya, hitung –
hitung menemani Ibunya yang kini tinggal sendiri.
***
Beberapa minggu
kemudian, Zafran mulai berfikir untuk mencari pekerjaan agar bisa menghidupi
dirinya dan Ibunya. Zafran ingin melupakan masa lalunya yang kelam dan mencoba
menjadi manusia yang lebih baik sekaligus ingin melupakan kejadian yang menimpa
keluarganya.
Zafran sadar diri karna dosanya di masa lalu yang membuat Risma
istrinya meninggalkannya, dia mencoba menerima semua itu sebagai konsekuensi
seorang mantan napi. Dia tidak pernah menyangka bahwa Risma istri yang selama
ini sangat dia cintai meninggalkannya begitu saja.
“Mungkin inilah jawaban kenapa aku dahulu tidak pernah mendapat
kunjungan dipenjara” kata Zafran dalam hati.
Zafran memaklumi selama dia dipenjara dahulu tidak pernah
sekalipun mendapat kunjungan dari keluarganya, meskipun tidak jarang dia merasa
iri ketika teman – teman satu selnya dahulu mendapat kunjungan dari keluarga
mereka masing – masing.
“Mungkin aku dahulu aib bagi keluargaku” fikir Zafran lagi
“Sekarang waktunya aku berfikir ke depan dan mencoba menjadi
manusia yang lebih baik” Zafran terus mencoba memotivasi
dirinya sendiri.
Setelah sarapan pagi, Zafran pamit kepada Ibunya untuk mencari
pekerjaan.
“Mak, doakan Zafran yah mak, Zafran mau mencari pekerjaan”
Dengan membawa beberapa ijazah sekolahnya, Zafran mulai berjalan
untuk memasukkan lamaran ke perusahaan – perusahaan yang mungkin membutuhkan
tenaganya.
“Ya Allah semoga hari ini ada hasil” doa Zafran dalam hati.
Seharian hari itu Zafran keluar masuk kantor untuk memasukkan
lamaran pekerjaan, namun tidak ada satupun yang pasti, surat lamaran hanya
sampai di pos satpam lalu disuruh untuk menunggu panggilan.
***
Hari mulai agak
sore menjelang magrib, Zafran yang sudah sangat letih setelah seharian berjalan
beristirahat disebuah bangunan ruko yang sedang dalam tahap pembangunan.
“Saya numpang istirahat mas” pinta
Zafran kepada salah seorang pekerja yang ada disana.
“Monggo mas” katanya sambil tersenyum.
Setelah beberapa saat duduk untuk melepas lelah, Zafran pun
memberanikan diri untuk menanyakan lowongan pekerjaan. Siapa tahu masih ada
membutuhkan tenaga.
“Permisi mas, disini ada membutuhkan tenaga tambahan ?” tanya Zafran.
“Wah kalau tenaga buruh sih masih ada mas, kalau mas-nya mau jadi
buruh bangunan nanti saya bilang sama bosnya” jawab pekerja yang ada disitu.
“Ya sudah tidak apa mas, saya mau bekerja apa saja” tambah Zafran.
Zafran bersyukur hari ini bisa langsung mendapatkan pekerjaan
meski hanya menjadi buruh bangunan bukan kantoran.
“Alhamdulillah, yang penting hari in ada hasil” Zafran sangat bersyukur.
***
Sesampai dirumah,
Zafran memberitahukan kepada Ibunya kalau dia sudah mendapatkan pekerjaan
meskipun hanya menjadi buruh kasar untuk pembangunan sebuah ruko.
“Gimana nak, kamu sudah mendapat pekerjaannya ?” tanya Ibunya.
“Alhamdulillah dapat mak, tapi untuk sementara Zafran jadi buruh
untuk pembangunan sebuah ruko saja dulu di daerah jalan S. Parman” jawab Zafran.
“Loh kenapa kamu kerja jadi buruh untuk pembangunan ruko ? kamu
tidak melamar dikantoran ?” tanya Ibunya
lagi.
“Sudah mak, ada beberapa perusahaan yang Zafran masukkan surat
lamaran namun akan diproses terlebih dahulu katanya dan disuruh menunggu
panggilan kalau diterima”
“Oh begitu, semoga saja diterima yah nak” harap Ibunya.
“Aminn”
***
Hari ini, Hari
pertama Zafran bekerja menjadi buruh bangunan. Pagi – pagi jam 8 kurang Zafran
sudah datang ke lokasi pembangunan tersebut. Hanya ada beberapa buruh yang juga
sudah datang, tidak berapa lama mandor pembangunan ruko tersebut pun datang,
dia langsung menghampiri Zafran yang tengah bersiap – siap untuk memulai
pekerjaannya.
“Jadi kamu yang kemarin kata anak buahku mau ikut bekerja disini
?” tanya sang mandor yang bernama Darman, dengan logat kental khas
dayak.
“Iya bos, saya mau ikut bekerja disini. Bisa ?” jawab Zafran setengah malu –malu.
“Oke bisa saja kalau kamu mau soalnya kita disini juga kekurangan
orang buat bantu - bantu, tugas kamu sekarang bantu mengaduk semen sama
mengangkat bata – bata ini yah, bisa kan ?” pinta
Darman, dengan ramah.
“Bisa bos” jawab Zafran dengan yakin.
“Baguslah kalau begitu, ayo sekarang kita siap – siap” seru Darman juga kepada anak buahnya yang lain yang sudah mulai
berdatangan.
“Bismillah, ini hari pertamaku mengerjakan sesuatu yang Halal
semoga diberi berkah dan menjadi langkah awalku untuk berubah menjadi manusia
yang lebih baik” Zafran berdoa di dalam hati.
***
Hari demi hari
pun silih berganti, panggilan kerja dari beberapa perusahaan yang dikirimi
surat lamaran oleh Zafran, tidak ada satupun yang memanggilnya. Zafran dengan
sabar menunggu sambil bekerja sebagai buruh bangunan untuk sementara menyambung
hidupnya.
Sampai suatu ketika, pas Zafran pulang dari bekerja bangunan, dia
ditanya Ibunya.
“Zafran, kamu sudah dapat panggilan kerja belum, nak ?” tanya ibunya.
Ibunya mulai khawatir dengan Zafran, yang dari pagi sampai sore
harus bekerja berat sebagai buruh bangunan, Beliau memperhatikan tubuh Zafran
yang mulai menghitam dan kurus serta terdapat beberapa luka lecet ditangannya
akibat bekerja menjadi buruh.
“Belum ada mak” sahut
Zafran.
“Apakah ada sesuatu yang lain yang bisa engkau kerjakan nak,
selain harus menjadi buruh bangunan. Emak kasian sama kamu, setelah ibu
perhatikan tubuhmu semakin kurus dan hitam belum lagi luka – luka yang ada
ditanganmu itu.” kata ibu Zafran dengan lirih.
“Iya mak Zafran masih memikirkan mau kerja apa lagi nanti kalau
tak ada panggilan kerja ini”
Malam itu, Zafran tidak bisa tidur dengan nyanyak, lelah yang
menghampiri tubuhnya seakan tidak bisa membuat mata Zafran tertutup, dia terus
memikirkan perkataan dari ibunya tadi yang meminta untuk mencari pekerjaan
selain menjadi buruh bangunan.
Lamunan Zafran yang hampir setengah malam itu akhirnya memunculkan
sebuah harapan baru, Zafran berfikir untuk membuka usaha kecil – kecilan,
kebetulan dia waktu di Lapas pernah belajar memasak kepada koki yang ada di Lapas
dan bisa sedikit – sedikit memasak nasi goreng yang enak dan sewaktu di Lapas
dulu pernah menjadi juara pertama lomba masak di acara 17-an.
Paginya Zafran menceritakan hasil dari lamunannya tadi malam
kepada ibunya, perihal ingin membuka usaha kecil – kecilan.
“Mak, Zafran ada niat buka usaha kecil – kecilan mak, dari pada
menunggu panggilan kerja yang tidak jelas” Zafran
membuka pembicaraan kepada ibunya.
“Kamu mau buka usaha apa nak ?” tanya
ibunya perihal niat Zafran tersebut.
“Rencananya Zafran mau usaha nasi goreng keliling mak, kebetulan
kemarin waktu di Lapas Zafran pernah belajar memasak nasi goreng dan pernah
menjadi juara 1 lomba masak waktu di acara 17-an”
“Kalau itu memang niat baikmu, emak mendukung saja. Tapi apa kamu
punya modal buat bikin gerobaknya ? kalo boleh bantu emak bisa saja memberikan
modal cuma hanya untuk membeli bahan – bahannya saja, karna gaji pensiunan emak
seperti yang kamu tahu cukup untuk biaya makan kita sebulan saja”
Zafran termenung sejenak. Dan mulai berfikir lagi bagaimana cara
membuat gerobak tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar.
“Emak tidak usah ikut membantu permodalannya mak, uang gaji emak disimpan
saja buat emak, upah Zafran sebagai buruh bangunan akan Zafran tabung sedikit
demi sedikit mak itu yang akan dijadikan modal, masalah gerobak nanti Zafran
fikirkan.”
“Oh yah sudah mau jam 8, Zafran berangkat kerja dulu yah mak” kata Zafran pamit sambil mencium tangan dan mencium pipi
ibunya.
Setelah Zafran pergi untuk bekerja, ibu Zafran mulai menitikkan
airmata, beliau bersyukur kepada Allah atas perubahan sikap Zafran yang
sekarang, sangat berbeda jauh dari Zafran sebelumnya yang beringas.
Teringat dahulu kebandelan Zafran muda ketika membawa pergi semua
perhiasan beliau lalu menjualnya, lalu banyaknya tagihan yang datang ke rumah
karna Zafran berhutang sana sini, sampai ketika Zafran yang sudah terlanjur
salah pergaulan menjadi perampok sebuah bank dan akhirnya tertangkap meski
sempat buron.
Pada saat kejadian itu, keluarga mereka menjadi sangat tertutup
dengan masyarakat sekitar, sampai ketika ayah Zafran yang dahulu imam tetap di
mesjid setempat harus menderita sakit yang lama karna tidak bisa menahan aib
yang begitu besar menerpa keluarga mereka.
Sekarang sudah hampir 10 tahun kejadian tersebut, Zafran pun sudah
menerima akibat dari perbuatannya tersebut dan menebus dosanya di penjara. Tak
ada lagi harapan ibunya selain melihat Zafran menjadi manusia yang lebih baik.
“Ya Allah, jadikanlah Zafran manusia yang lebih baik terlebih bisa
berguna bagi keluarga dan masyarakat” doa yang
keluar dari mulut ibu Zafran.
***
Sesampainya
Zafran di tempat kerjanya, dia mulai melepas bajunya dan menggantinya dengan
baju yang biasa dibawanya untuk bekerja.
Pekerjaan hari itu pun kembali dimulai, Zafran mengaduk – aduk
beberapa sak semen lalu mengirimkannya ke atas dengan menderek sebuah ember
yang sudah terikat dengan katrol disana agar temannya yang di atas bisa
menerima semen tersebut dengan baik. Lalu setelah semen tersebut habis teman
yang dari atas kembali mengirimkan ember yang telah kosong tersebut ke bawah
untuk kembali diisi semen.
Tidak terasa waktu tengah hari pun tiba dan jam menunjukkan pukul
1 tepat, artinya para buruh boleh istirahat untuk sementara. Darman, sang
mandor yang biasa dipanggil “Abang” oleh para buruh anak buahnya membawakan
beberapa nasi bungkus untuk mereka.
“Zaf, ini makan dulu” kata Darman
seraya memberikan sebungkus nasi.
“Terima kasih bang” jawab
Zafran.
Setelah melahap sebungkus nasi, Zafran mengistirahatkan tubuhnya
disebuah ruangan yang belum jadi di ruko tersebut. Sambil merebahkan diri di
antara tumpukan kayu – kayu yang tidak terpakai, Zafran mulai terfikir gerobak
impiannya.
“Sepertinya kayu – kayu bekas ini tidak terpakai lagi” fikir Zafran dalam hati.
Lalu dengan memberanikan diri, Zafran meminta izin kepada bos
Darman untuk membawanya pulang, dengan harapan dari kayu – kayu bekas tersebut
dia bisa membuat sebuah gerobak impiannya.
“Permisi bang, mau nanya nih, kayu – kayu yang ada di dalam kamar
itu terpakai lagi tidak ?” tanya Zafran kepada Darman yang
lagi santai sehabis makan juga.
“Kayu – kayu yang mana, yang itu yah. Itu sudah tidak terpakai
lagi Zaf, itukan sisa dari kayu – kayu yang kita pakai jadi sisanya itu kita
taruh disana dulu, memangnya ada apa Zaf ?”
“Kalau tidak terpakai, boleh saya bawa pulang bang ?” tanya Zafran lagi.
“Oh silakan kalau kamu mau ambil saja, toh itu tidak terpakai lagi
juga kok. Saya juga bingung kemarin kemana mau membuangnya . . . hehehe”
Jawaban dari bos Darman itu membuat hati Zafran berbunga – bunga,
gerobak impiannyapun mulai terbayang dibenaknya.
“Oke nanti saya bawa pulang semua bang, terima kasih bang”
“Ya sama – sama zaf”
***
Setelah seharian
bekerja dan mendapat izin untuk membawa pulang kayu – kayu bekas yang ada di
ruko tersebut. Sore itu, Zafran menyewa sebuah becak untuk mengangkut sisa –
sisa kayu yang tidak terpakai tersebut.
Sudah terbayang dikepala Zafran akan gerobak impiannya, dia mulai
mengira – ngira berapa banyak kayu yang diperlukannya untuk membuat sebuah
gerobak.
Malam itu setelah makan malam, Zafran mulai menggambar – gambar
tentang gerobak yang akan dibuatnya nanti, sekaligus dia juga menghitung
anggaran yang akan diperlukan.
“Zafran, bagaimana rencana kamu nak ?” tanya ibu Zafran sambil membawakan segelas teh hangat untuk
menemani anaknya.
“Ini lagi masih digambar mak, masih dihitung juga anggarannya”
“Kalau nanti modal kamu kurang, kamu bilang saja sama emak yah,
kebetulan emak masih ada sedikit tabungan ni”
“Tidak usah mak, Insya Allah uang Zafran cukup kok”
Senyum-pun terlihat mengembang diwajah ibu Zafran.
“Semoga saja usahamu nanti bisa berhasil nak” harap ibunya.
“Amiiin”
***
Hampir 3 bulan Zafran bekerja sebagai buruh, setiap pulang bekerja dia langsung mengerjakan proyek gerobak dorongnya. Dan akhirnya jadilah sebuah gerobak dorong yang sekarang bisa digunakan. Zafran pun mantap untuk memulai usahanya sehabis kontrak bekerjanya diruko tersebut selesai.
Dia sengaja mengahabiskan kontrak tersebut untuk membalas jasa
bang Darman yang sudah memberikannya pekerjaan dan memperbolehkannya mengambil
sisa – sisa kayu dari proyek pembangunan ruko tersebut.
Setelah ruko 4 pintu tersebut selesai, Zafran pun berterima kasih
kepada bang Darman sekaligus minta izin untuk tidak meneruskan lagi bekerja
padanya.
“Bang terima kasih banyak untuk semuanya, saya minta maaf kalau
tidak bisa bekerja lagi sama abang”
“Iya sama - sama Zaf, terima kasih juga sudah banyak bantu saya.
Oh ya, rencana kamu mau buka usaha kemarin bagaimana ?”
“Rencananya dalam beberapa hari ini saya akan mulai berjualan nasi
goreng keliling bang. Saya minta doanya bang”
“Wah mantap itu Zaf, semoga sukses yah” harap bang Darman.
Sore itu hari terakhir Zafran bekerja sebagai buruh bangunan, dan
dalam beberapa hari ke depan dia akan memulai kehidupan barunya sebagai seorang
penjual nasi goreng keliling.
***
Hari itu hari
sabtu, setelah mempersiapkan semua bahan – bahan yang akan dibawa Zafran untuk
berjualan. Sebelum berangkat Zafran meminta doa kepada ibunya.
“Mak, Zafran berangkat dulu yah, doakan mak semoga nasi Zafran
bisa laku”
“Iya nak, semoga jualan kamu hari ini laris manis”
“Aminn, Assalamualaikum . . .”
“Amin, Wa’alaikumsalam, hati – hati dijalan Zaf”
Itulah untuk pertama kalinya Zafran memulai usahanya seabagai
penjual nasi goreng keliling. Rutenya hanya sekitaran komplek yang ada
disekitar daerah kayutangi tersebut, rute itu sengaja dipilih karna terdapat
banyak kos – kos yang dihuni oleh mahasiswa luar Banjarmasin yang sedang
menempa ilmu dibeberapa universitas yang terdapat di Jalan H. Basry ini.
***
Waktu terus
berjalan, dari hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulanpun
berganti bulan. Tidak terasa sudah hampir setengah tahun Zafran menjalani
profesi barunya sebagai tukang jual nasi goreng keliling. Langganan Zafran pun
semakin bertambah dan banyak orang yang mengenalnya karna selain nasi goreng
buatannya enak harganya pun sangat terjangkau ditambah pula keramah tamahanan
Zafran ketika melayani semua pembelinya tanpa terkecuali.
Hingga suatu hari, Zafran coba – coba menambah rute untuk
jualannya, sengaja dia menambah bahan bakunya agar bisa berjalan lebih jauh
lagi. Zafran mencoba rute di daerah jalan HKSN, karna disana banyak perumahan –
perumahan yang dibangun.
***
Suatu hari ketika memasuki daerah jalan HKSN, Zafran dipanggil oleh salah seorang wanita dari salah satu rumah besar yang ada di salah satu komplek perumahan itu, rumah itu tampak besar dan megah bila dibandingkan dengan rumah – rumah yang ada disekitarnya. Zafran pun segera mengarahkan gerobak nasinya menghampiri rumah tersebut.
Suatu hari ketika memasuki daerah jalan HKSN, Zafran dipanggil oleh salah seorang wanita dari salah satu rumah besar yang ada di salah satu komplek perumahan itu, rumah itu tampak besar dan megah bila dibandingkan dengan rumah – rumah yang ada disekitarnya. Zafran pun segera mengarahkan gerobak nasinya menghampiri rumah tersebut.
Alangkah terkejutnya Zafran ketika tahu yang memanggil dirinya
adalah Risma, mantan istrinya dahulu yang pernah sangat dia cintai, sejenak
Zafran tertegun sambil menyiapkan wajan untuk membuat nasi goreng seraya
sedikit menundukkan topinya agar Risma tidak mengenali dirinya.
“Mas, nasi gorengnya 3 bungkus yah” pinta Risma.
Risma ternyata sama sekali tidak mengenali Zafran, karna sudah
hampir 10 tahun lebih tidak pernah bertemu, Zafran sekarang mulai terlihat
kurus dan agak dekil karna berjualan nasi goreng keliling, berbeda sekali
dengan Zafran 10 tahun lalu yang masih berkulit putih dan bersih serta terlihat
gagah.
“Iya mba, tunggu sebentar” seraya
terus menundukkan wajahnya.
Sungguh perasaan Zafran menjadi tidak karuan karna setelah sekian
lama tidak bertemu dan melihat Risma kembali.
Tiba – tiba dari dalam rumah besar tersebut keluarlah seorang
gadis ABG yang cantik dan memanggil Risma dengan sebutan “Mama”, seraya meminta
agar nasi goreng pesanannya dikasih sambel.
Makin berdegup kencanglah jantung Zafran, karna hati kecilnya
berkata bahwa inilah Rania anak semata wayangnya dulu ketika masih bersama
Risma, Rania berubah menjadi seorang gadis remaja yang cantik dan manis.
“Mas, satu pakai sambel yah” pinta
Risma lagi kepada Zafran.
“Iya mba” jawab Zafran singkat.
Tidak seperti biasanya, Zafran sangat terlihat kikuk dan gugup
ketika memasak nasi goreng andalannya, bagaimana tidak kedua orang yang sangat dicintainya
sekarang berada tepat di depan matanya.
15 menit kemudian, selesai semua pesanan dari Risma.
“Berapa semuanya mas ?” tanya
Risma.
“20 Ribu mba” jawab Zafran.
“Ngga’ salah hitung mas ?” tanya Risma setengah heran, karna pesanannya 3 bungkus nasi goreng
seharusnya total keseluruhannya menjadi 30 ribu (1 bungkusnya 10 ribu).
“Yang satu
bonus mba, gapapa” sambil tersenyum seraya memalingkan gerobaknya.
“Oh ya sudah
terima kasih banyak ya mas” kata Risma lagi.
Tidak berapa
lama Zafran berjalan dia berhenti di sebuah pos ronda yang kosong, seraya
mengistirahatkan tubuhnya. Zafran mulai duduk dan termenung sendiri, tidak
dirasa air matanya mengalir, ada perasaan sedih bercampur bahagia di hatinya.
Disatu sisi dia melihat langsung anak dan istrinya tanpa bisa memeluk mereka
kembali, disisi lainnya dia bahagia karna bisa melihat dan mengetahui dimana
sekarang keberadaan mereka dan melihat dari rumah tempat mereka tinggal tampaknya
mereka hidup berkecukupan.
Memori Zafran
mulai kembali ke masa lalu dimana karna cara pergaulannya yang salah sehingga
dia harus menerima akbita dari perbuatannya sendiri.
“Seandainya
aku dahulu bisa mencari pekerjaan yang lebih baik dan tidak berkumpul dengan
orang – orang tidak waras itu, mungkin sekarang aku bisa bercanda bersama
mereka berdua” dalam hati Zafran lirih menyesali perbuatannya di masa lalu.
“Ya Allah, ampuni segala dosa – dosa hamba Ya Allah”
“Sungguh tiada yang lebih berat cobaan daripada melihat dengan
mata kepala sendiri anak dan istri bahagia bersama orang lain”
“Bila memang ini akibat dari dosa – dosaku di masa lampau, semoga
Engkau menguatkanku untuk menjalani hidup ini”
“Nasi sudah menjadi bubur, masa lalu sudah terlanjur kelam, waktu
tidak akan pernah bisa berputar kembali, setidaknya masa depanku yang masih
misteri ini masih bisa diusahakan agar bisa menjadi lebih baik”
Zafran terus bergumam di dalam hatinya menyesali yang sudah
terjadi.
Setelah beberapa lama Zafran termenung, azan magrib pun
berkumandang, Zafran bangkit dari tempat duduknya seraya menyeka airmata yang
membasahi wajahnya, dia langsung mengarahkan gerobaknya menuju mushalla
terdekat untuk shalat magrib.
***
Sehabis shalat
magrib Zafran lama termenung sambil bertafakur di mushalla, dia masih saja
memikirkan tentang Risma dan Rania setelah pertemuan yang tidak terduga tadi.
Lagi – lagi airmatanya membasahi wajahnya, tangisnya pecah begitu mushalla ini
mulai kosong oleh orang – orang setelah menjalankan shalat magrib, karna hanya
dia dan Tuhan yang berada disana.
“Ya Allah Ya Tuhanku, ampuni dosa – dosaku ini, tidak ada yang
bisa mengampuni dosa – dosaku ini selain Engkau Ya Allah”
Setelah beberapa saat merenung, Zafran pun memutuskan untuk pulang
ke rumah, padahal barang dagangannya masih banyak, setelah selesai shalat
magrib biasanya Zafran kembali melanjutkan perjalanannya, karna biasanya habis
magrib adalah waktunya makan malam dan biasanya anak – anak kos mulai mencari –
cari makan pada jam segini.
Sepanjang perjalanan pulang fikiran Zafran mulai tidak karuan, dia
terus saja memikirkan kejadian tadi sore, dia sengaja pulang memutar dari rute
yang biasa dia lewati untuk pulang karna dia takut kalau – kalau melewati rumah
besar tadi lagi dia kembali berjumpa dengan Rania dan Risma dan ini bisa
membuatnya menjadi semakin tidak karuan rasa.
***
Sesampainya di rumah, setelah membersihkan gerobak dan
barang dagangannya yang tidak habis tersebut. Tiba – tiba ibu Zafran keluar.
“Zafran kenapa cepat sekali baliknya nak ?” tanya ibunya.
“Zafran agak kurang enak
badan mak” jawab Zafran kurang semangat.
“Oh gitu, ayo cepat kamu mandi dulu sana, biar kita makan sama –
sama, emak baru selesai masak ni” Ibu Zafran
mulai curiga, pasti ada sesuatu hal yang membuat Zafran menjadi kurang
bersemangat seperti ini dan tidak seperti biasanya. Naluri seorang ibu memang
sangat kuat apabila sesuatu terjadi menimpa anaknya.
“Iya mak, nanti dulu deh Zafran mau rebahan dulu sebentar di
kamar, emak makan duluan ajah yah” pinta
Zafran.
”Ya sudah kalau begitu emak makan duluan yah”
Perasaan seorang ibu memang tidak bisa didusta, selama ibu Zafran
makan beliau memikirkan kenapa anaknya bisa menjadi tiba – tiba seperti ini, karna
biasanya meskipun tidak enak badan semangat Zafran yang menggebu – gebu itu
selalu menjadi obat penawar bagi badannya sendiri.
Selesai makan, ibunya mengetuk pintu kamar Zafran.
“Zafran, kamu mau makan tidak ?” tanya ibunya dari luar.
“Zafran kenyang mak . . .” jawaban
dari dalam.
“Boleh emak masuk kah zaf ?” tanya
ibunya lagi.
“Iya mak, masuk aja kamarnya tidak terkunci”
Setelah masuk, ibu Zafran mulai curiga dan penasaran ketika
melihat anaknya rebahan sambil memandangi foto anak dan istrinya sambil
menagis.
Ibunya pun langsung menghampiri Zafran yang sedang rebahan di
kasurnya itu, sambil membelai lembut kepalanya.
“Kenapa kamu Zaf ? kok emak lihat kamu menangis ?” tanya ibunya heran.
“Zafran kangen Rania mak” jawaban
singkat Zafran diiringi dengan tangisan yang keluar dari matanya.
Zafran tak kuasa menahan lirih ini, dia langsung memeluk ibunya.
“Sabar yah nak, perbanyak do’a Zaf, semoga Allah mempertemukan
kamu lagi sama Rania” nasehat ibunya.
Suasana heningpun sangat terasa di dalam kamar itu, tangis Zafran
pecah dipangkuan ibunya, tidak ada yang bisa dilakukan ibunya selain terus
membelai kepala anaknya tidak tampak masa lalu seorang perampok kelas kakap
yang selama ini tersemat dipundak Zafran karna keberaniannya merampok sebuah
Bank milik pemerintah. Dahulu ketika mendengar nama Zafran orang – orang yang
mengenalnya akan mulai bergetar karna Zafran juga terkenal dengan
keberingasannya ketika menyiksa para korban perampokannya meskipun dia tidak
pernah membunuh para korbannya, sekarang keadaan itu berubah seratus delapan
puluh derajat.
Tiba – tiba Zafran pun bangkit dan menyeka air matanya, Zafran
mencoba tegar dan ingin membagi kepiluan hidupnya kepada ibunda tercinta yang
selama ini menjadi satu – satunya penyemangat Zafran untuk terus berjuang agar
memiliki kehidupan yang lebih baik.
“Ada yang mau Zafran, ceritakan mak” Zafran lirih
“kamu mau cerita apa nak ?”
“Tadi waktu Zafran berjualan di daerah HKSN . . .”
Zafran mulai menceritakan apa yang telah dialaminya tadi sore,
hampir 2 jam Zafran bercerita tentang perasaannya ketika mengalami hal yang
baru saja terjadi.
Mendengar cerita dari Zafran, ibunya pun tak kuasa menahan air
matanya. Beliau sangat merasakan bagaimana pilunya perasaan Zafran yang bertemu
dengan Rania, namun Rania sedikitpun tidak bisa mengenalinya. Sedangkan Zafran
tidak bisa berbuat apa – apa karna dia merasa malu dan mungkin akan lebih
membuat malu Rania lagi apabila dia mengaku sebagai ayah kandungnya.
***
Hampir 1 minggu
Zafran tidak berjualan, dia ingin menenangkan diri dulu sejenak, karna kejadian
tempo hari itu.
Zafran mulai banyak beribadah, setiap shalat 5 waktu dia pasti ke
mesjid dekat rumahnya, para tetangga – tetangganya pun heran melihat kejadian
ini, bagaimana tidak Zafran yang 10 tahun lalu menjadi bandit dikampung itu
sekarang menjadi orang yang shaleh, sebelumnya Zafran tidak pernah mau shalat
di mesjid itu, dia cenderung menutup diri sekembalinya dari penjara, setelah
pulang berjualan biasanya dia langsung mengurung diri di rumah dan mengerjakan
shalat hanya di rumah saja.
Setiap selesai shalat berjamaah tiada hentinya dia berdoa memohon
ampunan kepada Allah sampai – sampai setiap doa diiringi dengan tangisan
penyesalan akan dosa – dosa di masa lalunya.
Sampai suatu ketika selesai mengerjakan shalat isya berjamaah di
mesjid, tanpa sadar Zafran merebahkan dirinya sebentar di pelataran mesjid
tersebut, lalu tertidur.
Di dalam mimpinya tersebut, Zafran bertemu dengan sesosok orang
yang berpakaian serba putih yang menyilaukan, orang itu lalu mendekati Zafran
dan semakin orang berpakaian putih itu mendekat, Zafran semakin mengenali sosok
itu.
“Abah…Abah…Abah” panggil
Zafran
Orang tua itu pun mendekat lalu memeluk Zafran dengan erat, beliau
lalu membawa Zafran ke suatu tempat yang sangat indah, lalu orang tua itu
berkata.
“Zafran sekarang ini adalah tempat yang baru bagiku . . .” kata orang tua itu.
Zafran mulai kebingungan, dimana sekarang dia berada. Dengan penuh
kebingunan Zafran lalu bertanya.
“Abah, kita sekarang ada di mana ?” tanya Zafran.
Orang tua itu hanya tersenyum, lalu berkata.
“Dahulu tempatku tidak seperti ini nak, karena kamu lah sekarang
Allah memberikan tempat seindah ini kepadaku . . . “ jawab orang tua ini seraya tersenyum.
Lalu tiba – tiba Zafran pun langsung terbangun, dan tidak terasa
airmatanya mengalir membasahi pipinya. Dilihatnya jam sudah menunjukkan
angka 12 malam.
“Astagfirullah, aku ketiduran disini”
Zafran pun bergegas pulang dia takut kalau – kalau ibunya menunggu
kedatangannya. Di dalam perjalanan pulang Zafran masih bertanya – tanya tentang
mimpi yang baru saja dialaminya.
Sesampainya di rumah, ternyata ibunya sudah terlelap tidur. Zafran
langsung mengambil air wudhu dan mengerjakan shalat tahajud 2 rakaat, lalu
langsung masuk kamar, namun mimpi yang baru saja dia alami tadi masih terbayang
– bayang dibenak Zafran.
Keesokan paginya, Zafran menceritakan perihal mimpinya kepada
ibunya, ibunya pun tersenyum karna mimpi Zafran tersebut.
“Mungkin Abahmu sedang memberitahumu kalau beliau sudah berada di
taman – taman surga Zaf . . .”
“Aminn Ya Allah”
“Sudah cukup Zafran membuat sakit hati Abah sewaktu beliau hidup
dulu ma, sekarang Zafran sudah taubat dan ingin membalas kebaikan abah dengan
selalu mendoakan abah, meskipun beliau sudah tidak ada . . .”
***
Seminggu waktu
yang sangat cukup untuk menenangkan diri bagi Zafran, semangatnya mulai kembali
memuncak. Sekarang motivasinya adalah bagaimana caranya membuat Rania tahu
bahwa dia adalah ayah kandung sebenarnya dan tanpa membuat gadis ABG cantik ini
menjadi malu karna profesinya.
Berhubung hati Zafran masih belum kuat ketika melihat anak dan
istrinya, dia sengaja merubah rute yang biasanya, dia sebisa mungkin
menghindari lewat tepat di depan rumah besar yang ditinggali istri dan anaknya
tersebut.
Akhirnya, setelah hampir 1 tahun lebih berjualan nasi goreng
keliling Zafran memiliki modal yang cukup untuk membuka sebuah warung makan dan
dia mempekerjakan 3 orang karyawan untuk membatunya, dengan modal itu dia
awalnya menyewa sebuah tempat kecil di jalan cemara, karena nasi gorengnya
sudah dikenal enak di daerah kayu tangi dan sekitarnya bahkan sudah mulai
merebak ke beberapa daerah seperti sutoyo s, handil bhakti dan HKSN. Tempat
kecil itu pun tidak bisa lagi menampung banyaknya pengunjung yang datang,
Zafran pun akhirnya memberanikan diri untuk membeli sebuah ruko di daerah
kayutangi yang lokasinya tepat dipinggir jalan tersebut, dengan membayar uang
muka dan untuk sisanya kredit di Bank, maka sebuah ruko berlantai dua itu
jadilah miliknya.
Ruko tersebut lumayan besar dan pasti cukup menampung pelanggan
Zafran yang semakin membludak, dia pun sekarang memperkerjakan 15 orang
karyawan untuk membantunya mengelola rumah makan tersebut. Zafran mulai
mendekorasi ruko tersebut, Ruko dicat ulang dengan warna kesukaannya yaitu
merah bercampur kuning yang menandakan keoptimisan serta perjuangan.
Terpampanglah sebuah baliho besar yang bertuliskan “Nasi Goreng
bang Zaf”, ini untuk pertama kalinya dia memberi nama rumah makannya
setelah memiliki tempat sendiri, nama itu adalah nama panggilan yang biasa
diberikan pelanggannya sewaktu dia masih menjadi pedagang keliling.
Keharuan tampak di wajah Zafran dan ibunya, ketika pembukaan rumah
makannya tersebut. Di hari pertama, Zafran sengaja menggratiskan semua nasi
gorengnya untuk 100 orang pelanggan pertama yang datang. Sontak saja, spanduk
yang bertuliskan “Hari pertama buka, Gratis sepiring Nasi goreng plus es teh
untuk 100 orang pertama”. Dalam hitungan jam 100 piring nasi goreng ludes
dipesan.
***
Tidak terasa
waktu begitu cepat berlalu, sudah hampir 5 tahun semenjak Zafran bebas dari
penjara, berkat usaha dan kerja kerasnya kini dia menjadi salah seorang
pengusaha kuliner sukses di Kota seribu sungai ini.
Dari seorang pedagang nasi goreng keliling hingga menjadi bos
rumah makan yang sudah memiliki beberapa cabang di beberapa kota di Kalimantan
selatan ini, kini Zafran bisa membeli sebuah rumah besar di daerah kayu tangi
dan menaikkan haji ibunda tercintanya bahkan Zafran memiliki beberapa mobil mewah.
Dari semua anugerah yang didapatkan Zafran tersebut, sebenarnya di
dalam hatinya yang paling dalam masih saja menyisakan kepiluan yang teramat
sangat karna sampai saat ini dia masih belum bisa menemui anak semata
wayangnya, Rania. Sampai saat inipun Zafran tidak pernah menikah lagi, karna
dia sebenarnya masih mencintai Risma istrinya, meskipun Risma sudah menjadi
istri orang lain.
Sampai suatu hari, Zafran menerima sebuah surat undangan
perkawinan yang salah alamat yang dikirimkan ke alamat rumah ibunya dahulu yang
sekarang sudah dijual kepada orang lain. Orang tersebut datang ke rumah
makannya dan memberitahukan kepada Zafran bahwa undangan yang dikirimkan
tersebut sebenarnya untuk ibu Zafran.
Setelah surat undangan tersebut dibuka dan dibaca oleh ibu Zafran,
seketika beliau meneteskan air matanya, hal ini membuat Zafran sedikit
kebingungan melihat ibunya menangis.
“Kenapa emak menangis mak ?” tanya
Zafran keheranan.
“Ini undangan perkawinan Rania anakmu zaf” jawab ibunya lirih.
Zafran sontak terdiam sejenak lalu matanya mulai berkaca – kaca.
“Alhamdulillah” seru Zafran
agak pelan.
Sambil mengusap air mata yang tidak terasa membasahi wajahnya,
Zafran pun memberanikan diri untuk membaca surat undangan tersebut.
Meskipun tidak pernah tahu siapa sebenarnya ayahanda tercintanya
karna waktu Zafran buron lalu tertangkap polisi, Rania baru berusia 3 tahun,
namun di surat undangan tersebut tetap tertulis Rania Putri binti Zafran. Hal
ini yang membuat Zafran sangat bahagia.
Memang tidak ada yang bisa memutuskan pertalian darah antara anak
dan ayah.
“Acaranya minggu depan mak” ucap
Zafran masih lirih.
“Temui Rania Zaf,
beritahu dia bagaimana keadaanmu sekarang. Jangan sampai pernikahannya
berlangsung dia tidak pernah mengetahui siapa Zafran, ayahnya. Karna dia
terlalu kecil waktu kamu masuk penjara dulu”
Ucapan ibunya membuat semangat Zafran untuk menemui anak semata
wayangnya menjadi semakin kuat. Ditambah Zafran sekarang menjadi seorang
pengusaha yang sukses jadi tidak akan membuat Rania malu bila mengetahui siapa
sebenarnya ayahnya sekarang.
***
Setelah menerima
undangan tersebut, sore harinya Zafran langsung memutuskan untuk mencari sebuah
kado yang istimewa untuk Rania yang akan menikah.
Mengelilingi kota Banjarmasin untuk mencari sebuah kado pernikahan
bukanlah perkara sulit, dengan banyaknya sekarang toko – toko yang menawarkan
berbagai macam aksesoris dan kado untuk pernikahan.
Akhirnya setelah memasuki beberapa toko, dia memilih untuk pergi
ke mall dan memutuskan untuk membelikan Rania sebuah jam tangan mewah yang
bertabur berlian seharga hampir 50 juta rupiah.
Sesampainya di rumah Ibu Zafran terkejut setelah mengtahui Zafran
membelikan sebuah jam tangan mewah untuk Rania.
“Zaf, kadomu untuk Rania itu tidak kemahalankah ?” tanya ibunya.
“Untuk Rania berapapun harganya pasti akan Zafran beli, mak” jawab Zafran sambil tersenyum.
“Harga 50 juta itu tidak akan pernah bisa menggantikan waktu yang
terbuang sia – sia karna kebodohan Zafran dulu, sehingga membuat Rania tidak
pernah tahu siapa ayahnya sebenarnya dan tumbuh dengan orang yang bukan
ayahnya” sambung Zafran.
“Memang benar Zaf, tidak ada yang lebih berharga dalam hidup ini
selain hidup bersama keluarga dan bisa menyaksikan anak kita tumbuh besar dan
berkembang” tutur Ibunya menasehati Zafran.
“Iya mak, besok Zafran akan mengirimkan jam tangan ini langsung ke
rumah Rania”
***
Suasana di sebuah
rumah besar di daerah HKSN itu agak sepi, hanya ada beberapa orang pembantu
rumah tangga yang sedang membersihkan pagar dan pekarangan rumah tersebut,
karna si empunya rumah mau mengadakan hajatan besar.
Sebuah mobil Mercy berjalan lambat lalu berhenti tepat di depan
pagar rumah besar tersebut, Zafran lalu keluar dari mobil mewah tersebut, dia
menenteng sebuah kotak kado kecil yang berisi jam tangan mewah yang akan
diberikannya langsung kepada Rania.
“Assalamualaikum, permisi mas” kata
Zafran sambil menengok ke dalam pagar rumah itu.
“Wa’alaikumsalam, mau mencari siapa pak ?” tanya salah seorang
pembantu yang ada di situ.
“Ranianya ada dirumah mas ?” tanya
Zafran.
“Wah, mba Ranianya baru saja tadi jalan pak sama ibunya. Ada yang
bisa saya bantu pak ?”
Niatan untuk menyerahkan langsung kado pernikahan kepada Rania pun
tidak bisa dilakukan Zafran. Dia ingin menyerahkan langsung dan ingin sekali
melihat langsung Rania sekarang dan ingin memberitahukan bahwa dia adalah anak
kandungnya.
“Oh begitu yah, waduh. Ya sudah kalu begitu mas saya permisi yah.
terima kasih” Zafran pamit.
“Iya pak sama – sama” sahut
pembantu itu.
Berhubung kado yang ingin diberikan tidak bisa langsung diberikan,
dengan wajah lesu Zafran langsung pulang menuju salah satu rumah makannya.
Disana dia duduk merenungi dan memandangi sebuah foto kecil ketika Rania baru
berumur 1 tahun dalam gendongan Risma istrinya, foto itulah yang selama ini
menjadi penawar rindunya kepada Rania.
***
Hari
pernikahanpun tiba, rencananya acara pernikahan tersebut langsung disambung
dengan resepsi perkawinan kedua mempelai.
Rumah besar nan megah tersebut pun bersolek dengan indahnya bak
istana kerajaan, banyak karangan bunga yang mengucapkan selamat kepada kedua
mempelai baik dari para keluarga maupun kolega.
Dari banyak karangan bunga tersebut, ada sebuah karangan bunga
yang nampak lebih besar dari yang lain, karangan bunga tersebut kelihatan
cantik dengan berbagai macam bunga yang menghiasinya, karangan bunga tersebut
adalah dari Zafran, meskipun datang paling terakhir namun punya Zafran paling
besar diantara semuannya dan itu banyak menarik perhatian para undangan yang
datang bahkan tidak sedikit yang berfoto di depan karangan bunga tersebut.
Di rumah Zafran, Zafran mengenakan pakaian sasirangan kesukaannya
dia bercermin mencoba melihat – lihat dari berbagai sisi apakah sudah sesuai
dengan keinginannya, Zafran tampak gagah dan berwibawa mengenakan sasirangan
tersebut, dia menyisir rambutnya kebelakang, lalu memakai farfum mahal dan
selesai.
Tidak ada yang mengetahui akan kedatangan Zafran ini kepernikahan
Rania, karna Risma hanya mengundang ibundanya sendiri dan tidak pernah pula ada
kabar bahwa Zafran sudah lama sekali keluar penjara dan akan datang ke
pernikahan anaknya, namun karna yang menikah adalah Rania darah dagingnya
sendiri, meskipun tidak ada undangan Zafran tetap merasa berhak untuk menyaksikan
pernikahan anaknya.
Dengan menuntun sang ibunda yang sudah mulai renta, untuk memasuki
mobil Mercynya Zafran lalu masuk dan duduk disebelah ibunya dan merekapun
berangkat dengan ditemani oleh seorang supir.
Sesampainya disana, para undangan sudah mulai banyak, karna acara
resepsi 30 menit lagi akan dimulai, banyak keluarga dari kedua mempelai
menerima dan menyambut tamu yang hadir ke acara tersebut termasuk Risma sendiri
beserta suami barunya.
Mereka berduapun keluar dari mobil tersebut, Zafran langsung
memerintahakan sopirnya untuk tidak memarkirkan mobilnya terlalu jauh agar
ibunya berjalan tidak terlalu jauh. Setelah sampai di depan pagar rumah itu,
Risma langsung menghampiri ibu Zafran dan dia langsung mencium tangan serta
memeluk erat beliau, Zafran pun menjadi terharu karna Risma masih mengingat
mantan mertuanya dahulu.
Risma sebenarnya tidak menyadari bahwa orang yang menuntun mantan
Ibu mertuanya itu adalah Zafran mantan suaminya dulu.
“Emakkkk, apa kabar ?” tanya Risma
dengan ramah seraya mencium tangan dan memeluk beliau, tidak terlihat muka acuh
diwajahnya, wajah Risma sama seperti 15 tahun yang lalu tetap cantik dan manis
meskipun sudah mulai ada keriput dikulitnya karna termakan usia.
Zafran terdiam sejenak, dia hanya bisa mematung melihat Risma yang
tidak melupakan Ibunya, dan begaimana tidak inilah untuk pertama kalinya Zafran
melihat langsung wajah Risma setelah kejadian beberapa tahun silam sewaktu dia
masih menjual nasi goreng keliling.
“Alhamdulillah baik, nak Risma” jawab
emak membalas pelukan hangat dari Risma.
“Alhamdulillah, emak sama siapa kesini ?” tanya Risma.
Pertanyaan itu membuat Ibu Zafran sejenak terdiam, beliau hanya
bisa memalingkan wajahnya ke arah Zafran dan menunjuknya.
Tiba – tiba, Risma mengarahkan pandangannya kepada sosok yang
berada dibelakang mantan ibu mertuanya tersebut. Dan . . .
Suasana hening tiba – tiba menghampiri mereka, setelah Risma dan
Zafran bertemu pandang, terjadilah keharuan yang sangat mendalam diantara
mereka bertiga.
“Bbb…bbb…aaang Zafran” Risma
terbata setelah melihat langsung ke arah Zafran.
Zafran hanya membalasnya dengan tersenyum, dia mencoba untuk tetap
tenang dan tidak terbawa emosi.
“Rismaa, Apa kabar ?” Zafran
seraya tersenyum memberikan tangannya untuk bersalaman.
Zafran mencoba untuk tetap mengontrol emosinya dan tetap bersikap
sopan, karna dia sedang berada di acara pernikahan anaknya bukan acara reuni
keluarga.
Lama Risma terhenyuk menahan emosi di dadanya, dia merasa bahwa
ini adalah sebuah keajaiban karna ayah kandungnya Rania yang selama ini
dikiranya masih di dalam penjara bahkan dia sempat berfikiran bahwa Zafran akan
dibawa ke LP Nusakambangan tempatnya para penjahat kelas kakap dihukum, datang
langsung untuk menyaksikan pernikahan anaknya.
Perasaan Risma saat itu campur aduk, antara malu lantaran
meninggalkan Zafran begitu saja dan menikah dengan laki – laki lain dan bahagia
karna sekarang dia bisa melihat Zafran sudah bebas dan terlihat sukses.
“Alhamdulillah baik bang, abang sendiri gimana keadaannya ?” jawab Risma masih saja tidak percaya dengan keberadaan Zafran ini.
“Alhamdulillah baik juga” Zafran
memberatkan suaranya agar terdengar lebih berwibawa.
“Oh ya sekarang Rania ada dimana ? boleh aku menemuinya ? aku cuma
ingin mengucapkan selamat kepadanya dan ingin sekali melihatnya untuk yang
terakhir kalinya sebelum dia dipinang oleh orang lain”
“Rania ada di kamar bang dia lagi siap – siap, ayo Risma anterin
abang sama Rania biar dia bisa tahu bagaimana sekarang abang” suasana hening kembali cair setelah Risma ingin mempertemukan
Zafran dengan anak semata wayangnya.
Risma lalu meminta izin kepada suaminya untuk mengantarkan Zafran
ke kamar atas untuk menemui Rania. Meskipun sempat ikut terkejut suami Risma
mengizinkannya untuk mempertemukan Zafran dengan Rania. Ibunda Zafran hanya
bisa menunggu di antara para undangan.
Di dalam sebuah kamar di lantai atas rumah besar tersebut, ada
seorang perempuan yang sangat cantik sedang di make up, dan dipakaikan sebuah
busana pengantin yang sangat anggun. Itu adalah Rania.
Seraya memasuki kamar tersebut Risma tidak bisa berkata apa – apa
lagi.
“Rania sudah selesai nak ?”
“Belum mah, sebentar lagi”
“Ini ada yang mau bertemu kamu nak”
Rania heran kenapa ingin bertemu pas disaat sedang sibuk seperti
ini.
“Siapa mah, tunggu sebentar”
Lalu Rania pun dibawa keluar kamar tempat Zafran menunggunya,
Rania menjadi bingung ketika Risma menuntunnya untuk menemui seorang lelaki
yang agak berwibawa itu.
Rania yang heran itupun lalu memberikan senyum kepada Zafran,
jantung Zafran seolah berhenti ketika anak semata wayangnnya berdiri tepat
didepannya.
“Ada apa mah ?” tanya Rania
kepada Risma.
Sejenak Risma terdiam, lalu air matanya mengalir. Melihat hal ini
membuat Rania semakin kebingungan.
“Loh, kenapa mamah jadi menangis ?”
“Rania sayang, manusia memanglah tidak sempurna, tapi Tuhan
memiliki segala kesempurnaan, hidup kita memang sangat misteri, terkadang Tuhan
memberikan sesuatu yang jelek kepada kita padahal itu adalah yang kita butuhkan
untuk belajar. Dihari bahagiamu ini Tuhan telah memberikan kado spesial buat
kita nak, lelaki yang dihadapanmu ini adalah Zafran ayahmu”
Sontak tangis ibu dan anak ini pun pecah mereka langsung
berpelukan, meskipun Zafran pernah berbuat salah dimasa lalu tapi nampaknya
mereka berdua sudah memaafkan dan seolah sangat merindukan kehadiran Zafran
selama ini.
Lalu dengan airmata yang terus mengalir di pipinya Rania lalu
mencium tangan Zafran lalu memeluknya dengan erat, seolah – olah selama ini dia
merindukan dekapan hangat dari sang ayah. Zafranpun ikut menangis lalu dia
menciumi anaknya Rania yang sebentar lagi akan menjadi pengantin.
“Maafkan ayah selama ini nak, tidak bisa melihat dan mendampingimu
tumbuh dan berkembang, jujur ayah sangat merindukanmu Rania”
Airmata Zafran pun mulai menetes, dia berharap sang anak bisa
menerima semua takdir ini. Dan Zafran berjanji akan memberikan yang terbaik
bagi Rania apabila Rania membutuhkannya.
Rania agak cemberut, dia tidak tahu harus marah atau tidak kepada
Zafran tentang masa lalunya. Tapi pemikiran Rania yang begitu dewasa meskipun
usianya baru 18 tahun, tidak membuat dia merasa kecewa dengan semua ini, karna
dia merasa bersyukur meskipun tidak tahu siapa ayahnya sebenarnya, namun ayah
tirinya sangat menyayangi dirinya ditambah pula setelah pernikahan kedua Risma
tidak dikaruniai anak sehingga Rania tetap menjadi anak semata wayangnnya.
“Ayah takdir dari Tuhan siapa yang tahu, kita manusia hanya bisa
berusaha karna keputusan akhirnya adalah Tuhan. Ayah maafkan juga Rania yang
tidak pernah ingin mencari tahu dimana ayah sekarang, bagaimana keadaannya,
apakah dia bahagia atau tidak, Rania selalu berdoa semoga ayah selalu bahagia” ucap Rania dengan bijaknya.
“Terima kasih sayang, bolehkah ayah kembali memelukmu dan
menciummu sayang ?” pinta Zafran.
“Ayah, Rania kangeeeen bangett” seraya
memeluk kembali ayahnya.
Suasana itu pun tampak sangat mengahrukan namun tetap
membahagiakan bagi semuanya.
“Sekarang kamu kerja dimana bang ?” tanya Risma.
“Alhamdulillah, sekarang abang membuka rumah makan” jawab Zafran.
“Alhamdulillah, Dimana lokasinya yah ?” balas Rania.
“Kamu tahu ‘Nasi goreng bang zaf’ ?”
“Iya tahu, Rania pernah beberapa kali makan disana.”
“Nah itu punya ayahmu ini sayang” seraya tersenyum penuh bangga dengan hasil kerjanya selama ini di
depan kedua orang yang disayanginya ini.
“Ooohh rumah makan itu punyanya ayah yah, Subhanallah. Wah itu
salah satu rumah makan favorit Rania yah” jawab
Rania penuh bangga.
“Bang Zafran hebat yah sekarang, kami jadi ikut bangga, abang
sudah jadi pengusaha rumah makan terkenal di Banjarmasin ini” tambah Risma.
“Nanti kalau kalian ada waktu mampir aja yah disana, nanti ayah
buatkan nasi goreng spesial buat kalian” jawab
Zafran lagi.
Keduanyapun tersenyum mendengar ucapan dari Zafran tadi.
Suara langkah kaki menaiki tangga terdengar . . .
“Rania akadnya sudah mau dimulai sayang” itu dari ayah tirinya Rania seraya menunjuk ke jam tangannya,
beliau bernama Arkand, seorang pengusaha batubara yang meminang Risma setelah
istrinya meninggal dunia karena kecelakaan.
Pak Arkand adalah orang yang sangat baik dan sopan terhadap semua
orang, beliau adalah keturunan Arab-banjar. Beliaulah yang selama ini ikut
merawat dan membesarkan Rania penuh dengan kasih sayang meskipun Rania bukan
anak kandungnya, sehingga Rania tidak kehilangan sosok seorang ayah sepeninggal
Zafran yang menjalani masa hukuman.
Pak Arkand pun menghampiri mereka bertiga yang terlihat mematung .
. .
“Pak Zafran, terima kasih sudah berhadir diacara kami” ucap pak Arkand seraya tersenyum.
“Iya sama – sama pak, hari ini saya sangat bahagia bisa melihat
Rania bersanding dipelaminan” sambil
membalas senyuman dari pak Arkand.
“Terima kasih pak, selama ini sudah menyayangi dan merawat Rania
dengan baik. Sehingga Rania tidak pernah kehilangan sosok seorang ayah di
hidupnya. Saya tidak akan pernah bisa membalas kebaikan bapak yang sudah
memberikan yang terbaik untuk kehidupan Rania. Sekarang Rania juga anak bapak” tambah Zafran.
“Walau bagaimanapun kita semua sayang sama Rania . . .” balas pak Arkand seraya tersenyum dan mencium pipi Rania
lalu memeluknya.
“Terima kasih pah, aku sayang sama papah” balas Rania dengan genit.
“Oh iya, ini ada hadiah dari saya untuk Rania. Cuma nanti saja
dibukanya yah, habis akad nikahnya saja” pinta
Zafran seraya memberikan sebuah kotak kecil yang berisi jam tangan mewah yang
tempo hari dibelinya khusus untuk Rania.
“Wow terima kasih ayah” balas Rania
dengan penuh keceriaan.
Rania merasa hari ini hidupnya semakin lengkap selain akan menikah
akhirnya dia bertemu dengan ayah kandungnya selama ini dan mereka pun akhirnya
menuju ke lantai bawah yang sudah penuh dengan para tamu yang hadir untuk
memulai proses akad nikah.
***
Setelah proses
akad nikah selesai, Zafran merasa sudah tenang karna melihat langsung putri
semata wayangnya telah menikah. Meskipun tidak bisa menikahkan langsung, namun
di dalam dadanya terpancar kebanggaan karna anaknya sekarang sudah ada yang
meminang.
Begitu akad nikah selesai, kedua pengantin langsung disandingkan
di sebuah pelaminan yang besar dan mewah. Zafran hanya bisa memandangi Rania
dari jauh karna dia merasa tidak berhak untuk ikut berdiri mendampingi Rania
dipelaminan.
“Cukup Risma dan pak Arkand saja yang mewakili saya” ketika beberapa orang keluarga yang sudah mengetahui cerita mereka
meminta untuk Zafran ikut naik ke pelaminan untuk mendampingi anaknya, Rania.
Hari sudah hampir sore, tamu – tamupun sudah mulai berkurang,
Zafran yang sedari tadi duduk santai bersama ibunya di salah satu sudut ruangan
itu pun akhirnya pamit untuk pulang. Mereka berdua pun segera menaiki ke
pelaminan untuk memberikan selamat kepada kedua mempelai.
“Selamat yah sayang, Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah,
doa ayah selalu menyertaimu sayang, maafkan ayah tidak bisa menemani kalian sampai
acara selesai. Ayah selalu bersyukur atas hari ini, hari yang sangat
membahagiakan bagi ayah, ayah tidak akan pernah melupakan hari ini. Jadilah
istri yang sholehah nak, dan berbakti kepada suamimu. Ingat sayang, diluar sana
ada seorang ayah yang selalu mencintai dan menyayangimu nak.”
Zafranpun memeluk Rania lalu mencium kepalanya tanda memberikan
restu kepada anaknya.
“Selamat yah nak, semoga kamu bisa menjadi suami yang sholeh,
tuntunlah istrimu, ajari dia ilmu agama, sayangi dia dengan setulus hati,
jangan pernah membuat hatinya terluka. Doaku selalu menyertai kalian berdua
nak”
Zafran juga memberikan sedikit nasehat kepada suami dari Rania,
dia tidak ingin suaminya seperti dia dulu yang telah menyia – nyiakan
keluarganya akibat dari salah pergaulan.
Sebelum keluar meninggalkan rumah itu, Zafran memalingkan sebentar
badannya ke arah pelaminan, lalu melambaikan tangannya ke arah kedua mempelai
yang dibalas dengan lambaian tangan dari kedua mempelai dan keluarganya.
Zafran sangat bahagia hari ini, tidak ada yang lebih membahagiakan
di hidup ini selain bisa menyaksikan langsung pernikahan anak tercinta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar