Minggu, 24 Mei 2015

Kisah Hidup


Zafran Sang Pengusaha

Hari ini tanggal 4 Januari 2010, merupakan hari dimana Zafran dinyatakan bebas setelah menjalani 10 tahun masa hukuman dibalik jeruji besi akibat perampokan sebuah bank yang dilakukan oleh kelompoknya sekitar 11 tahun yang lalu.
Hari itu suasana dipenjara yang berada di daerah teluk dalam kota Banjarmasin terlihat lengang, tidak banyak aktivitas yang terlihat dari para penghuninya, hanya satu dua orang sipir yang terlihat sedang sibuk mengurusi sesuatu.
Di dalam sebuah sel, Zafran mulai memeluki teman satu selnya satu persatu, keharuanpun tiba – tiba menyeruak di dalam sel tersebut, merekalah yang selama ini menjadi keluarga kedua bagi Zafran, teman berbagi suka maupun duka selama menjalani masa hukuman yang panjang, tidak terasa sudah 10 tahun Zafran menjadi penghuni Lapas tersebut dan hari ini adalah hari dimana dia bisa menghirup udara bebas.
Setelah selesai berpamitan, Zafran lalu dibawa oleh seorang sipir ke sebuah ruangan kecil untuk mengurus surat pembebasan, disana Zafran menandatangani beberapa surat dan dokumen tentang proses kebebasannya.
 “Zafran, bagaimana keadaan kamu hari ini ?” tanya seorang sipir yang mengurusi surat kebebasannya.

“Alhamdulillah baik pak, bahagia selalu” jawab Zafran setengah bercanda dengan sipir tersebut. 

Zafran menganggap semua sama baik sipir maupun para napi tidak jarang dia ikut bercengkrama bersama para sipir ketika mereka sedang istirahat begitupun sebaliknya.
“Ini silakan tanda tangan dulu disini” pinta sipir tersebut sembari tersenyum.
“Baik pak”
Setelah selesai menandatangani, Zafran pun berpamitan dengan beberapa sipir yang ada diruangan tersebut.
“Nah, saudara Zafran sekarang kamu dinyatakan telah bebas” kata sipir tersebut sambil menyalami Zafran.
Zafran pun tersenyum dan balas menyalami sipir tersebut lalu tanpa bisa mengontrol emosinya Zafran langsung memeluk sipir tersebut dengan erat tanda sangat bahagis telah bebas.
“Terima kasih pak” Airmatanya pun tak bisa terbendung lagi membasahi seluruh pipinya.
“Iya sama – sama Zaf, saya sangat berharap kamu tidak pernah lagi balik kesini yah. Ingat setelah keluar dari sini jadilah manusia yang lebih baik, carilah pekerjaan yang halal, ingat anak istrimu yang menunggu kamu dirumah, jangan lagi kamu beri makan yang tidak halal untuk mereka” nasehat pak sipir tersebut.

“Insya Allah pak, doakan saya pak” jawab Zafran penuh haru.
Zafran pun akhirnya diantarkan oleh seorang sipir menuju pintu keluar Lapas.
Sesampainya diluar Lapas, Zafran berhenti sejenak dia lalu memalingkan mukanya ke arah Lapas dan kembali meneteskan airmata, karena Lapas inilah yang selama ini menjadikan tempat dimana dia ditempa dari seorang penjahat menjadi seorang yang lebih baik, banyak kenangan yang dia alami di lapas ini.
Setelah beberapa saat terdiam Zafran pun meninggalkan lapas tersebut.
***
            Setelah meninggalkan komplek lapas tersebut, Zafran mengalami kebingungan yang luar biasa, setelah 10 tahun banyak yang berubah dengan kota ini seperti banyaknya ruko – ruko yang dibangun disepanjang jalan sutoyo s. ini.
Zafran pulang menggunakan sebuah angkutan umum yang dia hentikan dipinggir jalan, dengan maksud pulang menuju ke rumahnya dahulu di daerah jalan veteran, namun dia tidak langsung kesana, dia ingin sekali menjenguk kedua orang tuanya terlebih dahulu yang berada di daerah kayutangi lalu selanjutnya langsung menuju rumahnya di jalan veteran.
“Aku sangat rindu emak dan abah” gumam Zafran dalam hati.
Setelah menumpang angkutan umum lalu diteruskan dengan memakai jasa tukang ojek, sampailah Zafran di rumah orangtuanya, rumah sederhana bercat warna biru tua yang sudah mulai kusam karna termakan usia.
“Assalamualaikum” kata Zafran sambil mengetuk pintu rumah tersebut.
Setelah beberapa saat menunggu, jawaban akhirnya datang dari dalam.
“Wa’alaikumsalam” sahutan dari dalam, sesosok perempuan tua mulai membuka pintu rumah tersebut.
“Emmmaaaak” seketika itu Zafran langsung memeluk perempuan tua tersebut.
Perempuan tua tersebut pun sontak terkejut dan merasa kebingungan ketika tiba – tiba saja dipeluk oleh seseorang yang memanggilnya “emak” panggilan sayang yang biasanya diucapkan oleh anak – anaknya.
“Emak ini Zafran mak” sambil memeluk erat tubuh ibunya.
“Zafran kau kah ini nak ?” jawab emaknya setengah lirih.
“Iya mak, ini Zafran. Zafran baru saja bebas mak” tangis Zafran kembali membuncah.
“Zafraaan anakku” beberapa saat kemudian pecahlah pula tangis ibunya. 
Setelah beberapa saat mereka berpelukan untuk melepas rindu. Akhirnya ibu Zafran mempersilakan Zafran untuk masuk.
“Ayo kita masuk zaf” ajak ibunya.
“Iya mak, mari kita masuk” jawab Zafran.
 Setelah itu mereka berdua duduk dibangku tua dirumah tersebut.
“Bagaimana kabar emak ? kok sepi mak ? abah kemana sama Rita” tanya Zafran heran karna hanya melihat emaknya sendirian ada dirumah tersebut.
Ibunya terdiam sejenak dan matanya mulai berkaca - kaca.
“Abahmu sudah hampir 7 tahun meninggal zaf, kalau Rita sekarang dia ikut suaminya bekerja di Balikpapan. Sekarang emak tinggal sendiri disini”
Jawaban dari ibunya sontak membuat terkejut dan perlahan - lahan airmata Zafran kembali mengucur dengan derasnya, setelah mengetahui bahwa abahnya sudah meninggal dunia dan yang lebih dia sesali lagi dia tidak pernah tahu tentang kejadian tersebut. Sungguh memilukan, ketika abahnya menghembuskan nafas terakhir Zafran tidak bisa mendampingi beliau bahkan berada dibalik jeruji besi karna ulahnya sendiri. Zafran merasa sangat berdosa terhadap abah dan ibunya. 
Zafran hanya terdiam membisu beberapa saat, mengingat abahnya yang ternyata sudah tiada.
“Kenapa tidak ada yang memberitahu Zafran mak ?” tanya Zafran dengan penuh kesedihan.
Dengan bercucuran airmata ibunya pun menceritakan kenapa kabar duka ini tidak pernah disampaikan kepada Zafran yang waktu itu ada di penjara.
“Ketika kamu masuk penjara, abahmu tidak bisa menanggung malu kepada teman – temannya, siang malam beliau hanya memikirkan tentang kamu disana nak. Dan akhirnya beliau sakit. Meski sempat sembuh namun akhirnya penyakit abahmu semakin parah”
Ibu Zafran terhenti sejenak, untuk menyeka airmatanya yang keluar, beliau mencoba tegar untuk menceritakan kejadian pahit ini. Terpancar dari wajahnya yang mulai keriput ketegaran seorang ibu.
“Ketika beliau masih sakit, beliau sempat berpesan kepada emak dan Rita kalau beliau meninggal dunia jangan pernah memberitahukan hal ini kepada kamu nak, kecuali kamu sudah bebas” sambung Ibu Zafran.
“Emak juga tidak pernah tahu dan tidak pernah menanyakan kenapa beliau beramanat seperti itu, emak menurut saja apa kata beliau untuk menyenangkan hatinya. Setelah bapak meninggal emak sama Rita bersepakat untuk tidak memberitahukan ini kepadamu nak”
“Maafkan emak nak, mungkin abahmu tidak ingin menambah beban fikiranmu ketika beliau meninggalkan kita semua” suara Ibu mulai menghilang diringi dengan tangisan yang ditahan dengan kedua tangannya.
“Ampuni Zafran mak”
Zafran pun memeluk emak tercintanya dengan erat. Terlihatlah sebuah pemandangan yang memilukan antara ibu dan anak ini.
***
            Setelah hampir setengah hari berada di rumah orangtuannya untuk melepas rindu kepada Ibunya, Zafran minta izin untuk pulang ke rumahnya yang berada di jalan veteran, Zafran sangat rindu dengan Rania anak semata wayangnya dengan Risma istrinya, pasti mereka sudah sangat menantikan kebebasan Zafran ini.
Zafran sengaja tidak memberitahu mereka karena ingin membuat kejutan kepada mereka.
“Emak, Zafran mau pulang ke rumah dulu mak, Zafran sudah sangat rindu sama Risma dan Rania. Mereka pasti menunggu Zafran” kata Zafran.
“Nak sebaiknya kamu tinggal disini dulu temani emak, dan tidak usah kesana”
Anjuran dari Ibunya ini kembali membuat Zafran mulai dilanda penasaran.
“Kenapa mak ? emak masih rindu sama Zafran yah ? atau kita sama – sama kesana aja mak, biar Emak malam ini tidur dirumah Zafran. Buat merayakan kebebasan Zafran mak” jawab Zafran.
Lagi – lagi untuk kesekian kalinya emak Zafran meneteskan airmatanya.
“Emak, kenapa menagis lagi ?” tanya Zafran yang mulai kebingungan.
Sambil meraih tangan Zafran, Ibunya lalu menggandengnya dan membelai kepala anaknya. Sambil terisak Ibu Zafran kembali ingin menceritakan sesuatu.
“Sebenarnya emak berniat menceritakan hal ini besok kepadamu nak, biar kamu tenang dulu setelah kebebasanmu ini” emak mulai membuka pembicaraan dengan Zafran.
“Memangnya ada masalah apa lagi mak ? kenapa harus menunggu besok menceritakannya ?” tanya Zafran.
Zafran mulai merasakan ada yang tidak beres dengan anak dan istrinya. Akan tetapi Zafran mencoba untuk tetap tenang mendengarkan cerita emaknya.
“10 tahun dipenjara, merupakan sesuatu yang sangat lama nak, Emak dan adikmu Rita sangat merasakan betul bagaimana rasanya menantikan kebebasanmu. Begitu pula dengan Risma istrimu, setelah kamu menjalani masa hukuman sekitar 2 tahun dia datang membawa anakmu Rania yang masih kecil pada waktu itu. Dia bercerita sama emak dan abahmu yang waktu itu masih hidup, bahwa dia tidak bisa lagi untuk menunggumu dan menghidupi Rania seorang diri, Emak dan abah sempat menawarkan agar dia bersama Rania tinggal disini, namun dia menolak. Dia berencana untuk balik ke kampungnya di Hulu sungai. Namun ternyata itu tidak benar setelah beberapa minggu kemudian menurut kabar yang datang, Risma istrimu telah dipinang oleh seseorang” cerita Ibunya kepada Zafran.
“Apaaaaaaa ???” suara Zafran agak meninggi. 
Badan Zafran seketika mulai lemas, kakinya terasa sangat lemah dan tidak bisa menahan beban tubunhnya, dan akhirnya Zafran terduduk dilantai sambil menangis memeluk erat kaki Ibunya.
“Sabar ya nak” hanya itu kata – kata dari Ibu Zafran sambil membelai kepala anaknya. Beliau ikut menangisi kejadian yang dialami oleh Zafran, bagaimana perasaan Zafran saat itu ketika mengetahui keadaan keluarganya yang sebenarnya setelah beliau ceritakan.
“Ya Allah mungkin ini balasan yang engkau timpakan kepadaku, ampuni semua dosa – dosaku yang dahulu Ya Allah” Zafran berdoa di dalam hatinya.
Malam itupun akhirnya Zafran tidur dirumah orangtuanya, hitung – hitung menemani Ibunya yang kini tinggal sendiri.
***
            Beberapa minggu kemudian, Zafran mulai berfikir untuk mencari pekerjaan agar bisa menghidupi dirinya dan Ibunya. Zafran ingin melupakan masa lalunya yang kelam dan mencoba menjadi manusia yang lebih baik sekaligus ingin melupakan kejadian yang menimpa keluarganya.
Zafran sadar diri karna dosanya di masa lalu yang membuat Risma istrinya meninggalkannya, dia mencoba menerima semua itu sebagai konsekuensi seorang mantan napi. Dia tidak pernah menyangka bahwa Risma istri yang selama ini sangat dia cintai meninggalkannya begitu saja.
“Mungkin inilah jawaban kenapa aku dahulu tidak pernah mendapat kunjungan dipenjara” kata Zafran dalam hati.
Zafran memaklumi selama dia dipenjara dahulu tidak pernah sekalipun mendapat kunjungan dari keluarganya, meskipun tidak jarang dia merasa iri ketika teman – teman satu selnya dahulu mendapat kunjungan dari keluarga mereka masing – masing.
“Mungkin aku dahulu aib bagi keluargaku” fikir Zafran lagi
“Sekarang waktunya aku berfikir ke depan dan mencoba menjadi manusia yang lebih baik” Zafran terus mencoba memotivasi dirinya sendiri. 
 
Setelah sarapan pagi, Zafran pamit kepada Ibunya untuk mencari pekerjaan.
“Mak, doakan Zafran yah mak, Zafran mau mencari pekerjaan”
Dengan membawa beberapa ijazah sekolahnya, Zafran mulai berjalan untuk memasukkan lamaran ke perusahaan – perusahaan yang mungkin membutuhkan tenaganya.
“Ya Allah semoga hari ini ada hasil” doa Zafran dalam hati. 

Seharian hari itu Zafran keluar masuk kantor untuk memasukkan lamaran pekerjaan, namun tidak ada satupun yang pasti, surat lamaran hanya sampai di pos satpam lalu disuruh untuk menunggu panggilan. 
***
            Hari mulai agak sore menjelang magrib, Zafran yang sudah sangat letih setelah seharian berjalan beristirahat disebuah bangunan ruko yang sedang dalam tahap pembangunan.
“Saya numpang istirahat mas” pinta Zafran kepada salah seorang pekerja yang ada disana.
“Monggo mas” katanya sambil tersenyum.
Setelah beberapa saat duduk untuk melepas lelah, Zafran pun memberanikan diri untuk menanyakan lowongan pekerjaan. Siapa tahu masih ada membutuhkan tenaga.
“Permisi mas, disini ada membutuhkan tenaga tambahan ?” tanya Zafran.
“Wah kalau tenaga buruh sih masih ada mas, kalau mas-nya mau jadi buruh bangunan nanti saya bilang sama bosnya” jawab pekerja yang ada disitu.
“Ya sudah tidak apa mas, saya mau bekerja apa saja” tambah Zafran.
Zafran bersyukur hari ini bisa langsung mendapatkan pekerjaan meski hanya menjadi buruh bangunan bukan kantoran.
“Alhamdulillah, yang penting hari in ada hasil” Zafran sangat bersyukur.
***
            Sesampai dirumah, Zafran memberitahukan kepada Ibunya kalau dia sudah mendapatkan pekerjaan meskipun hanya menjadi buruh kasar untuk pembangunan sebuah ruko.
“Gimana nak, kamu sudah mendapat pekerjaannya ?” tanya Ibunya.
“Alhamdulillah dapat mak, tapi untuk sementara Zafran jadi buruh untuk pembangunan sebuah ruko saja dulu di daerah jalan S. Parman” jawab Zafran.
“Loh kenapa kamu kerja jadi buruh untuk pembangunan ruko ? kamu tidak melamar dikantoran ?” tanya Ibunya lagi.
“Sudah mak, ada beberapa perusahaan yang Zafran masukkan surat lamaran namun akan diproses terlebih dahulu katanya dan disuruh menunggu panggilan kalau diterima”
“Oh begitu, semoga saja diterima yah nak” harap Ibunya.

“Aminn”
***
            Hari ini, Hari pertama Zafran bekerja menjadi buruh bangunan. Pagi – pagi jam 8 kurang Zafran sudah datang ke lokasi pembangunan tersebut. Hanya ada beberapa buruh yang juga sudah datang, tidak berapa lama mandor pembangunan ruko tersebut pun datang, dia langsung menghampiri Zafran yang tengah bersiap – siap untuk memulai pekerjaannya.
“Jadi kamu yang kemarin kata anak buahku mau ikut bekerja disini ?” tanya sang mandor yang bernama Darman, dengan logat kental khas dayak.
“Iya bos, saya mau ikut bekerja disini. Bisa ?” jawab Zafran setengah malu –malu.
“Oke bisa saja kalau kamu mau soalnya kita disini juga kekurangan orang buat bantu - bantu, tugas kamu sekarang bantu mengaduk semen sama mengangkat bata – bata ini yah, bisa kan ?” pinta Darman, dengan ramah.
“Bisa bos” jawab Zafran dengan yakin.
“Baguslah kalau begitu, ayo sekarang kita siap – siap” seru Darman juga kepada anak buahnya yang lain yang sudah mulai berdatangan.
“Bismillah, ini hari pertamaku mengerjakan sesuatu yang Halal semoga diberi berkah dan menjadi langkah awalku untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik” Zafran berdoa di dalam hati.
***
            Hari demi hari pun silih berganti, panggilan kerja dari beberapa perusahaan yang dikirimi surat lamaran oleh Zafran, tidak ada satupun yang memanggilnya. Zafran dengan sabar menunggu sambil bekerja sebagai buruh bangunan untuk sementara menyambung hidupnya.
Sampai suatu ketika, pas Zafran pulang dari bekerja bangunan, dia ditanya Ibunya.
“Zafran, kamu sudah dapat panggilan kerja belum, nak ?” tanya ibunya.
Ibunya mulai khawatir dengan Zafran, yang dari pagi sampai sore harus bekerja berat sebagai buruh bangunan, Beliau memperhatikan tubuh Zafran yang mulai menghitam dan kurus serta terdapat beberapa luka lecet ditangannya akibat bekerja menjadi buruh.
“Belum ada mak” sahut Zafran.
“Apakah ada sesuatu yang lain yang bisa engkau kerjakan nak, selain harus menjadi buruh bangunan. Emak kasian sama kamu, setelah ibu perhatikan tubuhmu semakin kurus dan hitam belum lagi luka – luka yang ada ditanganmu itu.” kata ibu Zafran dengan lirih.
“Iya mak Zafran masih memikirkan mau kerja apa lagi nanti kalau tak ada panggilan kerja ini”
Malam itu, Zafran tidak bisa tidur dengan nyanyak, lelah yang menghampiri tubuhnya seakan tidak bisa membuat mata Zafran tertutup, dia terus memikirkan perkataan dari ibunya tadi yang meminta untuk mencari pekerjaan selain menjadi buruh bangunan.
Lamunan Zafran yang hampir setengah malam itu akhirnya memunculkan sebuah harapan baru, Zafran berfikir untuk membuka usaha kecil – kecilan, kebetulan dia waktu di Lapas pernah belajar memasak kepada koki yang ada di Lapas dan bisa sedikit – sedikit memasak nasi goreng yang enak dan sewaktu di Lapas dulu pernah menjadi juara pertama lomba masak di acara 17-an.
Paginya Zafran menceritakan hasil dari lamunannya tadi malam kepada ibunya, perihal ingin membuka usaha kecil – kecilan.
“Mak, Zafran ada niat buka usaha kecil – kecilan mak, dari pada menunggu panggilan kerja yang tidak jelas” Zafran membuka pembicaraan kepada ibunya.
“Kamu mau buka usaha apa nak ?” tanya ibunya perihal niat Zafran tersebut.
“Rencananya Zafran mau usaha nasi goreng keliling mak, kebetulan kemarin waktu di Lapas Zafran pernah belajar memasak nasi goreng dan pernah menjadi juara 1 lomba masak waktu di acara 17-an” 
“Kalau itu memang niat baikmu, emak mendukung saja. Tapi apa kamu punya modal buat bikin gerobaknya ? kalo boleh bantu emak bisa saja memberikan modal cuma hanya untuk membeli bahan – bahannya saja, karna gaji pensiunan emak seperti yang kamu tahu cukup untuk biaya makan kita sebulan saja”
Zafran termenung sejenak. Dan mulai berfikir lagi bagaimana cara membuat gerobak tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar.
“Emak tidak usah ikut membantu permodalannya mak, uang gaji emak disimpan saja buat emak, upah Zafran sebagai buruh bangunan akan Zafran tabung sedikit demi sedikit mak itu yang akan dijadikan modal, masalah gerobak nanti Zafran fikirkan.”
“Oh yah sudah mau jam 8, Zafran berangkat kerja dulu yah mak” kata Zafran pamit sambil mencium tangan dan mencium pipi ibunya.
Setelah Zafran pergi untuk bekerja, ibu Zafran mulai menitikkan airmata, beliau bersyukur kepada Allah atas perubahan sikap Zafran yang sekarang, sangat berbeda jauh dari Zafran sebelumnya yang beringas.
Teringat dahulu kebandelan Zafran muda ketika membawa pergi semua perhiasan beliau lalu menjualnya, lalu banyaknya tagihan yang datang ke rumah karna Zafran berhutang sana sini, sampai ketika Zafran yang sudah terlanjur salah pergaulan menjadi perampok sebuah bank dan akhirnya tertangkap meski sempat buron.
Pada saat kejadian itu, keluarga mereka menjadi sangat tertutup dengan masyarakat sekitar, sampai ketika ayah Zafran yang dahulu imam tetap di mesjid setempat harus menderita sakit yang lama karna tidak bisa menahan aib yang begitu besar menerpa keluarga mereka.
Sekarang sudah hampir 10 tahun kejadian tersebut, Zafran pun sudah menerima akibat dari perbuatannya tersebut dan menebus dosanya di penjara. Tak ada lagi harapan ibunya selain melihat Zafran menjadi manusia yang lebih baik.
“Ya Allah, jadikanlah Zafran manusia yang lebih baik terlebih bisa berguna bagi keluarga dan masyarakat” doa yang keluar dari mulut ibu Zafran.
***
            Sesampainya Zafran di tempat kerjanya, dia mulai melepas bajunya dan menggantinya dengan baju yang biasa dibawanya untuk bekerja.
Pekerjaan hari itu pun kembali dimulai, Zafran mengaduk – aduk beberapa sak semen lalu mengirimkannya ke atas dengan menderek sebuah ember yang sudah terikat dengan katrol disana agar temannya yang di atas bisa menerima semen tersebut dengan baik. Lalu setelah semen tersebut habis teman yang dari atas kembali mengirimkan ember yang telah kosong tersebut ke bawah untuk kembali diisi semen.
Tidak terasa waktu tengah hari pun tiba dan jam menunjukkan pukul 1 tepat, artinya para buruh boleh istirahat untuk sementara. Darman, sang mandor yang biasa dipanggil “Abang” oleh para buruh anak buahnya membawakan beberapa nasi bungkus untuk mereka.
“Zaf, ini makan dulu” kata Darman seraya memberikan sebungkus nasi.
“Terima kasih bang” jawab Zafran.
Setelah melahap sebungkus nasi, Zafran mengistirahatkan tubuhnya disebuah ruangan yang belum jadi di ruko tersebut. Sambil merebahkan diri di antara tumpukan kayu – kayu yang tidak terpakai, Zafran mulai terfikir gerobak impiannya.
“Sepertinya kayu – kayu bekas ini tidak terpakai lagi” fikir Zafran dalam hati.
Lalu dengan memberanikan diri, Zafran meminta izin kepada bos Darman untuk membawanya pulang, dengan harapan dari kayu – kayu bekas tersebut dia bisa membuat sebuah gerobak impiannya.
“Permisi bang, mau nanya nih, kayu – kayu yang ada di dalam kamar itu terpakai lagi tidak ?” tanya Zafran kepada Darman yang lagi santai sehabis makan juga.
“Kayu – kayu yang mana, yang itu yah. Itu sudah tidak terpakai lagi Zaf, itukan sisa dari kayu – kayu yang kita pakai jadi sisanya itu kita taruh disana dulu, memangnya ada apa Zaf ?”
“Kalau tidak terpakai, boleh saya bawa pulang bang ?” tanya Zafran lagi.
“Oh silakan kalau kamu mau ambil saja, toh itu tidak terpakai lagi juga kok. Saya juga bingung kemarin kemana mau membuangnya . . . hehehe”
Jawaban dari bos Darman itu membuat hati Zafran berbunga – bunga, gerobak impiannyapun mulai terbayang dibenaknya.
“Oke nanti saya bawa pulang semua bang, terima kasih bang”
“Ya sama – sama zaf”
***

 
            Setelah seharian bekerja dan mendapat izin untuk membawa pulang kayu – kayu bekas yang ada di ruko tersebut. Sore itu, Zafran menyewa sebuah becak untuk mengangkut sisa – sisa kayu yang tidak terpakai tersebut.
Sudah terbayang dikepala Zafran akan gerobak impiannya, dia mulai mengira – ngira berapa banyak kayu yang diperlukannya untuk membuat sebuah gerobak.
Malam itu setelah makan malam, Zafran mulai menggambar – gambar tentang gerobak yang akan dibuatnya nanti, sekaligus dia juga menghitung anggaran yang akan diperlukan.
“Zafran, bagaimana rencana kamu nak ?” tanya ibu Zafran sambil membawakan segelas teh hangat untuk menemani anaknya.
“Ini lagi masih digambar mak, masih dihitung juga anggarannya”
“Kalau nanti modal kamu kurang, kamu bilang saja sama emak yah, kebetulan emak masih ada sedikit tabungan ni”
“Tidak usah mak, Insya Allah uang Zafran cukup kok”
Senyum-pun terlihat mengembang diwajah ibu Zafran.
“Semoga saja usahamu nanti bisa berhasil nak” harap ibunya.
“Amiiin”
***
  
          Hampir 3 bulan Zafran bekerja sebagai buruh, setiap pulang bekerja dia langsung mengerjakan proyek gerobak dorongnya. Dan akhirnya jadilah sebuah gerobak dorong yang sekarang bisa digunakan. Zafran pun mantap untuk memulai usahanya sehabis kontrak bekerjanya diruko tersebut selesai.
Dia sengaja mengahabiskan kontrak tersebut untuk membalas jasa bang Darman yang sudah memberikannya pekerjaan dan memperbolehkannya mengambil sisa – sisa kayu dari proyek pembangunan ruko tersebut.
Setelah ruko 4 pintu tersebut selesai, Zafran pun berterima kasih kepada bang Darman sekaligus minta izin untuk tidak meneruskan lagi bekerja padanya.
“Bang terima kasih banyak untuk semuanya, saya minta maaf kalau tidak bisa bekerja lagi sama abang”
“Iya sama - sama Zaf, terima kasih juga sudah banyak bantu saya. Oh ya, rencana kamu mau buka usaha kemarin bagaimana ?”
“Rencananya dalam beberapa hari ini saya akan mulai berjualan nasi goreng keliling bang. Saya minta doanya bang”
“Wah mantap itu Zaf, semoga sukses yah”  harap bang Darman.
Sore itu hari terakhir Zafran bekerja sebagai buruh bangunan, dan dalam beberapa hari ke depan dia akan memulai kehidupan barunya sebagai seorang penjual nasi goreng keliling.
***
            Hari itu hari sabtu, setelah mempersiapkan semua bahan – bahan yang akan dibawa Zafran untuk berjualan. Sebelum berangkat Zafran meminta doa kepada ibunya.
“Mak, Zafran berangkat dulu yah, doakan mak semoga nasi Zafran bisa laku”
“Iya nak, semoga jualan kamu hari ini laris manis”
“Aminn, Assalamualaikum . . .”
“Amin, Wa’alaikumsalam, hati – hati dijalan Zaf”
Itulah untuk pertama kalinya Zafran memulai usahanya seabagai penjual nasi goreng keliling. Rutenya hanya sekitaran komplek yang ada disekitar daerah kayutangi tersebut, rute itu sengaja dipilih karna terdapat banyak kos – kos yang dihuni oleh mahasiswa luar Banjarmasin yang sedang menempa ilmu dibeberapa universitas yang terdapat di Jalan H. Basry ini.
***
            Waktu terus berjalan, dari hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulanpun berganti bulan. Tidak terasa sudah hampir setengah tahun Zafran menjalani profesi barunya sebagai tukang jual nasi goreng keliling. Langganan Zafran pun semakin bertambah dan banyak orang yang mengenalnya karna selain nasi goreng buatannya enak harganya pun sangat terjangkau ditambah pula keramah tamahanan Zafran ketika melayani semua pembelinya tanpa terkecuali.
Hingga suatu hari, Zafran coba – coba menambah rute untuk jualannya, sengaja dia menambah bahan bakunya agar bisa berjalan lebih jauh lagi. Zafran mencoba rute di daerah jalan HKSN, karna disana banyak perumahan – perumahan yang dibangun.
***
 

            Suatu hari ketika memasuki daerah jalan HKSN, Zafran dipanggil oleh salah seorang wanita dari salah satu rumah besar yang ada di salah satu komplek perumahan itu, rumah itu tampak besar dan megah bila dibandingkan dengan rumah – rumah yang ada disekitarnya. Zafran pun segera mengarahkan gerobak nasinya menghampiri rumah tersebut.
Alangkah terkejutnya Zafran ketika tahu yang memanggil dirinya adalah Risma, mantan istrinya dahulu yang pernah sangat dia cintai, sejenak Zafran tertegun sambil menyiapkan wajan untuk membuat nasi goreng seraya sedikit menundukkan topinya agar Risma tidak mengenali dirinya.
“Mas, nasi gorengnya 3 bungkus yah” pinta Risma.
Risma ternyata sama sekali tidak mengenali Zafran, karna sudah hampir 10 tahun lebih tidak pernah bertemu, Zafran sekarang mulai terlihat kurus dan agak dekil karna berjualan nasi goreng keliling, berbeda sekali dengan Zafran 10 tahun lalu yang masih berkulit putih dan bersih serta terlihat gagah.
“Iya mba, tunggu sebentar” seraya terus menundukkan wajahnya.
Sungguh perasaan Zafran menjadi tidak karuan karna setelah sekian lama tidak bertemu dan melihat Risma kembali. 
Tiba – tiba dari dalam rumah besar tersebut keluarlah seorang gadis ABG yang cantik dan memanggil Risma dengan sebutan “Mama”, seraya meminta agar nasi goreng pesanannya dikasih sambel.
Makin berdegup kencanglah jantung Zafran, karna hati kecilnya berkata bahwa inilah Rania anak semata wayangnya dulu ketika masih bersama Risma, Rania berubah menjadi seorang gadis remaja yang cantik dan manis.
“Mas, satu pakai sambel yah” pinta Risma lagi kepada Zafran.
“Iya mba”  jawab Zafran singkat.
Tidak seperti biasanya, Zafran sangat terlihat kikuk dan gugup ketika memasak nasi goreng andalannya, bagaimana tidak kedua orang yang sangat dicintainya sekarang berada tepat di depan matanya.
15 menit kemudian, selesai semua pesanan dari Risma.
“Berapa semuanya mas ?” tanya Risma.
“20 Ribu mba” jawab Zafran.
“Ngga’ salah hitung mas ?” tanya Risma setengah heran, karna pesanannya 3 bungkus nasi goreng seharusnya total keseluruhannya menjadi 30 ribu (1 bungkusnya 10 ribu).
“Yang satu bonus mba, gapapa” sambil tersenyum seraya memalingkan gerobaknya.
“Oh ya sudah terima kasih banyak ya mas” kata Risma lagi.
Tidak berapa lama Zafran berjalan dia berhenti di sebuah pos ronda yang kosong, seraya mengistirahatkan tubuhnya. Zafran mulai duduk dan termenung sendiri, tidak dirasa air matanya mengalir, ada perasaan sedih bercampur bahagia di hatinya. Disatu sisi dia melihat langsung anak dan istrinya tanpa bisa memeluk mereka kembali, disisi lainnya dia bahagia karna bisa melihat dan mengetahui dimana sekarang keberadaan mereka dan melihat dari rumah tempat mereka tinggal tampaknya mereka hidup berkecukupan.
Memori Zafran mulai kembali ke masa lalu dimana karna cara pergaulannya yang salah sehingga dia harus menerima akbita dari perbuatannya sendiri.
“Seandainya aku dahulu bisa mencari pekerjaan yang lebih baik dan tidak berkumpul dengan orang – orang tidak waras itu, mungkin sekarang aku bisa bercanda bersama mereka berdua” dalam hati Zafran lirih menyesali perbuatannya di masa lalu.
“Ya Allah, ampuni segala dosa – dosa hamba Ya Allah”
“Sungguh tiada yang lebih berat cobaan daripada melihat dengan mata kepala sendiri anak dan istri bahagia bersama orang lain”
“Bila memang ini akibat dari dosa – dosaku di masa lampau, semoga Engkau menguatkanku untuk menjalani hidup ini”
“Nasi sudah menjadi bubur, masa lalu sudah terlanjur kelam, waktu tidak akan pernah bisa berputar kembali, setidaknya masa depanku yang masih misteri ini masih bisa diusahakan agar bisa menjadi lebih baik”
Zafran terus bergumam di dalam hatinya menyesali yang sudah terjadi.
Setelah beberapa lama Zafran termenung, azan magrib pun berkumandang, Zafran bangkit dari tempat duduknya seraya menyeka airmata yang membasahi wajahnya, dia langsung mengarahkan gerobaknya menuju mushalla terdekat untuk shalat magrib.
***
            Sehabis shalat magrib Zafran lama termenung sambil bertafakur di mushalla, dia masih saja memikirkan tentang Risma dan Rania setelah pertemuan yang tidak terduga tadi. Lagi – lagi airmatanya membasahi wajahnya, tangisnya pecah begitu mushalla ini mulai kosong oleh orang – orang setelah menjalankan shalat magrib, karna hanya dia dan Tuhan yang berada disana.
“Ya Allah Ya Tuhanku, ampuni dosa – dosaku ini, tidak ada yang bisa mengampuni dosa – dosaku ini selain Engkau Ya Allah”
Setelah beberapa saat merenung, Zafran pun memutuskan untuk pulang ke rumah, padahal barang dagangannya masih banyak, setelah selesai shalat magrib biasanya Zafran kembali melanjutkan perjalanannya, karna biasanya habis magrib adalah waktunya makan malam dan biasanya anak – anak kos mulai mencari – cari makan pada jam segini.
Sepanjang perjalanan pulang fikiran Zafran mulai tidak karuan, dia terus saja memikirkan kejadian tadi sore, dia sengaja pulang memutar dari rute yang biasa dia lewati untuk pulang karna dia takut kalau – kalau melewati rumah besar tadi lagi dia kembali berjumpa dengan Rania dan Risma dan ini bisa membuatnya menjadi semakin tidak karuan rasa. 
***
              Sesampainya di rumah, setelah membersihkan gerobak dan barang dagangannya yang tidak habis tersebut. Tiba – tiba ibu Zafran keluar.
“Zafran kenapa cepat sekali baliknya nak ?” tanya ibunya.
 “Zafran agak kurang enak badan mak” jawab Zafran kurang semangat.
“Oh gitu, ayo cepat kamu mandi dulu sana, biar kita makan sama – sama, emak baru selesai masak ni” Ibu Zafran mulai curiga, pasti ada sesuatu hal yang membuat Zafran menjadi kurang bersemangat seperti ini dan tidak seperti biasanya. Naluri seorang ibu memang sangat kuat apabila sesuatu terjadi menimpa anaknya.
“Iya mak, nanti dulu deh Zafran mau rebahan dulu sebentar di kamar, emak makan duluan ajah yah” pinta Zafran.
”Ya sudah kalau begitu emak makan duluan yah”
Perasaan seorang ibu memang tidak bisa didusta, selama ibu Zafran makan beliau memikirkan kenapa anaknya bisa menjadi tiba – tiba seperti ini, karna biasanya meskipun tidak enak badan semangat Zafran yang menggebu – gebu itu selalu menjadi obat penawar bagi badannya sendiri.
Selesai makan, ibunya mengetuk pintu kamar Zafran.
“Zafran, kamu mau makan tidak ?” tanya ibunya dari luar.
“Zafran kenyang mak . . .” jawaban dari dalam.
“Boleh emak masuk kah zaf ?” tanya ibunya lagi.
“Iya mak, masuk aja kamarnya tidak terkunci”
Setelah masuk, ibu Zafran mulai curiga dan penasaran ketika melihat anaknya rebahan sambil memandangi foto anak dan istrinya sambil menagis.
Ibunya pun langsung menghampiri Zafran yang sedang rebahan di kasurnya itu, sambil membelai lembut kepalanya.
“Kenapa kamu Zaf ? kok emak lihat kamu menangis ?” tanya ibunya heran.
“Zafran kangen Rania mak” jawaban singkat Zafran diiringi dengan tangisan yang keluar dari matanya.
Zafran tak kuasa menahan lirih ini, dia langsung memeluk ibunya.
“Sabar yah nak, perbanyak do’a Zaf, semoga Allah mempertemukan kamu lagi sama Rania” nasehat ibunya. 
Suasana heningpun sangat terasa di dalam kamar itu, tangis Zafran pecah dipangkuan ibunya, tidak ada yang bisa dilakukan ibunya selain terus membelai kepala anaknya tidak tampak masa lalu seorang perampok kelas kakap yang selama ini tersemat dipundak Zafran karna keberaniannya merampok sebuah Bank milik pemerintah. Dahulu ketika mendengar nama Zafran orang – orang yang mengenalnya akan mulai bergetar karna Zafran juga terkenal dengan keberingasannya ketika menyiksa para korban perampokannya meskipun dia tidak pernah membunuh para korbannya, sekarang keadaan itu berubah seratus delapan puluh derajat.
Tiba – tiba Zafran pun bangkit dan menyeka air matanya, Zafran mencoba tegar dan ingin membagi kepiluan hidupnya kepada ibunda tercinta yang selama ini menjadi satu – satunya penyemangat Zafran untuk terus berjuang agar memiliki kehidupan yang lebih baik.
“Ada yang mau Zafran, ceritakan mak” Zafran lirih
“kamu mau cerita apa nak ?”
“Tadi waktu Zafran berjualan di daerah HKSN . . .”
Zafran mulai menceritakan apa yang telah dialaminya tadi sore, hampir 2 jam Zafran bercerita tentang perasaannya ketika mengalami hal yang baru saja terjadi.
Mendengar cerita dari Zafran, ibunya pun tak kuasa menahan air matanya. Beliau sangat merasakan bagaimana pilunya perasaan Zafran yang bertemu dengan Rania, namun Rania sedikitpun tidak bisa mengenalinya. Sedangkan Zafran tidak bisa berbuat apa – apa karna dia merasa malu dan mungkin akan lebih membuat malu Rania lagi apabila dia mengaku sebagai ayah kandungnya.
***
            Hampir 1 minggu Zafran tidak berjualan, dia ingin menenangkan diri dulu sejenak, karna kejadian tempo hari itu.
Zafran mulai banyak beribadah, setiap shalat 5 waktu dia pasti ke mesjid dekat rumahnya, para tetangga – tetangganya pun heran melihat kejadian ini, bagaimana tidak Zafran yang 10 tahun lalu menjadi bandit dikampung itu sekarang menjadi orang yang shaleh, sebelumnya Zafran tidak pernah mau shalat di mesjid itu, dia cenderung menutup diri sekembalinya dari penjara, setelah pulang berjualan biasanya dia langsung mengurung diri di rumah dan mengerjakan shalat hanya di rumah saja.
Setiap selesai shalat berjamaah tiada hentinya dia berdoa memohon ampunan kepada Allah sampai – sampai setiap doa diiringi dengan tangisan penyesalan akan dosa – dosa di masa lalunya.
Sampai suatu ketika selesai mengerjakan shalat isya berjamaah di mesjid, tanpa sadar Zafran merebahkan dirinya sebentar di pelataran mesjid tersebut, lalu tertidur.
Di dalam mimpinya tersebut, Zafran bertemu dengan sesosok orang yang berpakaian serba putih yang menyilaukan, orang itu lalu mendekati Zafran dan semakin orang berpakaian putih itu mendekat, Zafran semakin mengenali sosok itu.
“Abah…Abah…Abah” panggil Zafran
Orang tua itu pun mendekat lalu memeluk Zafran dengan erat, beliau lalu membawa Zafran ke suatu tempat yang sangat indah, lalu orang tua itu berkata.
“Zafran sekarang ini adalah tempat yang baru bagiku . . .” kata orang tua itu. 
Zafran mulai kebingungan, dimana sekarang dia berada. Dengan penuh kebingunan Zafran lalu bertanya.
“Abah, kita sekarang ada di mana ?” tanya Zafran.
Orang tua itu hanya tersenyum, lalu berkata.
“Dahulu tempatku tidak seperti ini nak, karena kamu lah sekarang Allah memberikan tempat seindah ini kepadaku . . . “ jawab orang tua ini seraya tersenyum.
Lalu tiba – tiba Zafran pun langsung terbangun, dan tidak terasa airmatanya mengalir membasahi pipinya. Dilihatnya jam sudah menunjukkan angka 12 malam.
“Astagfirullah, aku ketiduran disini”
Zafran pun bergegas pulang dia takut kalau – kalau ibunya menunggu kedatangannya. Di dalam perjalanan pulang Zafran masih bertanya – tanya tentang mimpi yang baru saja dialaminya.
Sesampainya di rumah, ternyata ibunya sudah terlelap tidur. Zafran langsung mengambil air wudhu dan mengerjakan shalat tahajud 2 rakaat, lalu langsung masuk kamar, namun mimpi yang baru saja dia alami tadi masih terbayang – bayang dibenak Zafran.
Keesokan paginya, Zafran menceritakan perihal mimpinya kepada ibunya, ibunya pun tersenyum karna mimpi Zafran tersebut.
“Mungkin Abahmu sedang memberitahumu kalau beliau sudah berada di taman – taman surga Zaf . . .”
“Aminn Ya Allah”
“Sudah cukup Zafran membuat sakit hati Abah sewaktu beliau hidup dulu ma, sekarang Zafran sudah taubat dan ingin membalas kebaikan abah dengan selalu mendoakan abah, meskipun beliau sudah tidak ada . . .”
***
            Seminggu waktu yang sangat cukup untuk menenangkan diri bagi Zafran, semangatnya mulai kembali memuncak. Sekarang motivasinya adalah bagaimana caranya membuat Rania tahu bahwa dia adalah ayah kandung sebenarnya dan tanpa membuat gadis ABG cantik ini menjadi malu karna profesinya.
Berhubung hati Zafran masih belum kuat ketika melihat anak dan istrinya, dia sengaja merubah rute yang biasanya, dia sebisa mungkin menghindari lewat tepat di depan rumah besar yang ditinggali istri dan anaknya tersebut.
Akhirnya, setelah hampir 1 tahun lebih berjualan nasi goreng keliling Zafran memiliki modal yang cukup untuk membuka sebuah warung makan dan dia mempekerjakan 3 orang karyawan untuk membatunya, dengan modal itu dia awalnya menyewa sebuah tempat kecil di jalan cemara, karena nasi gorengnya sudah dikenal enak di daerah kayu tangi dan sekitarnya bahkan sudah mulai merebak ke beberapa daerah seperti sutoyo s, handil bhakti dan HKSN. Tempat kecil itu pun tidak bisa lagi menampung banyaknya pengunjung yang datang, Zafran pun akhirnya memberanikan diri untuk membeli sebuah ruko di daerah kayutangi yang lokasinya tepat dipinggir jalan tersebut, dengan membayar uang muka dan untuk sisanya kredit di Bank, maka sebuah ruko berlantai dua itu jadilah miliknya.
Ruko tersebut lumayan besar dan pasti cukup menampung pelanggan Zafran yang semakin membludak, dia pun sekarang memperkerjakan 15 orang karyawan untuk membantunya mengelola rumah makan tersebut. Zafran mulai mendekorasi ruko tersebut, Ruko dicat ulang dengan warna kesukaannya yaitu merah bercampur kuning yang menandakan keoptimisan serta perjuangan.
Terpampanglah sebuah baliho besar yang bertuliskan “Nasi Goreng bang Zaf”, ini untuk pertama kalinya dia memberi nama rumah makannya setelah memiliki tempat sendiri, nama itu adalah nama panggilan yang biasa diberikan pelanggannya sewaktu dia masih menjadi pedagang keliling.
Keharuan tampak di wajah Zafran dan ibunya, ketika pembukaan rumah makannya tersebut. Di hari pertama, Zafran sengaja menggratiskan semua nasi gorengnya untuk 100 orang pelanggan pertama yang datang. Sontak saja, spanduk yang bertuliskan “Hari pertama buka, Gratis sepiring Nasi goreng plus es teh untuk 100 orang pertama”. Dalam hitungan jam 100 piring nasi goreng ludes dipesan.
***
            Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, sudah hampir 5 tahun semenjak Zafran bebas dari penjara, berkat usaha dan kerja kerasnya kini dia menjadi salah seorang pengusaha kuliner sukses di Kota seribu sungai ini.
Dari seorang pedagang nasi goreng keliling hingga menjadi bos rumah makan yang sudah memiliki beberapa cabang di beberapa kota di Kalimantan selatan ini, kini Zafran bisa membeli sebuah rumah besar di daerah kayu tangi dan menaikkan haji ibunda tercintanya bahkan Zafran memiliki beberapa mobil mewah.
Dari semua anugerah yang didapatkan Zafran tersebut, sebenarnya di dalam hatinya yang paling dalam masih saja menyisakan kepiluan yang teramat sangat karna sampai saat ini dia masih belum bisa menemui anak semata wayangnya, Rania. Sampai saat inipun Zafran tidak pernah menikah lagi, karna dia sebenarnya masih mencintai Risma istrinya, meskipun Risma sudah menjadi istri orang lain.
Sampai suatu hari, Zafran menerima sebuah surat undangan perkawinan yang salah alamat yang dikirimkan ke alamat rumah ibunya dahulu yang sekarang sudah dijual kepada orang lain. Orang tersebut datang ke rumah makannya dan memberitahukan kepada Zafran bahwa undangan yang dikirimkan tersebut sebenarnya untuk ibu Zafran.
Setelah surat undangan tersebut dibuka dan dibaca oleh ibu Zafran, seketika beliau meneteskan air matanya, hal ini membuat Zafran sedikit kebingungan melihat ibunya menangis.
“Kenapa emak menangis mak ?” tanya Zafran keheranan.
“Ini undangan perkawinan Rania anakmu zaf” jawab ibunya lirih.
Zafran sontak terdiam sejenak lalu matanya mulai berkaca – kaca. 
“Alhamdulillah” seru Zafran agak pelan.
Sambil mengusap air mata yang tidak terasa membasahi wajahnya, Zafran pun memberanikan diri untuk membaca surat undangan tersebut.
Meskipun tidak pernah tahu siapa sebenarnya ayahanda tercintanya karna waktu Zafran buron lalu tertangkap polisi, Rania baru berusia 3 tahun, namun di surat undangan tersebut tetap tertulis Rania Putri binti Zafran. Hal ini yang membuat Zafran sangat bahagia.
Memang tidak ada yang bisa memutuskan pertalian darah antara anak dan ayah.
“Acaranya minggu depan mak” ucap Zafran masih lirih.
 “Temui Rania Zaf, beritahu dia bagaimana keadaanmu sekarang. Jangan sampai pernikahannya berlangsung dia tidak pernah mengetahui siapa Zafran, ayahnya. Karna dia terlalu kecil waktu kamu masuk penjara dulu”  
Ucapan ibunya membuat semangat Zafran untuk menemui anak semata wayangnya menjadi semakin kuat. Ditambah Zafran sekarang menjadi seorang pengusaha yang sukses jadi tidak akan membuat Rania malu bila mengetahui siapa sebenarnya ayahnya sekarang.
***
            Setelah menerima undangan tersebut, sore harinya Zafran langsung memutuskan untuk mencari sebuah kado yang istimewa untuk Rania yang akan menikah.
Mengelilingi kota Banjarmasin untuk mencari sebuah kado pernikahan bukanlah perkara sulit, dengan banyaknya sekarang toko – toko yang menawarkan berbagai macam aksesoris dan kado untuk pernikahan.
Akhirnya setelah memasuki beberapa toko, dia memilih untuk pergi ke mall dan memutuskan untuk membelikan Rania sebuah jam tangan mewah yang bertabur berlian seharga hampir 50 juta rupiah.
Sesampainya di rumah Ibu Zafran terkejut setelah mengtahui Zafran membelikan sebuah jam tangan mewah untuk Rania.
“Zaf, kadomu untuk Rania itu tidak kemahalankah ?” tanya ibunya.
“Untuk Rania berapapun harganya pasti akan Zafran beli, mak” jawab Zafran sambil tersenyum.
“Harga 50 juta itu tidak akan pernah bisa menggantikan waktu yang terbuang sia – sia karna kebodohan Zafran dulu, sehingga membuat Rania tidak pernah tahu siapa ayahnya sebenarnya dan tumbuh dengan orang yang bukan ayahnya” sambung Zafran.
“Memang benar Zaf, tidak ada yang lebih berharga dalam hidup ini selain hidup bersama keluarga dan bisa menyaksikan anak kita tumbuh besar dan berkembang” tutur Ibunya menasehati Zafran.
“Iya mak, besok Zafran akan mengirimkan jam tangan ini langsung ke rumah Rania”
***
            Suasana di sebuah rumah besar di daerah HKSN itu agak sepi, hanya ada beberapa orang pembantu rumah tangga yang sedang membersihkan pagar dan pekarangan rumah tersebut, karna si empunya rumah mau mengadakan hajatan besar.
Sebuah mobil Mercy berjalan lambat lalu berhenti tepat di depan pagar rumah besar tersebut, Zafran lalu keluar dari mobil mewah tersebut, dia menenteng sebuah kotak kado kecil yang berisi jam tangan mewah yang akan diberikannya langsung kepada Rania.
“Assalamualaikum, permisi mas” kata Zafran sambil menengok ke dalam pagar rumah itu.
“Wa’alaikumsalam, mau mencari siapa pak ?”  tanya salah seorang pembantu yang ada di situ.
“Ranianya ada dirumah mas ?” tanya Zafran.
“Wah, mba Ranianya baru saja tadi jalan pak sama ibunya. Ada yang bisa saya bantu pak ?”
Niatan untuk menyerahkan langsung kado pernikahan kepada Rania pun tidak bisa dilakukan Zafran. Dia ingin menyerahkan langsung dan ingin sekali melihat langsung Rania sekarang dan ingin memberitahukan bahwa dia adalah anak kandungnya.
“Oh begitu yah, waduh. Ya sudah kalu begitu mas saya permisi yah. terima kasih” Zafran pamit.
“Iya pak sama – sama” sahut pembantu itu.
Berhubung kado yang ingin diberikan tidak bisa langsung diberikan, dengan wajah lesu Zafran langsung pulang menuju salah satu rumah makannya. Disana dia duduk merenungi dan memandangi sebuah foto kecil ketika Rania baru berumur 1 tahun dalam gendongan Risma istrinya, foto itulah yang selama ini menjadi penawar rindunya kepada Rania.
***
            Hari pernikahanpun tiba, rencananya acara pernikahan tersebut langsung disambung dengan resepsi perkawinan kedua mempelai.
Rumah besar nan megah tersebut pun bersolek dengan indahnya bak istana kerajaan, banyak karangan bunga yang mengucapkan selamat kepada kedua mempelai baik dari para keluarga maupun kolega.
Dari banyak karangan bunga tersebut, ada sebuah karangan bunga yang nampak lebih besar dari yang lain, karangan bunga tersebut kelihatan cantik dengan berbagai macam bunga yang menghiasinya, karangan bunga tersebut adalah dari Zafran, meskipun datang paling terakhir namun punya Zafran paling besar diantara semuannya dan itu banyak menarik perhatian para undangan yang datang bahkan tidak sedikit yang berfoto di depan karangan bunga tersebut.
Di rumah Zafran, Zafran mengenakan pakaian sasirangan kesukaannya dia bercermin mencoba melihat – lihat dari berbagai sisi apakah sudah sesuai dengan keinginannya, Zafran tampak gagah dan berwibawa mengenakan sasirangan tersebut, dia menyisir rambutnya kebelakang, lalu memakai farfum mahal dan selesai.
Tidak ada yang mengetahui akan kedatangan Zafran ini kepernikahan Rania, karna Risma hanya mengundang ibundanya sendiri dan tidak pernah pula ada kabar bahwa Zafran sudah lama sekali keluar penjara dan akan datang ke pernikahan anaknya, namun karna yang menikah adalah Rania darah dagingnya sendiri, meskipun tidak ada undangan Zafran tetap merasa berhak untuk menyaksikan pernikahan anaknya.
Dengan menuntun sang ibunda yang sudah mulai renta, untuk memasuki mobil Mercynya Zafran lalu masuk dan duduk disebelah ibunya dan merekapun berangkat dengan ditemani oleh seorang supir.
Sesampainya disana, para undangan sudah mulai banyak, karna acara resepsi 30 menit lagi akan dimulai, banyak keluarga dari kedua mempelai menerima dan menyambut tamu yang hadir ke acara tersebut termasuk Risma sendiri beserta suami barunya.
Mereka berduapun keluar dari mobil tersebut, Zafran langsung memerintahakan sopirnya untuk tidak memarkirkan mobilnya terlalu jauh agar ibunya berjalan tidak terlalu jauh. Setelah sampai di depan pagar rumah itu, Risma langsung menghampiri ibu Zafran dan dia langsung mencium tangan serta memeluk erat beliau, Zafran pun menjadi terharu karna Risma masih mengingat mantan mertuanya dahulu.
Risma sebenarnya tidak menyadari bahwa orang yang menuntun mantan Ibu mertuanya itu adalah Zafran mantan suaminya dulu.
“Emakkkk, apa kabar ?” tanya Risma dengan ramah seraya mencium tangan dan memeluk beliau, tidak terlihat muka acuh diwajahnya, wajah Risma sama seperti 15 tahun yang lalu tetap cantik dan manis meskipun sudah mulai ada keriput dikulitnya karna termakan usia.
Zafran terdiam sejenak, dia hanya bisa mematung melihat Risma yang tidak melupakan Ibunya, dan begaimana tidak inilah untuk pertama kalinya Zafran melihat langsung wajah Risma setelah kejadian beberapa tahun silam sewaktu dia masih menjual nasi goreng keliling.
“Alhamdulillah baik, nak Risma” jawab emak membalas pelukan hangat dari Risma.
“Alhamdulillah, emak sama siapa kesini ?” tanya Risma.
Pertanyaan itu membuat Ibu Zafran sejenak terdiam, beliau hanya bisa memalingkan wajahnya ke arah Zafran dan menunjuknya.
Tiba – tiba, Risma mengarahkan pandangannya kepada sosok yang berada dibelakang mantan ibu mertuanya tersebut. Dan . . .
Suasana hening tiba – tiba menghampiri mereka, setelah Risma dan Zafran bertemu pandang, terjadilah keharuan yang sangat mendalam diantara mereka bertiga. 
“Bbb…bbb…aaang Zafran” Risma terbata setelah melihat langsung ke arah Zafran.
Zafran hanya membalasnya dengan tersenyum, dia mencoba untuk tetap tenang dan tidak terbawa emosi.
“Rismaa, Apa kabar ?” Zafran seraya tersenyum memberikan tangannya untuk bersalaman.
Zafran mencoba untuk tetap mengontrol emosinya dan tetap bersikap sopan, karna dia sedang berada di acara pernikahan anaknya bukan acara reuni keluarga.
Lama Risma terhenyuk menahan emosi di dadanya, dia merasa bahwa ini adalah sebuah keajaiban karna ayah kandungnya Rania yang selama ini dikiranya masih di dalam penjara bahkan dia sempat berfikiran bahwa Zafran akan dibawa ke LP Nusakambangan tempatnya para penjahat kelas kakap dihukum, datang langsung untuk menyaksikan pernikahan anaknya.
Perasaan Risma saat itu campur aduk, antara malu lantaran meninggalkan Zafran begitu saja dan menikah dengan laki – laki lain dan bahagia karna sekarang dia bisa melihat Zafran sudah bebas dan terlihat sukses.
“Alhamdulillah baik bang, abang sendiri gimana keadaannya ?” jawab Risma masih saja tidak percaya dengan keberadaan Zafran ini.
“Alhamdulillah baik juga” Zafran memberatkan suaranya agar terdengar lebih berwibawa.
“Oh ya sekarang Rania ada dimana ? boleh aku menemuinya ? aku cuma ingin mengucapkan selamat kepadanya dan ingin sekali melihatnya untuk yang terakhir kalinya sebelum dia dipinang oleh orang lain” 
“Rania ada di kamar bang dia lagi siap – siap, ayo Risma anterin abang sama Rania biar dia bisa tahu bagaimana sekarang abang” suasana hening kembali cair setelah Risma ingin mempertemukan Zafran dengan anak semata wayangnya.
Risma lalu meminta izin kepada suaminya untuk mengantarkan Zafran ke kamar atas untuk menemui Rania. Meskipun sempat ikut terkejut suami Risma mengizinkannya untuk mempertemukan Zafran dengan Rania. Ibunda Zafran hanya bisa menunggu di antara para undangan.
Di dalam sebuah kamar di lantai atas rumah besar tersebut, ada seorang perempuan yang sangat cantik sedang di make up, dan dipakaikan sebuah busana pengantin yang sangat anggun. Itu adalah Rania.
Seraya memasuki kamar tersebut Risma tidak bisa berkata apa – apa lagi.
“Rania sudah selesai nak ?” 
“Belum mah, sebentar lagi” 
“Ini ada yang mau bertemu kamu nak” 
Rania heran kenapa ingin bertemu pas disaat sedang sibuk seperti ini.
“Siapa mah, tunggu sebentar”
Lalu Rania pun dibawa keluar kamar tempat Zafran menunggunya, Rania menjadi bingung ketika Risma menuntunnya untuk menemui seorang lelaki yang agak berwibawa itu.
Rania yang heran itupun lalu memberikan senyum kepada Zafran, jantung Zafran seolah berhenti ketika anak semata wayangnnya berdiri tepat didepannya.
“Ada apa mah ?” tanya Rania kepada Risma.
Sejenak Risma terdiam, lalu air matanya mengalir. Melihat hal ini membuat Rania semakin kebingungan.
“Loh, kenapa mamah jadi menangis ?”
“Rania sayang, manusia memanglah tidak sempurna, tapi Tuhan memiliki segala kesempurnaan, hidup kita memang sangat misteri, terkadang Tuhan memberikan sesuatu yang jelek kepada kita padahal itu adalah yang kita butuhkan untuk belajar. Dihari bahagiamu ini Tuhan telah memberikan kado spesial buat kita nak, lelaki yang dihadapanmu ini adalah Zafran ayahmu” 
Sontak tangis ibu dan anak ini pun pecah mereka langsung berpelukan, meskipun Zafran pernah berbuat salah dimasa lalu tapi nampaknya mereka berdua sudah memaafkan dan seolah sangat merindukan kehadiran Zafran selama ini.
Lalu dengan airmata yang terus mengalir di pipinya Rania lalu mencium tangan Zafran lalu memeluknya dengan erat, seolah – olah selama ini dia merindukan dekapan hangat dari sang ayah. Zafranpun ikut menangis lalu dia menciumi anaknya Rania yang sebentar lagi akan menjadi pengantin.
“Maafkan ayah selama ini nak, tidak bisa melihat dan mendampingimu tumbuh dan berkembang, jujur ayah sangat merindukanmu Rania” 
Airmata Zafran pun mulai menetes, dia berharap sang anak bisa menerima semua takdir ini. Dan Zafran berjanji akan memberikan yang terbaik bagi Rania apabila Rania membutuhkannya.
Rania agak cemberut, dia tidak tahu harus marah atau tidak kepada Zafran tentang masa lalunya. Tapi pemikiran Rania yang begitu dewasa meskipun usianya baru 18 tahun, tidak membuat dia merasa kecewa dengan semua ini, karna dia merasa bersyukur meskipun tidak tahu siapa ayahnya sebenarnya, namun ayah tirinya sangat menyayangi dirinya ditambah pula setelah pernikahan kedua Risma tidak dikaruniai anak sehingga Rania tetap menjadi anak semata wayangnnya.
“Ayah takdir dari Tuhan siapa yang tahu, kita manusia hanya bisa berusaha karna keputusan akhirnya adalah Tuhan. Ayah maafkan juga Rania yang tidak pernah ingin mencari tahu dimana ayah sekarang, bagaimana keadaannya, apakah dia bahagia atau tidak, Rania selalu berdoa semoga ayah selalu bahagia” ucap Rania dengan bijaknya.
“Terima kasih sayang, bolehkah ayah kembali memelukmu dan menciummu sayang ?” pinta Zafran.
“Ayah, Rania kangeeeen bangett” seraya memeluk kembali ayahnya.
Suasana itu pun tampak sangat mengahrukan namun tetap membahagiakan bagi semuanya.
“Sekarang kamu kerja dimana bang ?” tanya Risma.
“Alhamdulillah, sekarang abang membuka rumah makan” jawab Zafran.
“Alhamdulillah, Dimana lokasinya yah ?” balas Rania.
“Kamu tahu ‘Nasi goreng bang zaf’ ?” 
“Iya tahu, Rania pernah beberapa kali makan disana.” 
“Nah itu punya ayahmu ini sayang” seraya tersenyum penuh bangga dengan hasil kerjanya selama ini di depan kedua orang yang disayanginya ini.
“Ooohh rumah makan itu punyanya ayah yah, Subhanallah. Wah itu salah satu rumah makan favorit Rania yah” jawab Rania penuh bangga.
“Bang Zafran hebat yah sekarang, kami jadi ikut bangga, abang sudah jadi pengusaha rumah makan terkenal di Banjarmasin ini” tambah Risma.
“Nanti kalau kalian ada waktu mampir aja yah disana, nanti ayah buatkan nasi goreng spesial buat kalian” jawab Zafran lagi.
Keduanyapun tersenyum mendengar ucapan dari Zafran tadi.
Suara langkah kaki menaiki tangga terdengar . . .
“Rania akadnya sudah mau dimulai sayang” itu dari ayah tirinya Rania seraya menunjuk ke jam tangannya, beliau bernama Arkand, seorang pengusaha batubara yang meminang Risma setelah istrinya meninggal dunia karena kecelakaan.
Pak Arkand adalah orang yang sangat baik dan sopan terhadap semua orang, beliau adalah keturunan Arab-banjar. Beliaulah yang selama ini ikut merawat dan membesarkan Rania penuh dengan kasih sayang meskipun Rania bukan anak kandungnya, sehingga Rania tidak kehilangan sosok seorang ayah sepeninggal Zafran yang menjalani masa hukuman.
Pak Arkand pun menghampiri mereka bertiga yang terlihat mematung . . .
“Pak Zafran, terima kasih sudah berhadir diacara kami” ucap pak Arkand seraya tersenyum.
“Iya sama – sama pak, hari ini saya sangat bahagia bisa melihat Rania bersanding dipelaminan” sambil membalas senyuman dari pak Arkand.
“Terima kasih pak, selama ini sudah menyayangi dan merawat Rania dengan baik. Sehingga Rania tidak pernah kehilangan sosok seorang ayah di hidupnya. Saya tidak akan pernah bisa membalas kebaikan bapak yang sudah memberikan yang terbaik untuk kehidupan Rania. Sekarang Rania juga anak bapak” tambah Zafran.
“Walau bagaimanapun kita semua sayang sama Rania . . .” balas pak Arkand seraya tersenyum dan mencium pipi Rania lalu memeluknya.
“Terima kasih pah, aku sayang sama papah” balas Rania dengan genit.
“Oh iya, ini ada hadiah dari saya untuk Rania. Cuma nanti saja dibukanya yah, habis akad nikahnya saja” pinta Zafran seraya memberikan sebuah kotak kecil yang berisi jam tangan mewah yang tempo hari dibelinya khusus untuk Rania.
“Wow terima kasih ayah” balas Rania dengan penuh keceriaan.
Rania merasa hari ini hidupnya semakin lengkap selain akan menikah akhirnya dia bertemu dengan ayah kandungnya selama ini dan mereka pun akhirnya menuju ke lantai bawah yang sudah penuh dengan para tamu yang hadir untuk memulai proses akad nikah.
***
            Setelah proses akad nikah selesai, Zafran merasa sudah tenang karna melihat langsung putri semata wayangnya telah menikah. Meskipun tidak bisa menikahkan langsung, namun di dalam dadanya terpancar kebanggaan karna anaknya sekarang sudah ada yang meminang.
Begitu akad nikah selesai, kedua pengantin langsung disandingkan di sebuah pelaminan yang besar dan mewah. Zafran hanya bisa memandangi Rania dari jauh karna dia merasa tidak berhak untuk ikut berdiri mendampingi Rania dipelaminan. 
“Cukup Risma dan pak Arkand saja yang mewakili saya” ketika beberapa orang keluarga yang sudah mengetahui cerita mereka meminta untuk Zafran ikut naik ke pelaminan untuk mendampingi anaknya, Rania.
Hari sudah hampir sore, tamu – tamupun sudah mulai berkurang, Zafran yang sedari tadi duduk santai bersama ibunya di salah satu sudut ruangan itu pun akhirnya pamit untuk pulang. Mereka berdua pun segera menaiki ke pelaminan untuk memberikan selamat kepada kedua mempelai.
“Selamat yah sayang, Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, doa ayah selalu menyertaimu sayang, maafkan ayah tidak bisa menemani kalian sampai acara selesai. Ayah selalu bersyukur atas hari ini, hari yang sangat membahagiakan bagi ayah, ayah tidak akan pernah melupakan hari ini. Jadilah istri yang sholehah nak, dan berbakti kepada suamimu. Ingat sayang, diluar sana ada seorang ayah yang selalu mencintai dan menyayangimu nak.”
Zafranpun memeluk Rania lalu mencium kepalanya tanda memberikan restu kepada anaknya.
“Selamat yah nak, semoga kamu bisa menjadi suami yang sholeh, tuntunlah istrimu, ajari dia ilmu agama, sayangi dia dengan setulus hati, jangan pernah membuat hatinya terluka. Doaku selalu menyertai kalian berdua nak”
Zafran juga memberikan sedikit nasehat kepada suami dari Rania, dia tidak ingin suaminya seperti dia dulu yang telah menyia – nyiakan keluarganya akibat dari salah pergaulan.
Sebelum keluar meninggalkan rumah itu, Zafran memalingkan sebentar badannya ke arah pelaminan, lalu melambaikan tangannya ke arah kedua mempelai yang dibalas dengan lambaian tangan dari kedua mempelai dan keluarganya.
Zafran sangat bahagia hari ini, tidak ada yang lebih membahagiakan di hidup ini selain bisa menyaksikan langsung pernikahan anak tercinta.