Pagi
itu tidak ada yang berbeda dari pagi – pagi biasanya, meski pagi ini dihiasi
dengan gerimis hujan yang turun dan bercampur dengan udara yang agak dingin
namun tetap terasa sejuk bagi Rano, seperti biasa sehabis mandi dan shalat
subuh dia duduk santai sambil ditemani Koran hari ini, secangkir kopi susu
hangat, kue atau ubi goreng dengan petis buatan sang istri Aisyah yang tak
pernah absen menemani paginya sambil menunggu sarapan pagi dihidangkan.
“Papah, gimana aku mau berangkat sekolah kalau
harinya masih hujan ? papah antar Anita pakai mobil yah ?” Rengekan Anita, anak semata
wayang Rano buah cintanya dengan Aisyah.
Karna Anita anak satu –
satunya, maka Rano sangat menyayangi dan memanjakan Anita, apapun yang diminta
pasti akan langsung dikabulkan tanpa terkecuali termasuk permintaan Anita yang
minta antar ke sekolah naik mobil meskipun jarak antara rumah dan sekolah Anita
tidak begitu jauh.
“Iya sayang, nanti papah antar kamu pakai
mobil” jawab
Rano.
“Asyiiiik !!!” seru Anita
“Ayo sekarang kamu mandi dulu sana, biar kita
bisa sarapan bersama ” pinta
Rano kepada anak kesayangannya.
Setelah mengabulkan permintaan anak
tersayangnya Rano langsung mendapat satu kecupan sayang dari Anita yang
langsung bergegas menuju kamar mandi.
Rano merasa hidupnya sekarang
sudah sangat sempurna, menjadi salah satu pimpinan cabang termuda di sebuah
bank swasta yang ada di Banjarmasin, lalu bisa menikahi Aisyah, gadis cantik
anak kepala desa yang juga saudagar kaya dikampungnya dulu, dan dikaruniai
seorang anak yang cantik jelita.
Sekitar 15 menit setelah itu,
suara dari dapur memanggilnya.
“Ayah, sarapannya sudah siap ini” ternyata dari Aisyah, istri
Rano yang memanggil.
”Alhamdulillah, iya tunggu ayah kesana” sahut Rano sambil bergegas.
Sesampainya di depan meja
makan, Rano disambut senyum manis Aisyah yang sambil mengasihkan piring yang
sudah berisi nasi dan lauknya, disebelahnya sudah duduk Anita yang juga
mengirimkan senyuman yang tidak kalah manisnya kepada Rano.
Saat – saat seperti inilah
yang membuat hidup Rano semakin indah dan menjadi pemicu semangatnya dalam
bekerja untuk menghidupi keluarga kecilnya.
Setelah mereka selesai
sarapan, jam dindingpun menunjukkan pukul 07.00 yang artinya waktu untuk
bersiap mengantar Anita ke sekolahnya, Rano pun menuju mobil kesayangannya
jenis sedan BMW keluaran terbaru lalu mulai memanaskan mesinnya sembari
menunggu Anita berpakaian seragam sekolahnya.
Tidak
berapa lama, Aisyah datang mendekati Rano, dengan bicara setengah manja.
“Ayah sayang, hari ini kan hari sabtu, kamukan
libur kerja. Temenin aku ke mall dong sayang” dengan suara penuh kemanjaan
khas seorang perempuan.
Rano pun tertegun sejenak dan berfikir lalu
tersenyum.
“Iya sayang, buat kamu apa sih yang tidak ?
tapi kita ke mall nya setelah Anita pulang sekolah yah jadi sekalian kita
jemput dia di sekolah. Gimana sayang ?” sahut Rano.
“Oke sayang, maksud aku juga begitu. Kita ke
mall nya sekalian sama Anita”
Senyuman manis Aisyah mengembang lalu ciuman
dipipi Rano kembali mendarat dengan sukses dan Aisyah pun kembali masuk rumah.
Tidak berapa lama Anita keluar sudah siap
dengan seragam sekolah dan tas besarnya khas anak sekolahan zaman sekarang.
”Papah ayo kita berangkat, Anita sudah siap”
“Ayo sayang, cepat naik mobil nanti seragam
kamu basah”
Aisyah
pun bergegas keluar untuk mengantarkan mereka berangkat, lalu Anita bersalaman
mencium tangan dan mengecup pipi ibunya. Lalu Aisyah mencium tangan Rano dan
Rano pun membalasnya dengan sebuah kecupan mesra di kening Aisyah. Suasana yang
penuh dengan rasa cinta dan kehangatan di keluarga kecil mereka.
“Assalamu’alaikum mamah Anita berangkat dulu
yah, mwaah” Anita
dari dalam mobil memberi salam kepada Aisyah yang ikut mengantarnya meski
sampai di depan rumah saja.
“Wa’alaikumsalam, hati – hati dijalan sayang” sahut Aisyah sambil
melambaikan tangannya.
Sebagaimana
hari – hari sebelumnya kegiatan Rano tidak pernah berubah, selalu saja begitu
kegiatan yang tidak pernah membuatnya bosan bahkan membuat dirinya semakin
semangat setiap harinya.
Membaca
Koran, minum kopi susu hangat, kue atau ubi goreng dengan petis, sarapan
bersama – sama, memanaskan mobil, lalu mengantar Anita ke sekolah dan sesekali
menemani istrinya belanja ke pasar atau mall. Kegiatan ini seolah – olah
menjadi sesuatu hal yang wajib dilakukan oleh Rano setiap hari kecuali hari
minggu tentunya. Seandainya salah satu hal tersebut tidak dilakukan maka Rano
merasa ada yang kurang dengan kehidupannya.
Tidak
ada yang istimewa memang, bukankah itu memang tugas seorang ayah dan sebagai
kepala keluarga dia memang seharusnya memenuhi semua kebutuhan keluarganya.
Pukul
12.15 siang, handphone Rano berbunyi, ternyata itu sms dari Anita yang minta
jemput dari sekolahnya. Rano pun bergegas meminta Aisyah untuk bersiap – siap
agar mereka bisa segera berangkat untuk menjemput Anita dan sekaligus membawa
mereka jalan - jalan ke mall sesuai dengan permintaan Aisyah tadi pagi.
“Mah, ayo cepat dandan Anita sudah mau pulang
nih, sekalian mamah mau ke mall kan ? ” pinta Rano kepada istri tercintanya.
“Iya pah, tunggu sebentar mamah mau siap – siap
nih” Jawab
istrinya dari dalam kamar.
Seperti yang kita ketahui, “sebentarnya”
perempuan sama dengan satu babak permainan sepak bola.
Sembari
menunggu istrinya selesai berdandan Rano melaksanakan shalat dzuhur dulu
sebelum nanti berangkat untuk menjemput Anita dan langsung membawa mereka jalan
– jalan ke mall.
Setelah
hampir 30 menit di dalam kamar akhirnya istrinya keluar dengan dandanan yang
sangat cantik, jilbab warna pink dipadukan dengan baju lengan panjang berwarna
pink pula dan bawahannya memakai rok panjang berjenis jeans. Sungguh menawan,
membuat hati Rano berdegup kencang setiap kali melihat istrinya keluar dari
kamar selesai berdandan, sungguh jauh berbeda 180 derajat ketika Aisyah tidak
kemana – mana dan berdiam di rumah saja. Inilah salah satu kelebihan dari Aisyah
sangat pandai menyenangkan hati suaminya, itu pula yang membuat Rano semakin
sayang kepada istrinya ini, sudah cantik pintar dandan pula.
Selang
beberapa saat setelah selesai shalat, tidak lama kemudian handphone Rano
berbunyi lagi, sekarang telepon dari Anita yang masuk.
“Halo Assalamualaikum, papah sudah dimana ?
Anita sudah lama menunggu nih” suara Anita di seberang sana.
“Wa’alaikumsalam, iya tunggu sebentar sayang
ini papah sama mamah sudah mau berangkat jemput kamu, kita sekalian jalan –
jalan ke mall yah ?” jawab
Rano untuk menenangkan hati anaknya yang mulai gelisah akibat kelamaan menunggu
jemputan dari Rano.
“ Benaran pah ? Oke pah, siapp !!” suara Anita terdengar
kegirangan karna akan diajak jalan – jalan ke mall.
Tidak beberapa lama kemudian, sampailah Rano di
depan sekolah Anita, Antia pun langsung menuju mobil dan masuk ke dalamnya.
“Papah kita jadikan jalan ke mall ?” tanya Anita tanpa basa basi lagi.
“Iya sayang jadi dong” jawab Rano.
“Hore !!!” seru Anita girang sambil menciumi pipi Rano dan
Aisyah.
Melihat anaknya kegirangan seperti ini semakin
menambah gairah hidup Rano, sungguh tak ada yang lebih berharga dimuka bumi ini
selain melihat keluarganya berbahagia. Seolah – olah Rano ingin terus hidup
untuk selama – lamanya bersama keluarga kecilnya ini.
Hampir
4 jam mereka di mall, belanjaan mereka pun sudah sangat banyak, Aisyah membeli
beberapa jilbab, busana wanita, dan tas yang bermerk begitupun Anita seolah –
olah tidak ingin kalah dengan mamahnya, dia membeli beberapa pakaian, tas
sekolah, dan boneka teddy bear besar yang sudah lama diinginkannya.
Bagi
Rano yang merupakan seorang pimpinan cabang di salah satu bank swasta terkenal
di Banjarmasin, semua keinginan dan kebutuhan Istri dan anaknya itu bukanlah
hal yang sulit untuk dikabulkan, apapun yang mereka mau mereka bisa langsung
dapatkan ketika mereka bilang kepada Rano.
Setelah
puas berbelanja dan makan, mereka bertiga pun akhirnya memutuskan untuk langsung
pulang ke rumah karena sudah merasakan lelah yang sangat, ketika berbelanja di
mall tadi.
Hari
sudah hampir mulai senja ketika mobil mereka mulai meninggalkan mall, berhubung
waktu magrib sudah hampir sampai Rano pun mulai mengemudikan mobilnya agak
kencang karna untuk menyempatkan shalat ashar yang belum dikerjakannya karna
terlalu asyik menemani keluarganya berbelanja.
Mobil
merekapun semakin kencang dikemudikan Rano, di depan mereka ada lampu lalu
lintas perempatan jalan arah menuju kayutangi, di sana lampu hijau menyala
namun sudah hampir berganti warna kuning lalu merah, akan tetapi Rano tidak
sedikitpun memperlambat laju mobilnya.
Desakan
dari istrinya agar berhati – hati dan memperlambat laju mobilnya tidak
dihiraukan lagi oleh Rano. Malah Rano semakin menginjak gas mobilnya semakin
dalam untuk menyempatkan bisa melewati lampu lalu lintas yang sudah hampir
menyalakan lampu merah tersebut.
Lampu
lalu lintas pun akhirnya berganti merah yang artinya seluruh kendaraan harus
berhenti, namun mobil Rano tetap melaju kencang bahkan semakin kencang, dan
akhirnya tiba – tiba dari arah kiri mobil mereka sebuah truk besar yang membawa
sebuah kontainer dibelakanngnya melaju cukup kencang dan akhirnya BBBBRRRRKKKK DUUUUMMMM
!!!!!!!!!!!
Mobil truk berisi kontainer tersebut menyambar
mobilnya Rano, seketika mobil Rano terpental dan terbalik beberapa kali dan
akhirnya terbakar.
***
Teeeeeetttttt . . . teeeeeeeetttt . . .
teeeeettttttt . . .
Bunyi bel di salah satu rumah
sakit jiwa di kota ini dibunyikan tanda bahwa makan siang akan segera disiapkan
dan bagi yang menempati kamar isolasi makanan akan langsung diantar ke kamar
masing - masing oleh beberapa orang perawat.
Di dalam sebuah kamar isolasi
berukuran 2 x 2 m2 agak gelap, pengap dan mengeluarkan bau yang
kurang sedap. Didalamnya terdapat sebuah tempat tidur besi yang langsung
menempel ke dinding dan sebuah kloset duduk, hanya ada satu jendela kecil
berteralis besi disana dan beberapa lubang kecil yang terdapat disekitar
dindingnya untuk sekedar memasukkan cahaya matahari dan sekaligus pergantian
udara.
Seonggok tubuh lelaki tinggal
tulang yang dilapisi sedikit daging dan kulit, berdiri menghadap ke arah
jendela kecil berteralis dan membelakangi pintu masuk kamar tersebut, wajah
lelaki itu dipenuhi dengan jenggot yang sudah mulai memutih karna usia. Di
dalam kamar tersebut, setiap hari mulai dari pagi sampai agak siang lelaki
tersebut selalu mempraktekkan sesuatu hal yang tidak lazim, dimulai dari pagi –
pagi sekali dia bangun tidur lalu dia langsung duduk di atas kloset duduknnya
dan mempraktekkan gaya seorang lelaki yang sedang duduk dan membaca Koran
sambil minum kopi, setelah beberapa saat dia berbicara sendiri seolah – olah ada
yang mengobrol dengannya setelah ritual membaca koran dan minum kopi selesai
dilakukan, dia duduk sejenak sambil sedikit berolahraga sembari menunggu
petugas rumah sakit mengantar makanannya, setelah makanan diantar dia kembali
berbicara sendiri seolah – olah ada orang dihadapannya, hingga selesai sarapan
pagi lagi – lagi lelaki itu bertindak diluar kebiasaan manusia normal, dia lalu
duduk di atas ranjang besinya kemudian mempraktekkan seolah - olah orang yang
sedang menyetir mobil sambil diiringi dengan obrolannya sendiri dan terkadang
diselingi dengan tawa candanya sendiri pula. Itulah ritual yang dilakukannya
rutin setiap hari tanpa henti oleh lelaki tersebut sejak 20 tahun yang lalu
ketika dia pertama kali masuk dan menjadi pasien rumah sakit jiwa tersebut.
Ya, dia adalah Rano, seorang
mantan pimpinan cabang termuda di salah satu bank swasta terkenal di kota
Banjarmasin, seorang suami yang sangat mencintai istrinya, seorang ayah yang
sangat menyayangi anaknya.
Ya, dia adalah Rano yang
setiap pagi ritual yang pasti dilakukannya adalah membaca koran ditemani secangkir
kopi susu hangat, dan kue atau ubi goreng dengan petis buatan istrinya.
Sekarang ritual itupun masih tetap dilakukannya meskipun dalam keadaan yang
berbeda 180 derajat.
Koran,
kopi susu hangat, kue dan ubi goreng petis, istri yang cantik, anak yang jelita
dan mobil sedan BMW sekarang hanyalah menjadi sesuatu yang tidak nyata lagi,
namun di alam bawah sadarnya semua hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat
nyata yang biasa dia lakukan setiap hari sebelum berangkat bekerja.
Kecelakaan
tragis 20 tahun lalu yang merenggut nyawa anak dan istrinya, namun beruntung
bagi Rano dia masih bisa hidup dan selamat akan tetapi mengalami cedera kepala
yang sangat parah, yang membuat dia menderita amnesia untuk beberapa waktu dan
akhirnya sering berhalusinasi sendiri bahkan bisa mengamuk tidak jelas seperti
orang gila, sampai pada akhirnya pihak keluarga pun bersepakat untuk mengirim
Rano ke rumah sakit jiwa untuk menjalani rehabilitasi. Keinginan hati keluarganya
agar Rano bisa disembuhkan lewat jalan rehabilitasi kejiwaan tidak juga menuai
hasil yang positif, sebaliknya semenjak Rano dirawat di rumah sakit jiwa ini
kelakuan – kelakuan aneh Rano semakin menjadi – jadi sampai pada akhirnya, Rano
harus dimasukkan ke dalam ruangan isolasi, ruangan khusus untuk kategori
penderita sakit jiwa yang berat dan disanalah dia menghabiskan sebahagian masa
hidupnya sebagai seorang pasien penderita sakit jiwa yang tidak bisa dijamin
kesembuhannya.
Ketika
awal – awal masuk rumah sakit jiwa ini, Rano juga mulai menderita paranoid yang
berlebihan terhadap lampu - lampu terlebih yang berwarna hijau, kuning, dan
merah ditambah pula suasana rumah sakit jiwa yang kurang baik dan bersahabat.
Karena kecelekaan yang menimpa dia dan keluarga kecilnya akan semakin jelas dirasakan
ketika dia menemui lampu dengan warna tersebut.
Suatu
malam ketika lampu – lampu rumah sakit tersebut mulai dinyalakan untuk
menerangi kamar – kamar dan lorong – lorong kecil yang ada disana, tiba – tiba
saja Rano mengamuk dan mulai memecahkan lampu – lampu yang ada disana, sampai –
sampai membuat para penghuni yang lain menjadi ketakutan karna ulahnya. Untung
saja para perawat bertindak sigap menangkap dan langsung membius Rano dengan
suntikan penenang, meskipun 5 orang perawat laki – laki yang mengehentikannya
cukup kewalahan.
Setelah
beberapa malam, kejadian tersebut terus terulang dan hampir semua bola lampu
yang ada di rumah sakit jiwa tersebut pecah karna ulah Rano, akhirnya pihak
rumah sakit bersepakat untuk mengirim dan menempatkan Rano ke ruang isolasi,
ruang isolasi Rano itu berukuran 2 x 2 m2 tanpa lampu, dan untuk
penerangannya pihak rumah sakit terpaksa memberi lubang tambahan pada dinding
kamar tersebut agar ruangan kecil tersebut bisa tetap dapat terkena pancaran
cahaya dari ruangan isolasi disebelahnya.
Itulah
dimana Rano melihat dunia luar untuk terakhir kalinya sebelum ditempatkan
disebuah ruangan yang gelap dan pengap selama hampir 20 tahun, pihak rumah
sakit bukan tanpa alasan tetap menempatkan Rano di ruang isolasi tersebut.
Sudah beberapa kali Rano dikeluarkan dari tempat tersebut namun beberapa kali
pula Rano kembali berulah sehingga ruangan tersebut seolah menjadi satu –
satunya tempat yang bisa membuat Rano menjadi tenang.
Sekarang
sudah hampir 20 tahun sejak pertama kali Rano masuk ke sana, kepala rumah sakit
jiwa tersebut pun sudah berganti sampai 5 kali dan banyak para perawat yang
dahulu ikut menangani Rano pun silih berganti ada yang pindah bekerja maupun
yang telah memasuki masa pensiun, begitu pula dengan pasien di rumah sakit
tersebut sudah banyak yang keluar baik karena dinyatakan sembuh maupun yang
meninggal dunia. Kini Rano telah menjadi legenda di rumah sakit tersebut, siapa
pun baik perawat maupun keluarga dari para pasien yang sering berkunjung
sedikit banyak pasti mengetahui tentang kisah tragis yang dialami oleh Rano dan
keluarga yang sangat dicintainya yang menyebabkan Rano mengalami sakit jiwa
yang parah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar