Rabu, 11 Juni 2014

Kisah Si Penjual Bakso




      Senja di ufuk barat mulai menampakkan warna indahnya,gelak tawa anak – anak yang mau bersiap ke musholla pun mulai terdengar seperti nyanyian malam, orang – orang mulai menutup pintu dan jendelanya agar sang angin malam yang dingin tidak sampai ikut menyapa. Adit mulai menyeka peluh yang ada dikeningnya, sambil tersenyum kecut dia membuka laci kecil yang ada digerobak bakso dorongnya.


“Alhamdulillah untuk hari ini lumayan” gumamnya di dalam hati.


      Adzan magrib pun mulai berkumandang, sambil memasukkan uang hasil jualan bakso hari ini ke dalam kantongnya bergegaslah Adit dengan gerobaknya menuju sebuah musholla yang ada di kampung tersebut. Sesampainya disana, Adit langsung mengambil air wudhu dan ikut shalat magrib berjamaah.

      Setelah selesai shalat. wirid dan doa lalu shalat sunat ba’diyah magrib, Adit tidak langsung pulang dia kemudian memperbanyak dzikirnya, karna dengan mengingat Allah-lah maka hati kita akan menjadi tenang, begitulah salah satu arti ayat yang terdapat di dalam kitab suci Al-Qur’an (Ar-Ra’d : 28).

      Setelah hampir 20 menit Adit hanyut ke dalam kekhusyuan dzikirnya kepada Allah, lalu orang – orang mulai kembali berdatangan menuju musholla itu untuk bersiap melaksanakan shalat isya berjamaah.

      Adzan untuk shalat isya pun dikumandangkan, yang menandakan bahwa waktu untuk shalat isya telah masuk. Adit kembali berdiri lalu bergegas mengambil air wudhu lalu melaksanakan shalat sunat qabliyah isya 2 rakaat dan kembali dzikir sembari menunggu iqamah dikumandangkan.

      Shalat isya pun sudah ditunaikannya, wirid, doa dan shalat sunat ba’diyah isya pun begitu juga, namun Adit masih betah untuk menyendiri dipojok musholla tersebut untuk kembali melanjutkan dzikirnya. Tidak berapa lama berdzikir, ada sebuah sms masuk ke handphone Adit.


Sayang kamu dimana ? masih jalan kah ?” bunyi sms tersebut, ternyata itu dari Rini, istrinya Adit yang selama ini dengan setia menemani kehidupan Adit baik suka maupun duka.


“Lagi di musholla di kampung sebelah sayang tadi habis shalat isya, sebentar lagi aku pulang” balas Adit untuk menenangkan hati istrinya yang mulai khawatir.


“Baiklah sayang, anak – anak sudah menunggumu sayang dan makan malam sudah aku siapkan” balas istrinya dari seberang.


      Adit pun segera bangkit dan bergegas menuju gerobak dorongnya, tak sedikitpun lelah tersisa diwajahnya setelah melaksanakan shalat magrib dan isya lalu ditunggu oleh keluarganya dirumah. Adit pun mendorong dan membawa pulang gerobak baksonya yang hari ini terjual habis sebagaimana hari – hari biasanya, Adit membatasi penjualan baksonya hingga sampai menjelang magrib saja, habis ataupun tidak dia akan langsung pulang ke rumah, walau bagaimanapun Adit tidak ingin kehilangan momen – momen terindah bercengkrama bersama istri dan kedua buah hatinya saat malam menyapa. Dia tidak ingin kesibukannya sebagai penjual bakso keliling membuat dirinya melupakan bercengkrama dengan keluarganya, seperti yang pernah dialami oleh kehidupan Adit dahulu ketika kedua orangtuanya sibuk bekerja dari pagi sampai malam hari sehingga tidak sempat melihat bagaimana perkembangan Adit dan adik – adiknya.

      Setelah shalat dzuhur Adit biasanya mulai berjalan mendorong gerobak baksonya untuk menjajakan dari satu kampung – ke kampung lainnya, sudah hampir 5 tahun pekerjaan ini dia lakoni dan Alhamdulillah banyak warga kampung yang menjadi langganan tetapnya setiap hari, karena selain racikan bumbu dan bakso buatan sang istri yang sungguh tiada duanya, Adit juga dikenal sebagai orang yang ramah kepada setiap pembelinya, tidak jarang kadang pembeli memberi uang tip lebih kepada Adit hanya karena makan sambil ditemani ngobrol oleh Adit.

      Langkah Adit tidak terasa sudah mengantarkan dia dan gerobak kebanggaannya di depan rumahnya, rumah minimalis bertype 36 ini dibeli Adit atas hasil kerja kerasnya selama ini berjualan bakso keliling, kecil memang tapi di dalamnya terpancar cahaya kesyukuran dan kebahagian yang komplit sangat berbeda jauh ketika Adit dahulu masih kecil rumah besar yang mewah namun tidak tergambar kebahagiaan di dalamnya. Setelah memarkirkan gerobak dan mengikatnya ditiang di depan rumahnya, Adit pun langsung masuk ke rumah.


“Assalamualaikum”


“Wa’alaikumsalam” sahutan dari dalam rumah.


“Ayaahhhhh” Kedua anak Adit langsung memeluknya dengan erat.


      Adit pun langsung memeluk mereka berdua dengan erat pula dan terus menciuminya satu persatu. Sungguh kebahagiaan yang luar biasa didapat Adit ketika dia pulang lalu disambut pelukan hangat dari kedua buah hatinya.Kedua anak Adit tersebut masing – masing bernama Maya yang besar dan berumur sekitar 4 tahun dan Intan yang paling kecil berumur 2 tahun, Adit sangat menyayangi keduanya, sebelum berangkat biasanya Adit menciumi anaknya satu – satu dengan penuh kehangatan. Kedua anaknya inilah penghapus lelah dan letihnya setelah berjualan bakso keliling.


“Eh ayah sudah pulang, makan malam sudah aku siapkan ayo kita makan sama - sama” ajak istrinya dari dalam.


      Adit pun langsung menggendong kedua anaknya sambil menuju meja makan. Saat – saat seperti inilah yang menjadikan hidup Adit menjadi lebih hidup. Namun di atas semua itu pula, perasaan pilu juga terus menghampiri hati Adit, dia memikirkan bagaimana nasib – nasib ibu dan adik – adiknya sepeninggal ayahnya yang sekarang masih berada dibalik jeruji besi akibat tersangkut kasus korupsi.

      Setelah selesai makan malam, sambil mengistirahatkan perut Adit menyandarkan pundaknya pada sebuah bantal yang ditempelkan ke dinding, dengan mata berkaca – kaca dia lihat kedua anaknya yang sedang mau ditidurkan oleh istrinya, kenangan tentang kehidupan masa lalunya pun kembali membuncah difikirannya.


***

      7 Tahun kebelakang, kehidupan Adit tidaklah sesederhana ini, sebagai anak dari seorang anggota DPR dan pengusaha yang terkenal di daerahnya Adit memiliki kehidupan yang serba berlebihan, apapun yang dia dan adik - adiknya minta pada ayahnya dengan senang hati dikabulkan.

      Adit adalah anak tertua dari 3 bersaudara, kedua adiknya perempuan yang pertama bernama Amelia dan yang bungsu bernama Ratna. Ayah mereka Abdulghafur Salim adalah seorang anggota DPR dan pengusaha pertambangan batubara dan perkebunan sawit kondang yang terkenal di daerahnya dahulu, setiap jengkal tanah yang ada di daerahnya dulu tidak ada yang tidak dimiliki ayahnya.Sedangkan ibunya, Sri Handayani adalah seorang sosialita dan pimpinan cabang sebuah bank swasta terkenal pula di daerahnya.

      Mereka hidup dalam keberlimpahan harta yang melimpah ruah, rumah mereka pun dibangun bak istana dongeng yang di dalamnya terdapat kolam renang,taman bermain mini, dan ada lapangan untuk bermain bulutangkis. Di halaman depannya ditumbuhi berbagai macam jenis pepohonan yang rindang sangat asri bila terlihat dari luar. Pagar setinggi 2 meterpun menjadi benteng utama rumah tersebut dengan balutan hiasan khas timur tengah dengan berbagai lampu warna warni yang menghiasinya.

      Dari kecil sampai beranjak remaja, Adit dan adik – adiknya sangat dimanjakan oleh orang tuanya yang memang memiliki kelebihan uang. 7 tahun lalu Adit baru lulus sekolah SMA dan berencana ingin melanjutkan kuliahnya di negera kanguru, Australia, karna itu sudah menjadi impiannya sejak lama.

      Impian Adit untuk bisa bersekolah diluar negeri itu bukanlah perkara sulit untuk dikabulkan oleh orangtuanya, tak perlu harus mencari beasiswa untuk sampai kesana hanya perlu berbicara dan meyakinkan ayahnya sudah cukup untuk memberangkatkan Adit ke negara mana yang ingin ditujunya.

Suatu malam,Adit menyampaikan keinginannya untuk bisa kuliah diluar negeri.


“Adit, Kenapa kamu belum tidur nak ?” tanya ayah Adit yang baru pulang dari kantornya dan melihat Adit yang lagi selonjoran diruang santai sambil menonton televisi.


“Iya ayah,Adit sengaja nungguin ayah. Ada yang mau Adit bicarakan dengan ayah” kata Adit membuka pembicaraan, kebetulan dia bela – belain menunggu ayahnya pulang hampir jam 01.00 dinihari.


“Kamu mau membicarakan masalah apa nak ?” tanya ayahnya.


“Mengenai keinginan Adit yang kemarin”jawab Adit penuh tanda tanya.


“Jadi kamu yakin mau berangkat kesana nak ?”tanya ayahnya lagi.


“Insya Allah yakin yah, inilah impian Adit selama ini, Adit ingin belajar hidup lebih mandiri lagi ayah, Adit ingin lebih berkembang lagi.” jawab Adit dengan penuh semangat.


“Apakah kampus – kampus di dalam negeri tidak ada yang menarik perhatianmu nak ?” ayah Adit mencoba meyakinkan Adit kembali. 


“Untuk saat ini tidak ada ayah, Adit sudah browsing di internet mengenai kampus – kampus yang ada di negeri kita ayah, dan tidak ada satu pun yang bisa menarik perhatian Adit” 


“Ya sudah kalau begitu kapan kamu mau berangkat untuk mendaftar ?” 

Ayah Adit tanpa basa basi langsung menanyakan perihal keberangkatannya.


“Rencananya besok lusa ayah” jawab Adit mantap.


“Ya sudah, sekarang kamu tidur sana, besok kamu langsung pesan tiket buat kesana yah, nanti uangnya ayah transfer ke rekening kamu”kata ayah Adit lagi.


***

      Sudah hampir 6 bulan Adit berada di Australia untuk kuliah menimba ilmu, meskipun dipisahkan jarak yang jauh namun orangtua Adit tetap memastikan agar anaknya bisa mendapatkan sesuatu yang terbaik baik itu fasilitas maupun kebutuhan lainnya.

      Di Australia Adit dibelikan sebuah apartemen yang dia tempati sendiri, lalu untuk sarana transportasi Adit dikirimkan sebuah mobil sport merk BMW keluaran terbaru.Setiap 1 atau 2 bulan Adit pasti mendapat kunjungan dari orangtua dan adik - adiknya baik untuk sekedar menengok Adit, jalan – jalan, maupun urusan bisnis, tapi kedua orangtuanya tidak sampai lebih dari 1 minggu berada disana dan merekapun harus cepat balik lagi ke Indonesia karna tugas – tugas yang harus dijalankan oleh keduanya.

      Kesepian yang melanda hati Adit setiap kali keluarganya pulang kembali ke Indonesia membuat Adit mencari pelampiasan, sehabis pulang kuliah, malamnya Adit berpesta di klub – klub malam dengan teman – teman bulenya, Adit yang dulu anak baik dan manja perlahan - lahan sekarang mulai berubah 180 derajat ditambah dengan kehidupan yang jauh dari pantauan keluarga membuat Adit merasa menjadi manusia yang paling bebas dimuka bumi, kadang dia berdugem ria sampai subuh dan tidak jarang pula harus tidur dirumah temannya dan akhirnya tidak kuliah karna ketiduran disana.

      Hampir 6 bulan kehidupannya dihabiskan dengan berpesta dari tempat satu ke tempat lainnya. Sampai pada suatu hari, ada sebuah kabar mengejutkan dari keluarganya di Indonesia yang membuat Adit tersentak bak disambar petir disiang bolong.

Pertama sms masuk dari adiknya Amelia yang berbunyi :


“Bang Adit cepat pulang !!! ayah kena kasus bang”


      Adit yang menerima sms tersebut sontak merasa bingung kasus apa yang menimpa ayahnya sehingga harus memintanya pulang ke tanah air. Tanpa pikir panjang Adit pun segera menelpon balik ke handphone adiknya yang berada di Indonesia.


“Halo amel, kenapa kamu sms abang seperti itu ? apa yang sebenarnya terjadi” tanya Adit kebingungan kepada adiknya.


“Maafkan amel bang, tapi ini berita penting” jawab amel diseberang telepon.


“Berita penting apa ? ayah kena kasus apa mel ?” Adit mulai penasaran.


“Tadi siang ayah dijemput KPK bang, katanya ayah kena kasus penyuapan sengketa lahan, sekarang ayah ditemani ibu ada dikantor KPK” jawab Amelia dengan nada suara yang terbata – bata.


“Apa ??? dijemput KPK ???” Adit mulai tak percaya.


“Iya bang, ini sudah ramai diberitakan di tv, bang cepat pulang bang Amel takut” Amelia mulai menangis.


Adit mulai termenung lalu tanpa disadarinya air mata membasahi pipinya.


“Iya mel, tungguin abang langsung pulang nih, paling lambat besok abang sudah di Indonesia”


“Amel baik – baik disana yah, suruh mang diman jangan bukain pagar kalau ada wartawan yang datang, Amel di rumah aja sama Ratna jangan kemana – mana. Tunggu abang !” Adit mencoba menenangkan hati adiknya.


“Iya bang, amel tunggu yah, Assalamualaikum” Amel langsung menutup telponnya.


“Wa’alaikumsalam” jawab Adit.


      Airmata Adit pun keluar semakin deras, di dalam kepalanya mulai membayangkan hal – hal yang memalukan yang akan diterima keluarganya, cercaan, makian dan hujatan dari berbagai kalangan bakal siap singgah menghampiri kehidupan keluarganya, dibayangkan Adit pula Amelia adiknya yang duduk dikelas 3 SMU dan sebentar lagi akan menghadapi UN lalu adiknya yang bungsu Ratna yang baru kelas 2 SMP bagaimana mereka harus menanggung malu dihadapan teman – teman satu sekolahnya.

      Cobaan ini memang terasa menyesakkan dadanya,dia tidak percaya kalau ayahnya yang selama ini dia banggakan sebagai seorang pengusaha kaya dan anggota DPR pula bisa berbuat sehina itu.

      Akhirnya dengan sedikit tergopoh – gopoh Adit pun pergi mencari sebuah cafĂ© yang menyediakan layanan internet gratis dan membuka beberapa situs pemberitaan di tanah air, dan ternyata benar, rata – rata memberitakan tentang ayahnya yang seorang pengusaha sukses dan anggota DPR ditangkap oleh KPK.

      Adit pun menghela nafas panjang ketika membaca pemberitaan tersebut,semakin lama dia membaca berita – berita tersebut semakin bertambah depresi Adit, namun emosi Adit bisa tetap terkendali. Akhirnya dia membuka situs sebuah maskapai penerbangan dan memesan 1 tiket secara online untuk pulang ke tanah air besok pagi.


***

      Sesampainya di rumah Adit disambut dengan tangisan kesedihan kedua adiknya, mereka tidak mau masuk sekolah dan tidak mau keluar rumah lagi, karna teman – teman mereka mulai menanyakan perihal kasus ayah mereka.

Inilah yang membuat hati Adit semakin bertambah pilu dan fikirannya semakin bingung. Di usia seperti sekarang mereka harus menanggung aib keluarga yang sangat berat akibat kesalahan sang ayah tercinta.

      Rumah besar bak istana itupun sekarang mulai diselimuti awan mendung, lampu – lampu yang dulu menghiasi pagarnya tidak dinyalakan lagi, aset – aset keluarga mereka satu per satu mulai disita KPK, mulai dari mobil – mobil mewah, tanah – tanah milik ayahnya, perusahaan – perusahaan, lalu terakhir rumah istana mereka pun ikut disegel oleh KPK.

      Adit pun semakin stres dengan keadaan yang demikian, begitu pula dengan kedua adiknya yang akhirnya memutuskan untuk sementara berhenti sekolah karena tidak tahan menanggung malu. Adit akhirnya memutuskan untuk berhenti kuliah dan tidak kembali lagi ke Australia dia tidak mau tahu lagi tentang keadaan aset – asetnya yang tertinggal disana yaitu sebuah apatemen dan mobil sport pemberian ayahnya.Meskipun ibunya tetap memaksa agar dia tetap menyelesaikan pendidikannya disana karna Gaji ibunya sebagai pimpinan cabang bank masih bisa mencukupi keluarganya, namun Adit sudah terlanjur sakit hati akibat perbuatan sang ayah yang menjadi aib keluarga.

      Dalam sebuah perenungan yang panjang pada suatu malam, Adit mulai berfikir untuk pergi sejauh – jauhnya dan tak ingin kembali lagi. Akhirnya dengan menguatkan hati, Adit meminta maaf kepada ibunya dan Adik – adiknya dan meminta izin untuk menyepi sebentar di sebuah kampung, yang sebenarnya Adit juga tidak tahu harus kemana. Sampai pada suatu ketika Adit berteguh hati untuk tetap meninggalkan rumah meskipun ditentang keras oleh ibunya, niat Adit cuma satu ingin berusaha lagi dari nol dan tidak ingin menjadi beban bagi ibu dan adik – adiknya.


“Mungkin suatu saat nanti kalau aku sukses akan aku jemput ibu, Amelia, dan Ratna” fikirnya di dalam hati.


      Sekarang mereka tinggal disebuah rumah kontrakkan kecil yang agak jauh dari perkotaan agar wartawan yang masih mencari – cari tidak mengetahui keberadaan mereka dimana.


“Kamu mau menyepi kemana nak ?” tanya ibunya dengan sedih.


“Adit mau mencari ketenangan dulu bu, Adit tidak tahan lagi tinggal dikota ini, Adit malu bu” sambil meneteskan airmata.


“Sudahlah nak, ibu ridhoi kalau kamu mau pergi asal kamu jaga diri baik – baik yah dimanapun kamu berada, maafkan ibu kalau tidak bisa berbuat yang terbaik buat kalian” kata ibunya sambil memeluk tubuh Adit.


      Adit tidak bisa berkata – kata lagi airmatanya terus membasahi pipinya, lalu dia pamit mencium tangan ibunya dan mememluk kedua adiknya yang juga menangisi kepergiannya.

      Dengan membawa satu tas dan beberapa baju saja dan bekal uang seadanya, Adit pun bertekad untuk memulai kehidupan barunya yang sudah berubah 180 derajat.


“Adit berangkat dulu bu, doakan Adit” lalu Adit pun memulai langkah pertamanya sebagai Adit yang bukan siapa – siapa lagi.


***

      Hampir 2 minggu Adit terus berjalan tanpa tujuan yang pasti, dia tidur dari mesjid ke mesjid, pos ke pos, bahkan di pelataran rumah orang.

      Sampai suatu ketika, tibalah disuatu kampung kecil yang masih tidak terlalu banyak penghuninya Adit merasakan kehausan yang luar biasa tibalah dia disuatu rumah yang agak lumayan besar dikampung itu dan di depan rumah tersebut ada seorang gadis manis yang sedang menjemur pakaiannya.


“Maaf mba, boleh saya minta air saya kehausan” tanya Adit dengan tubuh yang mulai agak loyo.


      Gadis tersebut sebenarnya agak ketakutan dengan kedatangan seseorang yang asing dikampung tersebut. Setelah beberapa saat gadis tersebut pun masuk ke dalam rumahnya dan mengambilkan air untuk Adit sekaligus memanggil ayahnya yang seorang juragan bakso dikampung itu.


“Ini mas airnya” gadis itu menyerahkan segelas air putih bercampur es.


“Terima kasih mba” sambil tersenyum.


Tanpa basa basi lagi air es yang telah diberikan langsung diminum Adit dengan sekali tegukan.


“Kamu dari mana nak, sepertinya tidak dari kampung sini ?” tanya seorang bapak yang ada dibelakang gadis tersebut. Itu tidak lain adalah ayah sang gadis beliau bernama H.Baskara, juragan bakso dikampung tersebut beliau adalah seorang ahli pembuat bakso yang pernah bekerja menjadi TKI di Arab Saudi.


“Saya dari Banjarmasin pak”jawab Adit singkat.


“Lalu tujuanmu mau kemana nak ? apakah gerangan yang membawamu sampai ke tempat yang jauh ini ?”  tanya bapak itu lagi penuh dengan penasaran.

       
       Dengan mata berkaca – kaca Adit pun akhirnya menceritakan kejadian yang telah dialami oleh keluarganya, tidak ada yang ditutup – tutupi semua dibukanya dihadapan H.Baskara dan anak gadis beliau. Karena dia tidak tahu lagi harus mengadu dengan siapa.

      Cerita Adit tentang kejadian yang dialami oleh keluarganya membuat H. Baskara menjadi iba dan kasian kepadanya, lalu beliau menawarkan kepada Adit untuk tinggal beberapa waktu dirumahnya dan kalau Adit bersedia bisa ikut bekerja membantu pak H.Baskara mengolah bakso dirumah beliau.

      Adit pun menerima dengan senang hati tawaran dari H.Baskara tersebut karna selama ini dia tidak memiliki tujuan pasti, sehingga ada baiknya dia tinggal dan ikut bekerja dengan H.Baskara, di rumah tersebut H.Baskara tinggal bersama istri dan 2 anaknya, yaitu yang pertama bernama Aryo yang sekarang sudah bekerja disebuah perusahaan tambang batubara di daerah tersebut dan Rini adiknya yang baru saja lulus SMU dan 4 orang pegawai yang biasa membantu produksi bakso H.Baskara.

      Selama hampir 1 tahun tinggal dan bekerja disana, Adit dikenal sebagai pegawai yang rajin dan cerdas karna dia memang pernah bersekolah di luar negeri meskipun tidak sampai lulus, berkat dari bantuan Adit, penjualan bakso H.Baskara mengalami peningkatan yang cukup drastis, kalau dahulu H.Baskara hanya bisa membuka 1 buah warung bakso di depan rumahnya, sekarang beliau sudah bisa membuka 2 cabang lagi ditempat lainnya berkat dari tangan dingin Adit yang memanajemennya. H.Baskara semakin sayang dengan Adit yang sudah dianggap seperti anak sendiri dan berkat kontribusinya terhadap usaha beliau menjadi semakin maju.

      Sampai suatu ketika H. Baskara berniat ingin menjodohkan putrinya dengan Adit,dan tanpa fikir panjang Adit menyetujui perjodohan tersebut karna Rini selain gadis manis dia juga gadis yang shalehah.

      Merekapun akhirnya dinikahkan dihadapan keluarga besar H.Baskara dengan perayaan yang sederhana, karna Adit memintanya, agar perayaan tersebut tidak menarik perhatian dari banyak orang. Adit takut ada seorang yang mengetahui tentang asal usul dirinya apabila pesta tersebut dirayakan dengan meriah dan Adit masih merasa bahwa wartawan pasti masih mencari – cari tahu tentang dirinya yang tiba – tiba menghilang setelah kasus ayahnya. Menurut gosip yang beredar di kota, setelah ayahnya dimasukkan ke dalam penjara, Adit “sang pangeran” H. Abdulgafar salim, yang digadang – gadang akan menggantikan posisi ayahnya diperusahaan yang didirikan ayahnya diberitakan telah pergi keluar negeri. Berita yang membuat Adit sedikit geli ketika mengetahuinya.


***

      Setelah menikahi Rini, Adit meminta izin kepada H.Baskara untuk mencari penghidupan yang lebih baik bersama Rini dengan mencoba peruntungan dikampung lain dengan berjualan bakso pula. Meskipun dengan berat hati H.Baskara tetap mengizinkan mereka, karna beliau sudah sangat percaya kepada Adit yang bisa bertanggungjawab kepada Rini anak yang dititipkannya dan mereka berduapun akhirnya berangkat sebagai pasangan suami istri baru yang akan memulai petualangan baru di tanah yang baru.

      Itulah sedikit penggalan cerita dari kehidupan masa lalu Adit yang dahulu adalah seorang anak pengusaha kaya dan pejabat negeri ini. Cerita akhir yang bagaikan mimpi bagi Adit, sebenarnya kalau Tuhan ingin berkehendak maka terjadilah.

      Setelah beberapa saat mengingat dan merenungi kehidupan masa lalunya, Adit merasa mengantuk dan ingin segera tidur untuk menutup lembaran kehidupannya hari ini dan memulai kembali lembaran kehidupannya besok hari masih sebagai penjual bakso keliling.


“Sayang anak – anak sudah tidur, kamu mau aku buatkan kopi ?” tiba – tiba Rini membuyarkan lamunan tentang masa lalunya.


“Tidak usah sayang, aku sudah ngantuk kita tidur yuk”pinta Adit kepada istrinya sambil menggandeng Rini dan menciumnya dengan mesra.